Home / Non Fiksi / Kehidupan Kristen: Kematian, Pantangkah Dibicarakan?

Kehidupan Kristen: Kematian, Pantangkah Dibicarakan?

Kematian (Vecteezy)
5

Kematian, satu hal yang paling tabu diperbincangkan. Amit-amit, kata banyak orang. Jauh-jauhlah, aku masih mau hidup seribu tahun lagi, seperti bunyi sebuah lirik dalam puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar. Akan tetapi satu hal yang pasti; kematian alias maut alias ajal akan menimpa semua orang.

Kematian tidak pandang usia. Tidak harus tua, sakit, atau menderita dulu sebelum mati. Semua orang; muda-tua, sehat-sakit, kaya-miskin, laki-laki-perempuan akan mati. Bukan menakut-nakuti, mati bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan metode apa saja. Seneca pernah menulis sebuah buku berjudul ‘How to Die’, alias bagaimana ‘cara’ untuk mati. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti apalagi untuk melakukan (maaf) bunuh diri, melainkan agar kita mau berkontemplasi mengenai maut dan kematian. Hidup tidak abadi, tidak untuk selamanya kita ada di dunia ini, karena itu kematian perlu juga dipikirkan dan ‘dipersiapkan’. Hargai setiap momen kehidupan karena tidak akan pernah terulang lagi.

Kematian juga pernah dialami oleh Yesus Kristus. Lho, bukankah Dia Allah? Kok bisa, Yesus (harus/telah) mati? Barangkali itu yang sering dipertanyakan orang-orang, bahkan yang sudah mengenal dan mengakuinya sebagai bagian dari Tritunggal. Akibatnya, jadi ragu pada keilahian-Nya. Yesus mati karena Ia harus membuka jalan bagi manusia menuju keselamatan. Jika Ia tetap menjadi Allah yang tidak bisa mati, jalan itu takkan pernah terbuka. Ibarat ingin menyelamatkan kawanan anak ayam, seseorang harus menjadi seekor ‘induk ayam’ juga. Akan tetapi bukan itu yang ingin penulis bahas saat ini, melainkan kematian ‘manusia biasa’ seperti kita semua.

Kematian yang sedari dulu sangat menakutkan juga berusaha dihindari-diperlambat tenggatnya oleh manusia dengan berbagai cara. Menjaga kesehatan-berat badan, makan-minum bergizi, minum vitamin-suplemen kesehatan, berusaha berolahraga, beristirahat-tidur cukup. Apalagi menjaga agar tetap terlihat dan terkesan awet muda, menyamarkan kerutan hingga usia. Apakah semua usaha (habis-habisan) itu cukup? Tidak akan pernah. Siapapun akan mati (pada akhirnya). Sebuah keniscayaan, hal yang pasti. Hanya saja kita tidak tahu kapan, dengan cara apa/bagaimana, dan mengapa.

Perbincangan tentang kematian cepat-lambat perlu dilakukan karena:

  1. Semua orang yang kita kasihi (keluarga, pasangan, anak-anak) tidak akan selamanya dapat kita dampingi. Mereka tidak hanya butuh warisan harta kita, melainkan kenangan dan wejangan indah. Apa sudah Anda beri sebagai warisan masa depan itu? Bukan asuransi, bukan rumah atau emas-perak, melainkan apa yang kita lakukan dan katakan saat ini.
  2. Kematian menimbulkan duka lara, kerinduan yang takkan mudah pupus, penyesalan hingga mungkin trauma berkepanjangan. Jangankan kematian seseorang, bahkan kematian hewan peliharaan saja bisa menimbulkan luka hati luar biasa yang barangkali sukar dimengerti orang lain. Akan tetapi, Yesus yang sudah pernah melewati gerbang kerajaan maut/kematian lalu hidup kembali, memberikan harapan bagi orang-orang percaya. Kita belum tahu kapan dan bagaimana cara-Nya, akan tetapi kelak semua air mata dan penderitaan akan dihapuskan. Tidak akan ada lagi maut dan kematian.
  3. Kematian bagi orang-orang percaya tidak akan lagi jadi hal menakutkan apabila tidak ditakuti. Tidak ditakuti bukan lantas petantang-petenteng, berani melakukan hal-hal apa saja seperti uji nyali, bersikap masa bodoh atau sembrono, sok-sokan, nekat dan sebagainya. Tidak takut pada kematian di sini berarti mempercayakan nyawa kita sepenuhnya hanya kepada Tuhan. Tidak takut pada kematian juga berarti meyakini bahwa Dia yang bersama kita jauh lebih besar daripada segala kekuatan-kuasa apapun di bumi maupun di bawah bumi.

Kesimpulan: Membicarakan tentang kematian kepada orang-orang terkasih bukan lagi hal tabu/sebuah pantangan, apalagi sebuah firasat buruk semata-mata, melainkan bisa dilakukan kapan saja kita siap dengan penuh kontemplasi dan harapan. Hidup di dunia tidak untuk selamanya, akan tetapi ada harapan bagi orang-orang percaya. Amin.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.

Tangerang, 8 Mei 2025

Wiselovehope

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Antologi KompaK’O

Random image