ketika di luar,
aku berserakan; merasa banyak
tumbuhlah pohon pengakuan
berdahan-dahan daun lebat
di sana jumawa menggema di dada
nyala angkuh membakar nurani
seperti air keras yang beriak
memercik warna legam
aku berjalan ke depan pagar
daun-daun merah berguguran mengering
terbakar oleh besi-besi pagar
beberapa kepongahan melayu perlahan
ku buka pagar,
berjalan ke serambinya
dahan-dahan patah
luruh kesombongan durjana
diriku kesakitan
jiwaku merana,
karena kerak sombong belum terkikis
seperti tanah gersang di bawah terik
ku buka pintu itu,
terdengar semakin sunyi
rasa keakuanku satu per satu terhempas
jiwaku bertekuk lutut gemetar
meski lelah,
ku berjalan menuju kamar
tempat rahasia dalam rahasia
dengan segala tanda tanya
ku buka tirai,
ada Dia pemilik semesta
yang segalanya adalah Dia bukan aku
terbunuhlah kejumawaan diri
di dalamnya hanya aku sendiri
tanpa berkata apa-apa,
tanpa diksi
hanya alunan aku dengan-Nya; kosong
Cimahi, 9 Mei 2025











