Arya Daringin menatap tubuh nirbusana di depannya saat berjalan mengitari ruangan memungut potongan pakaiannya yang tergeletak di sekeliling ruangan.
“Gusti Pangeran begitu cepat selesai hari ini. Apakah Gusti yakin tidak ada yang mengganggu perasaan Gusti?”
Arya Daringin mengabaikannya saat perempuan itu kembali ke tempat tidur di sampingnya, menekan bukit kembar hangat ke tubuhnya.
Dia tidak merasakan apa-apa karena lelah dan marah secara bersamaan.
“Ya, aku datang lebih awal dari yang aku harapkan, tetapi sebenarnya, pikiranku ada di tempat lain.”
Apa yang merasuki Keti? Cara dia bertindak pagi tadi sangat aneh. Keti bahkan tidak mengizinkan dia menyentuhnya. Yang lebih buruk lagi, Keti mengungkit-ungkit pernikahannya! Pernikahannya!
Apa urusannya dengan pernikahanku? Mengapa dia menyarankanku untuk menjadi suami yang setia dan bahwa dia tidak ingin bertemu lagi denganku?
Arya Daringin sangat murka. Syukurlah Keti bukan satu-satunya perempuan! Sayang sekali. Keti adalah salah satu sedikit wanita yang mampu menuntaskan birahinya…
Dia merasakan bibir Sarinten merayap naik menyusuri kakinya hingga ke pangkal paha, membuatnya bergidik. Namun tak terjadi apa-apa. Tidak ada api yang memantik hasratnya. Gairahnya telah hilang. Marah dan bingung pada saat bersamaan. Waktu terasa lebih lambat dari biasanya.
Sarinten mendaki naik ke dadanya, mengirim getaran geli ke tulang belakang, tapi dia masih marah. Dia tak lagi menginginkan Sarinten.
“Gusti Pangeran, hamba takut setiap kali hamba pergi meninggalkan tempat ini,” ucap Sarinten mendesah.
“Mengapa?” Arya bertanya dengan lesu.
Sarinten mengangkat bahu, membelai daun telinga kiri Arya Daringin.
“Mungkin, karena hamba takut akan kepergok dengan istri Gusti Pangeran suatu saat.”
Oh tidak! Jangan tentang perempuan itu lagi!
“Dengar, aku sudah pernah bilang dia tidak punya masalah aku bersama perempuan lain. Kamu tidak akan melihatnya, bahkan jika kamu bertemu dengannya, dia tidak akan menimbulkan masalah.”
“Hamba tahu, Gusti. Hamba hanya mendapat perasaan aneh ini setiap kali saya keluar dari kamar ini.”
“Kamu belum pernah bertemu dengannya selama ini, bukan? Kamu tidak akan bertemu dengannya hari ini dan juga besok, mengerti?”
Sarinten menghela napas dan mengangguk.
“Sebaiknya kamu segera pergi, aku akan menyusul.”
Sarinten tersenyum. Bukannya bangkit, malah menekan tubuhnya untuk menyatu dengan Arya Daringin yang menghindar kesal.
“Pulanglah, Sarinten!” katanya dingin.
Arya Daringin melihat ekspresi terluka di wajah Sarinten, tapi perempuan itu tidak berkata apa-apa. Dia turun dari tempat tidur, lalu mulai mengenakan pakaiannya dan berdandan dengan tenang.
Dia tahu bahwa dia telah berbuiat kasar pada Sarinten, tetapi dia sendiri lelah dan marah, dan tidak punya waktu untuk menyenangkan hati siapa pun.
Arya Daringin lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat air membasahi kepalanya, mimpinya semalam kembali terbayang.
Dia berada di tengah hutan yang rindang dan gelap. Di mana-mana berkabut dan lembab. Tidak ada manusia yang terlihat.
Lalu dia melihatnya, seperti sebelum-sebelumnya. Perempuan mengenakan gaun panjang putih berdiri jauh darinya.
Tiba-tiba ada begitu banyak perempuan itu, rasanya seperti melihatnya dalam seribu cermin. Masing-masing memakai pakaian putih. Bahkan rambutnya pun ditutupi kerudung putih.
Punggung mereka menghadap ke arahnya dan mereka tampak sangat terburu-buru.
Pada awalnya, Arya Daringin acuh tak acuh saat mereka mulai memudar satu per satu, sampai akhirnya tinggal hanya seorang saja.
Perempuan itu diam, membuat Arya Daringin penasaran. Maka dia mendekatinya.
Perempuan dia berbalik. Dia perhatikan kerudungnya menutupi dahinya serta hidungnya, bibirnya dan seluruh tubuhnya. Hanya matanya yang terbuka. Warnanya gelap tapi bukan warna yang mudah digambarkan.
Dia mengedipkan mata dan kecantikannya sesaat tertutup oleh bulu matanya yang panjang dan lembut alami. Pada saat dia membuka matanya lagi, Arya Daringin belum pulih dari tatapannya yang dalam. Tatapan perempuan yang putus asa, ketakutan, dan penuh hasrat.
Arya Daringin sangat ingin memeluknya, tetapi setiap kali dia mencoba, tubuh perempuan itu menguap dan kemudian dia terbangun…
Saat Arya Daringin membalas tatapan Ghea hari itu, dia merasakan tatapan yang sama seperti gadis dalam mimpinya. Keputusasaan, ketakutan dan hasrat yang sama. Mata yang sama.
Dia merasa kehilangan akal sehat. Dia mendengar pintu terbuka. Sarinten pasti sangat marah padanya. Dia harus menebus kesalahan. Lagipula sudah larut malam, dia harus mengantarkan perempuan itu ke kereta.
Arya Daringin menghela napas dan meraih handuk dan berjalan ke pintu. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui pintu itu terkunci dari luar.
Sarinten tak mungkin mengunciku di sini!
Dia mencoba membuka pintu, dan juga sambil memanggil-manggil. Tidak ada jawaban dari luar.
Dengan marah dia menggedor pintu sekuat tenaga. Berharap salah satu penjaga di luar mendengarnya.
***
Rencana Ghea berjalan dengan lancar. Semua penjaga berada di luar rumah, tertidur tak sadarkan diri karena ulahnya. Mereka benar-benar terkejut ketika Ghea mengadakan pesta minum untuk mereka dan dia memastikan mereka semua berada di luar.
Ghea tidak ingin penjaga melihatnya ketika dia berbicara dengan gundik tuan mereka. Dia menyuruh seorang dayangnya untuk menyanyi dan menari menghibur mereka dan memerintahkan pembantu dan dayang-dayang lain untuk bergabung ke pesta.
Tinggallah dia satu-satunya di dalam, menunggu ‘tamu’nya keluar, yang menurut perhitungannya tak lama lagi.
Rumah besar itu dibangun sedemikian rupa sehingga siapa pun yang akan keluar harus melewati ruang makan terlebih dahulu dan di sanalah dia menunggu.
Terdengar langkah kaki menuruni tangga di sayap barat.
Show time, pikirnya.
Ketika kaki Sarinten menginjak lantai ruang makan tepat di sebelah kanan Ghea, terdengar tarikan napas terkesiap. Ghea berbalik dari posisi duduknya.
Sarinten tampak pucat, kurus dengan tubuh kecil mungil. Kembennya terlalu turun, menampakkan belahan dada.
Rupanya suamiku sangat terobsesi dengan belahan dada, kata Ghea dalam hati.
Sarinten memegang dompetnya erat-erat saat berdiri membeku, seolah-olah dia baru saja melihat malaikat pencabut nyawa.
Dalam hatinya, Ghea tertawa terbahak-bahak saat dia menikmati tampang Sarinten yang ketakutan setengah mati. Dan kemudian Lastri datang tepat di belakang Sarinten dan berjalan ke arah Ghea.
“Gusti Pangeran terkunci di kamarnya, Gusti Putri,” Lastri berbisik padanya.
Ghea tersenyum puas dan kemudian memberi isyarat pada Sarinten untuk duduk.
“Lastri, kamu sudah kenalan dengan tamu kita ini? Namanya Sarinten.”
Lastri duduk dan mereka berdua mengamati gadis itu.
“Wah! Dia sangat cantik dan langsing, Gusti Putri. Tapi kenapa wajahnya begitu pucat seperti habis melihat hantu?”
“Itu juga membuatku bingung, sayangku,” jawab Ghea, menyesap teh melati dari cangkirnya.
“Duduklah, Sarinten. Aku tidak akan menyakitimu,” kata Ghea dengan manis sebelum menambahkan, “belum.”
Gadis itu bergerak kaku mendekat saat Lastri menarik kursi untuknya.
Ghea kembali tersenyum manis. “Tuangkan dia minum Lastri dan layani dia. Dia terlihat kelaparan. Mungkin terlalu banyak bergelut di tempat tidur dan tidak disediakan makan minum. Suamiku bukan tuan rumah yang baik.”
“Baik, dengan senang hati, Gusti Putri,” jawab Lastri, bersedekap menyatukan kedua telapak tangannya. Kemudian dia mulai melayani jamuan untuk bertiga.
Ghea menahan tawanya dengan susah payah. Yang dia khawatirkan hanya satu: gadis di depannya itu akan terkena serangan jantung.
Gelak tawa orang-orang yang berpesta di luar semakin keras dan dia tersenyum.
“Berapa umurmu?” tanyanya sambil mengunyah makanan.
“Delapan… delapan belas… Gusti Putri.”
“Masih sangat muda. Apakah kamu lahir di sini?”
Sarinten mengangguk tanpa suara.
“Ayo, makanlah.”
Dengan tangan gemetar, Sarinten menyendok nasi dan ayam ke dalam piring dan menyuap dengan tangan ke mulutnya.
“Enak?”
Dia mengangguk.
“Jadi, katakan padaku, sudah berapa lama kamu tidur dengan suamiku?”
Sarinten tersentak, nasi menyembur dari mulutnya dan dia mulai menangis.
Oh, sial!










