Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Minta Maaf dan Pengampunan: Mengapa Dibutuhkan?

Kehidupan Kristen: Minta Maaf dan Pengampunan: Mengapa Dibutuhkan?

Sorry (Music Grotto)
4

Seringkali kita sebagai manusia bersalah, namun kita enggan minta maaf. Sebaliknya, terasa berat juga untuk bisa mengampuni/memaafkan. Bermacam-macam alasan dikemukakan. Karena saya lebih tua daripada dia, jadi dialah yang harus minta maaf duluan ke saya. Atau, karena dia yang mulai, saya enggan duluan. Atau karena kata maaf dianggap tidak sepenting kata tolong dan terima kasih. Padahal kata maaf sama pentingnya dengan dua kata-kata ajaib yang baru saja penulis terakan.

Kata maaf sering disebutkan saat hendak melakukan sesuatu misalnya ingin menyeruak kerumunan hingga jika terlambat menepati janji. Kata maaf juga sering dituntut orang tua saat anak melakukan kesalahan. Seringkali hanya dengan mengucap maaf, seseorang mengira ia sudah dimaafkan. Juga hanya dengan mengangguk/mengiyakan, ia mengira maaf sudah diberikan. Saking seringnya diucapkan, kata maaf rentan jadi usang.

Inilah beberapa pengingat indah mengenai kata maaf.

  1. Kata maaf atau mohon ampun lebih dari sekadar kalimat ‘excuse me’, ‘I beg your pardon’, ‘I’m sorry’, ‘please forgive me’ dan lain sebagainya. Sepatah kata maaf diucapkan atau pengampunan diberikan dengan tulus mampu membukakan pintu-pintu berkat yang selama ini tertutup rapat. Bisa pula ‘menghapuskan segala dosa’ (pengampunan dari Tuhan) apalagi ‘hanya’ akar pahit, trauma masa lalu, luka batin dan lain sebagainya. Syaratnya hanya satu: ucapkan atau pintalah maaf dengan tulus hati. Maafkanlah sesama kita dengan tulus juga. Dalam Doa Bapa Kami, kita memohon agar Tuhan mengampuni seperti kita mengampuni orang yang bersalah pada kita.
  2. Bagaimana mengucapkan kata maaf atau minta maaf dengan tulus? Tidak hanya karena ada maunya saja. Tidak hanya karena tradisi atau demi momen/seremonial saja, jabat tangan, ucapkan satu-dua kata lalu selesai. Bukan hanya karena suatu tujuan atau hal menguntungkan (menghindari hukuman, mengharapkan imbalan, menutup-nutupi kelemahan dan lain sebagainya). Dengan tulus berarti setelah kesalahan dimaafkan, tidak ada lagi sisa ‘bara api’ (kemarahan, kekesalan, kekecewaan, dendam, ancaman dan lain-lain).
  3. Seringkali kita lupa menyadari jika pertemuan dengan seorang manusia, entah sahabat atau lawan sekalipun, bisa jadi yang terakhir. Kata maaf lupa diucap karena kita sibuk mengucapkan good bye, see you soon, farewell, terima kasih, sampai jumpa, sampai bertemu lagi, selamat jalan, selamat tinggal, hati-hati. Kata maaf yang terlewatkan seringkali disesali jauh belakangan karena usia manusia tak ada yang tahu. Kesempatan itu mungkin takkan pernah ada. Entah kita sendiri duluan dipanggil Tuhan atau seseorang yang memiliki masalah dengan kita itu. Ucapkanlah maaf sesering dan sesegera mungkin mumpung usia masih dikandung badan. Terlambat, sesal kemudian tiada berguna.
  4. Pengampunan saja ditawarkan/dikaruniakan Tuhan kepada semua orang berdosa, apalagi kita sesama manusia yang masih banyak melakukan dosa. Barangkali masih sering kita anggap remeh dan receh; Halah, ngomong maaf doang ‘mah gampang. Atau, jika semua bisa dengan minta maaf, buat apa ada polisi? Dan sebagainya. Padahal memberi dan meminta maaf selalu diketahui dan dinilai oleh Tuhan, meskipun hanya dalam hati dan doa terlebih dahulu, sebelum berjumpa. Seperti halnya sang anak bungsu yang hilang dalam perumpamaan Yesus, dalam penyesalannya (yang ia rasa terlambat) akhirnya ia kembali pada keluarganya dan bersiap-siap untuk segala kemungkinan. Entah bapanya akan menerima atau tidak, kakaknya/ anak sulung mau menerima atau tidak, yang penting ia minta ampun kepada bapanya. Ternyata sang bapa menerima kembali anaknya dengan tangan terbuka, meskipun sang kakak malah marah-marah dan membandingkan diri dengan si adik ‘yang berdosa besar’ itu. Sang bapa juga tidak balik marah, melainkan menerangkan kepada anak sulungnya jika menerima/memaafkan adalah hal yang baik.

Kesimpulan: Hendaklah kita berani/rela memberikan maaf, seberat/sesukar apapun itu. Berani/rela meminta maaf apabila merasa bersalah tanpa merasa gengsi atau segan. Maaf/pengampunan ibarat kunci pembuka pintu sorga, ucapan sederhana dan cuma-cuma, namun bermakna dahsyat luar biasa.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.

Tangerang, 13 Mei 2025

Wiselovehope

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image