Pagi itu ibu sedang menyiapkan sarapan dan bekal sekolah untuk Kocha. Tampak Kochi datang dengan wajah sedih.
Dia mendekati ibunya dan berkata, “Ibu, aku mau sekolah ikut Kakak.”
Ibu menatap muka Kochi dengan lembut. Dia mengangkat Kochi dan mendudukkannya di kursi. Dibelainya kepala Kochi.
“Kochi sayang. Tahun depan Kochi baru bisa masuk sekolah.”
“Kenapa, Bu?” protes Kochi dengan wajah cemberut.
“Kochi belum cukup umur.”
“Tidak! Aku sudah besar, Ibu. Lihatlah!” kata Kochi memperlihatkan perutnya yang gendut.
Ayah yang baru saja datang tertawa.
“Iya, Kochi memang sudah besar, Nak. Tapi umur Kochi belum cukup untuk masuk sekolah,” terang ayah, duduk di samping Kochi.
“Tidak, Ayah! Aku sudah umur empat. Aku mau ikut Kak Kocha,” kata Kochi. Tekadnya kuat ingin masuk sekolah.
Ayah dan ibu hanya menggelengkan kepala melihat Kochi yang begitu bersemangat ingin sekolah.
“Pokoknya aku mau ikut Kak Kocha,” kata Kochi sambil menangis. Dia melompat turun dan menuju kamarnya. Tak lama, Kochi mengambil tas kecil yang dibelikan kakek beberapa waktu lalu.
“Kochi, sabar dulu ya?” bujuk ibu dengan lembut.
“Iya, Kochi.Tunggu sampai tahun depan ya, Nak,” imbuh ayah tidak mau ketinggalan.
Kochi menggeleng. “ Tidak mau. Aku tidak mau menunggu, Ayah, Ibu. Aku mau sekarang ikut Kak Kocha sekolah. Boleh ya, Yah, Bu?” rengek Kochi dengan air mata berlinang.
Ayah dan ibu akhirnya mengalah. Mereka mengangguk.
“Baiklah, Kochi. Kochi boleh ikut Kak Kocha sekolah,” kata ayah, mengelus kepala Kochi.
Mata Kochi berbinar.
Dia berteriak kegirangan, “Horeee…! Terima kasih, Ayah.”
Kochi memeluk ayah dengan perasaan senang.
“Tapi Kochi harus janji jadi anak yang baik, ya. Tidak boleh ganggu Kak Kocha waktu belajar,”ibu Kochi mengingatkan.
“Siap, Bu.Aku tidak akan ganggu Kak Kocha,” kata Kochi kegirangan.
Kocha dan Kochi berangkat berdua menuju ke sekolah diantar ayah naik motor. Kochi sangat senang karena akhirnya dia bisa sekolah bersama kakaknya.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Kocha dan Kochi turun. Mereka mencium tangan ayah.
“Kochi, ingat tadi pesan ayah dan ibu, ya? Kochi masih ingat?” kata ayah Kochi.
Kochi mengangguk. “Iya, Ayah.Aku masih ingat. Aku tidak boleh nakal, tidak boleh merepotkan Kak Kochi, dan jadi anak yang baik,” katanya riang sambil berjingkrak.
Ayah tertawa melihat tingkah Kochi. “Anak pintar. Nah, sekarang ikut Kak Kocha masuk ya?”
“Iya, Ayah.”
Kocha dan Kochi masuk ke dalam kelas. Teman-teman Kocha yang melihat Kochi ikut bersekolah merasa senang karena Kochi anak yang mengasyikkan.
Mereka mengajak Kochi bermain di halaman sekolah. Sesekali Kochi terjatuh saat mengejar teman-temannya yang berlarian, tetapi Kochi pantang menangis. Dia sangat suka bermain bersama mereka.
Bel berbunyi.
Anak-anak segera masuk kelas. Di dalam kelas ada ibu guru berdiri dan memberi salam. Semua anak menjawab dengan riang. Bu guru melihat Kochi dan mendekatinya. Kochi sedikit takut, tetapi bu guru itu ramah. Kochi akhirnya tidak takut lagi.
“Namamu Kochi, bukan?” tanya Bu Guru.
“I-iya, Bu,” jawab Kochi dengan sedikit menunduk. Takut.
“Tidak usah takut, Kochi. Ibu guru senang Kochi mau bersekolah di sini.”
Kochi mengangguk. Dia tersenyum melihat ibu guru. Kochi mengikuti pelajaran dengan tertib. Ia bahkan ikut menulis bersama teman-teman Kocha yang lain. Bu guru sangat suka dengan Kochi.
Sesampainya di rumah, Kochi bercerita bahwa tadi di sekolah bermain dengan banyak teman. Dia juga bercerita kalau jatuh tapi tidak menangis. Ayah dan ibu tertawa mendengar cerita Kochi.











