Jika dedaunan kelak menguning dan layu
Ku hanya ingin rasaku masih bersemayam di kalbu
Menunggu semesta hingga ikhlaskan dirimu bersandar di dermaga cintaku
Selamanya …
Hingga surga menelan persembahan hati kita di penghujung waktu
Yang merindumu,
Andra
***
Puisi itu begitu syahdu. Terbaca menyayat rindu meski hanya sejenak singgah. Namun sayang, Reyna tak bisa membalas untaian indah itu dengan pesan yang sama, karena faktanya dia sudah dipersunting Rahmat. Calon imamnya yang sudah bersedia berikrar di hadapan Tuhan. Dia tak bisa menolaknya meski hatinya begitu ingin melompat kala puisi indah itu ditujukan padanya.
Andra sudah mencintainya sejak dia masih kuliah, namun Reyna tak berharap banyak karena dia tahu ada seseorang yang dipilih orang tuanya untuk dijodohkan dengannya. Sebagai anak yang baik, Reyna tak ingin menolak kehendak orang tuanya. Karena itu dia berusaha sekuat tenaga untuk menghindar kala dia menyadari perasaannya kepada Andra. Dia sadar betul posisinya, dan tak mau memberi harapan lebih pada hatinya.
“Pergilah, Ndra! Kumohon jangan temui aku lagi.” Hampir jatuh bulir bening dari mata Reyna. Tak berani melihat ke arah Andra yang terdiam tanpa kata.
“Aku tahu sebesar apa cintamu padaku, karena itu aku mengijinkanmu, meraih bahagia yang kau mau. Meski demi orang tuamu, aku juga berharap kelak kau sungguh-sungguh bahagia, tanpaku, tanpa kita. Aku pamit, ya. Jaga diri baik-baik.” Suara Andra bergetar, terdengar berat, seolah terhimpit beban di pundak dan dadanya.
Pertahanan Reyna hancur, air mata tak lagi mengalir satu-satu, namun begitu deras hanya sesaat setelah Andra melangkah pergi. Taman itu tak lagi berwarna warni, hanya kelabu seiring pandangan Reyna yang makin kabur lalu gelap.
‘Aku sudah tak bisa memilikimu, pun kau tak bisa menjadikanku pendamping hidupmu. Namun tak ada yang bisa mencegah rasa yang masih tertanam di jiwa. Entah sampai kapan, aku pun tak berencana mempertahankannya, karena itu sudah tak mungkin, kala namaku telah bersandang sebagai ‘Nyonya’ Rahmat, meski kau pernah jadi satu-satunya yang bertahta. Selamat tinggal Andra, semoga kelak kau temukan pendamping yang tepat.’
Dalam kekalutan Reyna menarik napas panjang, seolah ingin membebaskan diri dari sesak yang menghimpitnya beberapa hari belakangan. Tanpa sadar gadis itu berjalan sambil terpejam, seolah tak mendengar klakson dan decitan yang berakhir dengan suara hantaman keras. Reyna merasa melayang dalam gelap dan mendengar orang-orang berlarian di sekitarnya.
“Tolong! Ada orang tertabrak!”
#Vi











