Aku lapar. Telur mata sapi dengan sedikit kaldu bubuk sudah cukup menghibur perut. Sebotol air es tandas usai kuhabiskan sepiring nasi yang kedua. Aku kenyang.
Dapur sudah jelas berantakan. Sisa makanan dan sayuran yang tercecer di meja. Beberapa keping pecahan kulit telur yang tak berhasil masuk tempat sampah juga menghiasi lantai. Plastik-plastik pembungkus masih berserakan di mana-mana.
Aku masih menimbang-nimbang, apakah aku harus mencuci penggorengan lebih dulu, ataukah hanya piring? Sementara pikiranku yang kacau tak memungkinkan untuk melakukannya dengan tenang. Setelah berpikir satu detik aku putuskan untuk membiarkan semuanya.
Sebenarnya masalah bukan terletak pada kompor yang kotor saja. Hampir seisi rumah terlihat acak-acakan. Laci-laci ditarik keluar. Meja ruang tamu pecah, sementara televisi menyala dengan suara keras. Sampai terpaksa kulepaskan colokannya begitu saja saat tak kutemukan remote di manapun. Setelah itu barulah hening.
Aku sedang mencerna semuanya sambil menatap lantai yang penuh mainan berserakan. Anak-anak memang biasa melemparkan banyak mainan ke sana kemari, meskipun tidak hari ini. Mereka sedang bersama ayahnya sekarang, bersenang-senang di acara Halloween di sekolah. Di sudut manapun masih terlihat sisa atribut kostum yang tak jadi dipakai. Itu juga salah satu penyebab rumah terlihat kacau.
Tadinya aku bermaksud merapikan beberapa yang tercecer, tapi aku berhenti. Sesuatu membuat otakku bekerja lebih keras. Inilah yang membuatku kesal.
Mataku kembali memindai isi rumah. Rumah Kak Dewi tidak terlalu luas, meskipun begitu semuanya tertata rapi. Ada taman kecil di halaman depan, garasi di samping, bahkan kolam renang mungil hanya untuk menyenangkan si kecil. Tak mewah tapi sudah cukup untuk menaungi keluarga kecilnya bersama Bang Arman, kakak tiriku. Ah, mengingat itu mataku mulai berkaca-kaca.
Aku selalu mengagumi Bang Arman. Meski berbeda ayah, tapi dia kakak yang baik, tak pernah menganggapku rendah meskipun prestasiku tak secemerlang dirinya. Berapapun rendah nilaiku di sekolah, tak pernah sekalipun dia menghinaku. Dia bahkan yang sering melindungiku dari amarah Ibu, saat beliau masih ada. Sayangnya saat dia memperkenalkan calon istrinya, aku tak bisa percaya.
Aku mengenal Dewi, setidaknya dulu aku memanggilnya begitu, saat kami masih bersama sebagai sepasang kekasih. Aku memang tak pernah menceritakan itu pada siapapun—dan itu kesalahanku—jadi jelas aku terkejut saat dia diperkenalkan sebagai calon istri Bang Arman. Perutku langsung mual.
Meskipun begitu aku langsung setuju, saat perempuan itu memintaku pura-pura tak saling mengenal. Aku rasa itu lebih baik. Aku bahkan berusaha memaksa diriku memanggil perempuan itu “Kak—Dewi.” Berusaha menghormatinya sebagai istri dari abangku. Tak ada yang tahu sakitnya aku saat melakukan itu.
Hanya delapan bulan kemudian lahirlah Bagas, anak pertama, sepertinya prematur. Sempat ada kecewa dan kehilangan yang tak terbilang. Seolah aku sudah tak punya kesempatan. Lagi-lagi aku harus bisa menerima keadaan, sekarang dia adalah benar-benar sudah menjadi kakak ipar. Tak ada jalan kembali.
Hal mengejutkan kudengar dari Bang Arman usai dia mengungkapkan kebahagiaannya memiliki Rico, putra ke dua, darah dagingnya sendiri, begitu katanya. Lalu Bagas? Siapa ayah Bagas?
Ternyata Kak Dewi sedang berbadan dua saat mereka menikah. Dia ditinggalkan kekasihnya tanpa tahu sedang mengandung. Alih-alih meminta pertanggungjawaban mantan kekasihnya dia lebih memilih Bang Arman yang kala itu menawarkan untuk menerima anak itu kelak sebagai anak kandungnya. Aku menangis mendengar itu. Sekarang pun mataku kembali basah.
Setelah mengetahui itu semua aku merasa bodoh. Kak Dewi, maksudku—Dewi, benar-benar pintar memutarbalikkan fakta, itu yang kupikirkan saat itu. Jelas-jelas dia yang tiba-tiba pergi, sementara aku sudah membayangkannya menjadi istriku sejak kejadian malam itu di bilik sewaan di tepian Anyer. Nyatanya, dia yang memutuskan hubungan lewat pesan, usai seminggu menghilang. Lalu, kenapa dia bilang aku yang meninggalkan? Saat itu aku hancur.
Sekaligus di titik itulah sebuah prasangka gila meracuniku. Perkiraan aneh yang sangat masuk akal lalu lalang di kepalaku. Aku memutuskan untuk membuktikannya lewat seutas rambut yang seharusnya bisa mengukuhkan praduga yang menurutku sangat berdasar.
Kenyataannya, kepalaku mendadak pusing setelah membaca hasil pemeriksaan lab. Tak seperti apa yang sudah kubayangkan. Dugaanku meleset. Semezzntara aku sudah membayangkannuntuk bisa mendapatkan hak yang kukira ada. Terus terang … aku kecewa. Pikiran-pikiran buruk tak hentinya memenuhi hati dan kepala.
Sore yang seharusnya sejuk berubah menjadi terasa begitu panas, saat aku menemukan bukti laporan ke kepolisian di laci meja kerja Bang Arman. Di atasnya tertulis tentang laporan rudapaksa yang disertai bukti visum atas nama Dewi Mawardani, tertanggal satu hari setelah aku menghabiskan malam bersamanya di Anyer. Mungkinkah …?
Aku lemas, setelah semuanya, setelah segala tuduhan yang ingin kusematkan padanya, segala kekesalan yang membuatku emosi beberapa waktu, juga rasa bersalah … menyerangku dari segala arah. Seketika terbayang wajah Bang Arman sedang menggendong bocah-bocah kesayangannya, yang sontak membuat dadaku kian sesak.
Aku merasa bersalah sudah memfitnah Dewi—atau Kak Dewi, dengan pikiran dan prasangka kejam. Meskipun aku tak pernah mengatakan pada siapapun tapi itu cukup untuk membuatku sudah melakukan hal yang jahat padanya. Aku khilaf. Harusnya aku bertanya dulu. Harusnya aku memaksanya untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi sampai dia harus memutuskan hubungan hanya lewat pesan singkat. Aku menyesal telah sebodoh ini.
Gara-gara membaca hasil lab itu aku sempat mengutuknya karena tak setia. Tapi laporan kepolisian itu begitu terlambat kutemukan. Karena kenyataan bukanlah kebenaran yang selama ini kukira. Air mataku mendadak tak terbendung. Sesalku seperti tak berujung. Sekeras apapun aku meraung, tak ada yang bisa mengembalikan apa yang sudah kuhilangkan.
Kuletakkan sebotol obat dari saku celana di atas meja. Sejak Dewi—Kak Dewi memutuskan hubungan, aku merasa sudah bukan lagi orang yang sama. Dokter meresepkan obat itu karena aku divonis menderita anxiety beberapa tahun yang lalu.
Sekarang aku merasa ingin menggunakannya meski aku merasa tak sedang ingin tidur. Beberapa butir cukuplah. Sampai kemudian kepalaku kembali pusing, dunia seperti berputar dengan aku sebagai pusatnya. Aku merasa dinding di sekelilingku seperti ingin memakanku hidup-hidup.
Sesaat kemudian jantungku berdetak kian cepat. Kepalaku berdenyut kian kuat. Entah karena butir obat yang kuminum beberapa saat yang lalu, ataukah kenyataan dibalik rambut Bagas yang tak cocok dengan DNA milikku?
Susah payah aku beringsut mendekati Dewi, yang sejak dua jam lalu terbaring di atas genangan merahnya sendiri. Wajahnya pucat, meski sudah melahirkan dua putra, tapi masih terlihat cantik. Aku ingin bersamanya, meletakkan tanganku di perutnya, di mana pisau itu masih menancap di sana. Jasadnya mulai dingin di antara kulkas dan meja dapur, yang tadi beberapa kali terpaksa aku langkahi saat menggoreng telur.
“Maafkan aku … Kak—Dewi.”fff
18_Okt_2024











