Renungan Kristiani
Ingin Hidup dalam Karunia Tuhan? Jangan Pelihara Kepahitan terhadap Apa pun atau Siapa pun!
Renungan kali ini mungkin juga berlaku bukan hanya untuk orang Kristen saja. Siapa pun boleh membacanya, siapa tahu ada hati yang terketuk untuk berperilaku lebih baik.
Jujur, khotbah yang disampaikan sore kemarin menyentak hati saya. Kenapa? Sebagai manusia normal yang kerap mengedepankan hati, kita tanpa sadar memelihara kepahitan di dalam hidup kita.
Setiap kali teringat seseorang atau kejadian yang menyakitkan (trauma), rasa benci seketika menguasai pikiran dan perasaan kita. Meski kejadian itu telah lama berlalu, jejaknya tak mau hilang, dan terus muncul tanpa kita sadari.
Mengapa kepahitan itu bisa muncul menguasai seseorang?
Hal tersebut dibahas di dalam Ibrani 11:15. Begini isinya “Jagalah supaya jangan ada seseorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”
Ehm, bagaimana penjelasannya? Mengapa bisa begitu?
Begini, menjauh dari kasih karunia Tuhan artinya menjauh dari Tuhan, dimulai dari:
- Hidup yang hanya mengandalkan pengertian diri sendiri
- Hidup menuruti hawa napsu kedagingan
- Kehilangan kesadaran akan kasih dan pengampunan Tuhan
Hidup jauh dari Tuhan akan menyebabkan hati kita menjadi kering dan keras, kondisi itulah yang akan mengakibatkan tumbuhnya akar pahit di dalam kehidupan kita. Akar pahit dimulai dari hal-hal kecil seperti kekecewaan, sakit hati, iri hati, penolakan, juga bisa berasal dari luka masa lalu.
Lihatlah, saya rasa manusia normal pasti mengalami hal-hal tersebut di atas, kan?
Misalnya saja, manusia kerap membanding-bandingkan orang. Misalnya orang tua yang sering membandingkan anaknya dengan anak orang lain, atau bahkan anak kandung yang lain.
“Lihat tuh, kakakmu. Rajin belajar, patuh sama orang tua. Nggak nyusahin kayak kamu. Lihat juga tuh, Amir anak Pak Samad, biar miskin tapi selalu juara kelas. Kamu? Bisa naik kelas aja, udah bagus.”
Tanpa disadari, anak yang kerap diperlakukan seperti itu akan terluka batinnya dan terus memelihara rasa sakit itu, meski jika ditanya dia tak akan mengaku bahwa ada rasa benci terhadap orang tua. Akar pahit itu mengendap di alam bawah sadar tanpa disadari olehnya.
Namun, efeknya bisa terlihat di dalam keseharian hidupnya. Dia mungkin mengalami kecemasan akut, imsomnia yang berlarut-larut, stres, bahkan mungkin depresi. Bahkan saat sudah menjalani puluhan sesi koseling dengan psikiater sekali pun, masalahnya tak juga hilang.
Ada satu kesaksian dari hamba Tuhan yang cukup membuat saya ikut berpikir. Begini kesaksiannya:
“Hamba Tuhan itu sempat mengalami mati suri. Dia diberi kesempatan untuk melihat isi surga dan neraka. Betapa kagetnya dia, karena mendapati banyak orang-orang yang dia rasa baik, ada di sana, termasuk ibu mertuanya.
Lalu, dia bertanya pada Tuhan, “Tuhan, kenapa ibu mertuaku ada di neraka? Bukankah dia orang baik?”
Tuhan menjawab, “Coba kau ingat-ingat, apa saja yang pernah dia katakan tentang pengampunan?”
Dia pun teringat bahwa sang ibu mertua seringkali berucap, “Semua orang yang pernah berbuat salah padaku telah aku ampuni, kecuali ayah mertuamu. Aku terlalu sakit hati padanya, sampai mati pun, aku tak akan pernah bisa mengampuninya.”
Ternyata, akar pahit ternyata bisa membawa kita ke neraka! Ini hal yang perlu kita renungkan, sudahkah kita mengampuni orang yang pernah menyakiti kita?
Mari kita lanjutkan ….
Jika belum juga menemukan sumber penyebab tumbuhnya akar pahit, maka seperti yang Alkitab katakan, maka akan timbul kerusuhan dan juga mencemarkan banyak orang.
Apa maksudnya?
- Menimbulkan kerusuhan artinya kepahitan itu merusak hubungan dengan sesama dan menciptakan konflik berkepanjangan
- Mencemarkan banyak orang artinya kepahitan itu sangat mungkin menular dan menyebarkan roh negatif dan roh kebencian
Akar pahit yang terus bertumbuh bisa membuat orang lain yang mungkin tak ada kaitannya dengan masalah kita, jadi ikut terseret-seret sehingga menjadi konflik yang meluas.
Contohnya, missal kita benci seseorang. Saking bencinya, kita menyebarkan rumor tentang orang tersebut. Kita mencari pembenaran dari orang lain bahwa orang itu memang ‘jahat’. Lalu orang-orang lain yang tak paham situasi sebenarnya jadi ikut-ikutan membenci padahal mereka tak punya masalah apa-apa.
Duh, kok, jadinya kita jahat, ya? Lalu bagaimana cara mengatasi agar hal itu jangan sampai terjadi?
Ada 3 hal yang bisa kita lakukan, yaitu:
1. Kita harus belajar menerima apa yang tak bisa diubah
Kita harus belajar menerima bahwa ada banyak hal di dalam kehidupan ini yang tak bisa diubah, sekuat apa pun kita menghindar atau menolaknya.
Misalnya, kita tak bisa mengubah masa lalu. Sesuatu yang sudah terjadi jelas tak bisa kita batalkan.
Contohnya, gagal sekolah, terpaksa DO dengan alasan apa pun. Bisa juga karena salah mengambil keputusan, misal salah pilih jurusan kuliah atau bahkan salah pilih suami/istri.
Lebih jauh, kita juga tak mungkin bisa mengubah keputusan Tuhan, misalnya tiba-tiba kita kehilangan anggota keluarga kita.
Kita juga tak bisa mengubah keputusan pihak-pihak di atas kita. Tiba-tiba dimutasi ke tempat yang kita tak suka, atau lebih apes lagi, di-PHK. Jelas, yang seperti itu di luar kendali kita sebagai manusia. Ya, kan?
Kita juga tak bisa menghindari orang-orang atau keadaan-keadaan yang menyebabkan timbulnya gesekan dan luka di hati kita. Sering kan, kita bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan, yang memperlakukan kita dengan seenak udelnya.
Lalu, bagaimana menyikapinya?
Respons yang bisa kita ambil:
- Jangan memaksakan kehendak sendiri yang justru akan semakin menyebabkan kita semakin tenggelam dalam kepahitan (bitter)
- Serahkan diri kepada kehendak Tuhan, biarkan Tuhan yang bekerja dalam kasih karunianya (better)
Jadi, cara kita mengatasi kepahitan adalah dengan belajar menerima sesuatu yang tidak dapat diubah karena kita mengerti bahwa itulah kehendak Tuhan untuk kita.
Kita teladani sikap Yesus Kristus yang menaklukkan diri-Nya kepada kehendak Bapa dengan doa-Nya di Taman Getsemani: “Bukanlah kehendak-ku, tetapi kehendak-Mu yang terjadi!”
2. Kita harus belajar untuk mengecilkankan masalah dan meninggikan Tuhan
Masalah akan terus ada jika kita terus mengingatnya apalagi berkeluh kesah tentang hal itu, juga akan semakin besar saat kita sebar rasa sakit itu dengan menceritakannya kepada banyak orang.
Bukan berarti kita harus mengabaikan masalah yang ada, tidak. Namun, ketika kita mengecilkan masalah, dan memilih untuk menyerahkan semuanya kepada Tuhan lewat doa dan ucapan syukur, Tuhan akan mengambil alih masalah tersebut. Berserah pada-Nya, ikhlaskan semua kesulitan dan masalah.
3. Kita harus belajar fokus terhadap apa yang masih ada, bukan terhadap yang sudah hilang
Di atas sudah dibahas, bahwa kita bisa kehilangan orang yang kita kasihi, pekerjaan, bisnis, harta, peluang, atau apa pun yang kita miliki, termasuk kesehatan yang kerap dilupakan orang.
Bagaimana seharusnya kita merespon kehilangan? Apakah kita memilih untuk berjalan bersama Tuhan atau terus terjebak di dalam kepahitan dan keputusasaan?
Mari kita lihat poin-poinnya.
- Fokus terhadap apa yang masih ada adalah sikap iman, bukan pengabaian rasa sakit
Hal itu tertulis di dalam Mazmur 56:9 yang berbunyi: “Sengsaraku, Engkahlah yang menghitung-hitung, air mataku Kau taruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kau daftarkan?”
Menangislah di hadapan Tuhan karena Dia mengerti arti tetesan air mata kita. Tuhan tak akan pernah mengabaikan air mata yang menetes dari mata umat-Nya, tetapi Dia juga ingin kita tidak terus berada di dalam kesedihan.
Tuhan ingin kita bangkit dan melihat apa yang masih Dia sediakan. Kita diajarkan untuk percaya bahwa Tuhan belum selesai bekerja di dalam hidup kita. Kisah kita belum usai selama kita masih hidup, selalu akan ada pilihan yang memulihkan keadaan.
Contoh kejadian ada pada peristiwa saat Yesus dan murid-muridnya membagikan 5 roti dan 2 ikan kepada 5 ribu orang, malah masih sisa 12 bakul. Ajaib, bukan?
Prinsipnya adalah ucapan syukur atas sesuatu yang masih ada akan membuka jalan bagi Tuhan untuk melipatgandakannya.
- Jika fokus terhadap yang sudah hilang, seringkali hal itu mencuri damai dan menutup hati terhadap perbuatan Tuhan yang Ajaib di dalam hidup kita ke depannya
Contoh kejadian tercatat di dalam Alkitab, Rut 1:20 yang berbunyi: “Jangan sebut aku Naomi (artinya menyenangkan), sebutlah aku Mara (pahit), sebab Yang Mahakuasa telah membuat aku sangat pahit.”
Di dalam kisah itu, Naomi merasa pahit karena kehilangan suami dan anaknya. Dia melupakan Rut, menantunya yang kelak bukan hanya menghidupinya tetapi juga mengerjakan suatu pekerjaan besar dari Tuhan, yaitu menjadi nenek buyut Daud.
- Fokus terhadap yang masih ada akanz membuka pintu untuk penyembuhan dan pengharapan
Saat kehilangan sesuatu, kita justru sering lupa bahwa masih ada sesuatu yang lain di dalam genggaman tangan kita. Kita masih punya keluarga, teman, kesehatan, dan celah kesempatan untuk bangkit. Semu aitu cukup menjadi modal untuk kita memulai karya baru lagi.
Seperti ada tertulis di dalam Yesaya 43:19 yang bunyinya: “Lihat, Aku hendak membuat seuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”
Penutup
Kepahitan itu seperti akar kecil yang tersembunyi dan menjadi silent killer yang paling dahsyat.
Kalau kita membiarkannya, kepahitan akan merusak segalanya. Dia akan:
- Merusak hubungan kita dengan Tuhan dan sesama (Rohani)
- Merusak kesehatan mental (jiwa)
- Merusak kesehatan jasmani (tubuh)
Jadi, apa pilihanmu ketika berhadapan dengan segala kepahitan?
Palembang, 5 Mei 2024










2 Komentar
Betul, pernah mengalami dan lega sekali setelah melepaskan.
Melepas keterikatan pada kepahitan itu memang melegakan. Membenci seseorang tak hanya menyakiti orang tersebut, tapi juga menyakiti hati dan pikiran kita sendiri. Semoga aku juga mampu melepas semuanya. Amin.