Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Pria yang sudah pasrah dengan takdirnya itu hanya bisa mengungkapkan segala perasaannya kepada Yazid. Mata rentanya penuh dengan keriput, tampak berkaca-kaca setiap kali Yazid datang mengunjunginya. Dalam hati dia merindukan seseorang, putranya. Seandainya putranya seperti Yazid, dia tidak akan merasa terbuang dan sendirian.
“Yazid, kumohon, kau jangan mengundurkan diri dari perusahaannku. Aku ingin kau yang memegangnya. Aku percayakan semua padamu, hanya kau yang mampu. Aku yakin.”
Dengan penuh perasaan hari, Yazid berkata hati-hati kepada ria yang dihormatinya itu. Pria yang sudah menolong keluarganya dari kekurangan, meski ada ‘imbalan’ dibalik semuanya. Imbalan yang tak bisa diukur dengan materi.
“Tuan, Anda masih memiliki seorang putra yang berhak dengan semua ini. Saya tidak ingin mengambil yang bukan milik saya, Tuan.”
Mendengar penuturan pemuda itu, pria tua itu tak dapat menahan air matanya. Yazid adalah pemuda yang jujur, bukan penyuka kemewahan.
“Putraku sudah mati. Bagiku dia sudah mati. Meski jasadnya masih hidup.”
“Tuan… sebaiknya Anda jangan berkata demikian. Bagaimanapun juga, Tuan Marco lebih berhak daripada saya.”
“Yazid… aku melakukan semua ini karena dosa-dosaku di masa lalu. Aku berhutang nyawa pada ayahmu yang telah menyelamatkan hidupku dan istriku. Meskipun pada akhirnya, ayahmu pergi selamanya. Nyawanya menjadi taruhannya.”
Tangisnya tertahan,”Putraku Marco tidak peduli padaku. Harta telah menyilaukannya. Satu-satunya harapanku adalah dirimu. Kuharap kau mau menerima permintaanku ini, Yazid.”
“Akan saya pikirkan kembali, Tuan.”
Sebelum pergi, Yazid berpesan kepada seseorang,”Paman Gustavo, aku minta tolong, jaga baik-baik tuan besar. Aku mungkin tidak bisa seringkali mengunjunginya. Aku akan datang jika ada waktu.”
“Jangan khawatir, Nak. Tuan akan baik-baik saja.”
“Aku pergi dulu, Paman.”
Yazid meninggalkan pria berdarah Spanyol yang sudah lama bermukim di Marseille itu. Keluarganya juga berasal dari keluarga sederhana yang ditolong oleh sang tuan. Gustavo adalah salah seorang ajudan setianya.
***
“Karima!”
Gadis itu menghentikan langkah dan menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
“Leon?”
Pemuda itu tersenyum.”Iya, ” jawabnya singkat.
“Aku ingin mengembalikan ini,” dia mengambil sesuatu dari saku jaketnya yang tebal. Karima terbelalak tak percaya. Disodorkannya benda itu kepada Karima.
“Bagaimana bisa kau mendapatkan ini?” tanya Karima penasaran.
“Tempo hari tanpa sengaja barang ini terjatuh, dan aku memungutnya. Aku melihat ukiran dan tulisan dalam bahasa Berber.”
Sekali lagi Karima terbelalak. Dia kagum dengan Leon.
“Kau mengerti bahasa Berber?”
“Sedikit.”
“Bukankah kau bukan orang…”
Belum sempat Karima meneruskan kata-katanya. Pria itu sudah memotongnya terlebih dahulu.
“Ikutlah denganku.”
“Tapi, aku tidak terbiasa pergi dengan laki-laki. Ayahku melarangnya. Kecuali jika ada hubungan saudara ataupun keluarga.”
Pemuda itu terdiam. Dia kagum dengan Karima.
“Baiklah, jika begitu. Aku permisi.”
Leon berjalan meninggalkan Karima. Gadis itu kini merasa bersalah.
“Leon, tunggu!”
Leon menghentikan langkahnya.
“Maafkan aku. Jika ingin berbicara sebentar saja, aku tidak keberatan.”
“Baiklah. Kita berbicara di taman depan apartemenmu.”
“Boleh.”
Keduanya berjalan ke arah apartemen Karima tinggal. Di taman depan itu, mereka duduk agak berjauhan. Karima tetap menjaga pergaulannya dengan seorang pria sebelum menikah.
Leon mengeluarkan sesuatu dari jaket tebalnya.
“Kau ingat ini?” Dia mengeluarkan sebuah gantungan kunci berukiran khas Berber. Karima mencoba mengingatnya. Air matanya menggenang.
Karima seolah tidak percaya dengan yang dihadapinya. Pemuda dihadapannya itu mengingatkan dirinya pada sosok seorang anak laki-laki di masa kecilnya. Yazid Anouari. Teman seperjalanannya dulu, beberapa tahun lalu, ketika mereka sama-sama menghabiskan masa liburan di Ifrane.
Mereka pernah bertukar gantungan kunci dengan ukiran khas suku Berber. Di masa itu, sebelum akhirnya berpisah dalam jangka waktu lama. Dia mencoba menebak dan mengingatnya.
“Ya-Yaz-Zid? Benarkah ini dirimu?” Karima tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Bibirnya kelu. Dia terdiam tak tahu harus berkata-kata.
“Kau mengingatku?” Yazid tersenyum senang. Ada rasa bahagia menyeruak dalam hatinya.
Karima mengangguk.”Iya, tentu saja aku mengingatmu, Yazid. Meski kita hanya mengenal sebentar.”
“Alhamdulillah, jika kau masih mengingat dan mengenalku, Karima.”
“Bagaimana kau bisa yakin jika aku adalah Karima di masa kecil?”
“Dari gantungan kunci itu, aku tuliskan namamu di sana.”
Karima tersenyum, dia sangat bahagia Yazid menyimpan baik-baik barang yang tidak seberapa berharga itu, tetapi kini justru menjadi penghubung antara dia dan teman masa kecilnya.
Karima teringat dulu ketika menghabiskan liburan bersama ayah dan ibunya di Ifrane. Dari sana, ayahnya mengantarkan Yazid dan orang tuanya menuju bandara Rabat, karena harus segera kembali ke Malaga setelah menghabiskan masa liburan dan tahun ajaran baru di Ifrane.
“Meski hanya sebentar. Aku mengingatmu. Bagaimana kabar orang tuamu?”
“Ayah sudah meninggal, Karima.”Pemuda itu tertunduk sedih. Batin Karima tersentak. Jika dia kehilangan ibunya, Yazid kehilangan ayahnya.
“Ibuku juga sudah tiada, Yazid. Setelah tahun ajaran baru itu, ketika masuk sekolah.”
Keduanya berpandangan sejenak. Ada kesedihan dalam rongga hati mereka. Kehilangan orang-orang tercinta.
Karima buru-buru menundukkan kepalanya. Tak sanggup membalas tatapan tajam mata pemuda itu.
“Sudah lamakah kau tinggal di sini, Karima?”
“Iya”
“Ayahmu,”
“Ayah pindah kerja di sini, mendampingiku. Ada nenek juga.”
“Aku bersyukur kita bertemu di sini. Semua doa-doaku dikabulkan oleh Allah.”
Karima tersenyum, dalam hati dia pun bersyukur dipertemukan dengan sahabat singkatnya itu.
“Mengapa kau mengubah namamu menjadi Leon?”Karima bertanya dan menoleh ke arahnya.
Yazid mendesah panjang.
“Itu bukan kemauanku. Itu kemauan Tuan Leon.”
Pandangan matanya berubah sayu.
“Tuan Leon? Siapa dia?”
“Dia… atasan ayahku.”
“Lalu… “
Yazid terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak, kedua matanya mulai panas dan berair yang menggenang di pelupuk matanya.
“Ayahku meninggal karena menyelamatkan Tuan Leon dan istrinya, Nyonya Martha.” Yazid menceritakan peristiwa tragis yang menimpa ayahnya kepada Karima. Gadis itu ikut merasakan kesedihan sama seperti ketika dia kehilangan ibunya.
“Bagaimana ibumu, Yazid?”
“Ibu… sudah beberapa bulan ini dia sakit. Badannya lemah, dia terkena stroke, Karima.”
“Aku akan mengunjunginya bersama ayah dan nenekku. Di mana tempat tinggalmu?”
“Centre Rue #7-B. Tidak jauh dari tempatmu, bukan? Kita dekat, Karima,”
“Iya. Sekarang aku harus pulang.” Karima berdiri, sementara pemuda itu masa duduk dengan lesu.
“Baiklah, Karima. Aku harus kembali ke kantor.”
***
Hicham seolah tak percaya dengan cerita putrinya. Dia tidak menyangka jika akan kembali bertemu dengan keluarga Mehdi. Sahabat singkatnya beberapa tahun lalu.
“Dia tinggal tidak jauh dari sini, Ayah.”
“Iya. Ayah tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan keluarga Mehdi di sini.”











