Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Memberi dalam Kekurangan, Bagaimana Kita Melakukan?

Kehidupan Kristen: Memberi dalam Kekurangan, Bagaimana Kita Melakukan?

Kehidupan Kristen (selawi.net)
4

Banyak sekali orang percaya masih tidak mengimani (apalagi menjalankan) Firman Tuhan dalam berbagai ayat Injil yang berbunyi: “Berilah, maka kamu akan diberi”, alias ajakan agar mau lebih banyak memberi/berbagi daripada hanya menerima. Memberi di sini bukan hanya memberi/berbagi dalam arti sempit seperti hanya dalam konteks memberikan persembahan di gereja saja, atau hanya bagi-bagi kelimpahan harta/rezeki saja. Memberi juga mencakup banyak hal-aspek kehidupan, termasuk memberi apa, bagaimana, dalam rangka apa dan sebagainya.

Contohnya di dunia maya, sangat banyak selebgram atau tiktoker rajin memberi berbagi melalui berbagai macam program/konten. Entah memberi makan kepada banyak sekali orang hingga memberi hadiah kejutan kepada orang ‘kurang beruntung’ yang ‘beruntung’. Sangat mudah memberi dalam kelimpahan/kekayaan, apalagi jika dilakukan hanya agar mendapat berkat ‘lebih banyak’ lagi. Dengan mudah, mereka akan disebut generous, murah hati, dan sebagainya.

Akan tetapi, memberi dalam kekurangan adalah salah satu hal yang cukup sulit. Banyak orang percaya sebenarnya sangat ingin/rindu memberi dan berbagi, entah persembahan maupun harta apa saja (makanan dan lain-lain), bahkan kepada sesama manusia tanpa pandang asal-usul dan latar belakang. Jadi, bagaimana saya bisa memberi? Sedangkan apa yang ada pada saya saja masih kurang. Gaji pas-pasan, boro-boro bisa memberikan persembahan persepuluhan. Habis untuk bayar angsuran, pinjaman, uang sekolah, uang sayur, gas-listrik-bensin, gaji ART dan lain sebagainya.

Karena kelihatan jarang show-off memberi, tak jarang cap pelit, kikir, tamak dan sebagainya secara negatif kadung melekat pada orang tertentu. Padahal sebenarnya ‘jarang memberi’ bukan hanya dikarenakan cap-cap tersebut.

Kita rindu/terbeban untuk memberi, akan tetapi masih bingung, apa yang bisa kita berikan. Bukan hanya harta/materi atau uang saja, lho. Kita bisa juga memberi dalam kekurangan. Dalam Injil, seorang janda miskin yang hanya bisa memberikan dua peser (nilai mata uang paling kecil) jauh lebih dihargai oleh Tuhan Yesus, lebih daripada orang-orang kaya yang mampu memberikan sejumlah besar uang dari kelebihan harta mereka. Masih banyak contoh lain dalam Alkitab; keluarga janda-anak di Sarfat yang hanya punya sedikit tepung-minyak untuk membuat roti bagi Nabi Elia, seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan untuk memberi makan 5000 orang, dan sebagainya. Fokus berikanlah apa yang ada padamu, bukan apa-berapa banyak yang bisa Anda berikan.

Memberilah bukan hanya agar Anda kembali diberi, melainkan memberilah karena Anda merasa bersyukur sudah diberkati-Nya. Janganlah kita seperti umpama pribadi-pribadi/sosok-sosok dunia maya yang ‘memberi’ agar banyak dapat views, pemasukan dari iklan dan keviralan-ketenaran semata-mata. Mereka memberi tentu karena ‘ada maunya’, jika tidak ada maunya mereka akan berhenti memberi, stop saja dululah. Apalagi jika roda sedang di bawah. Tuhan gak beri, rezeki saya seret, saya di-PHK, saya malas ah ke gereja lagi! Rezeki atau berkat adanya bukan karena mentah-mentah ‘hasil dari kita memberi/balasan Tuhan’ melainkan atas kemurahan Tuhan. Banyak orang yang kelihatannya belum punya rezeki, faktanya Tuhan masih cukupkan. Mereka mungkin belum bisa memberikan persembahan sebesar si A atau si B yang kaya-raya itu. Mungkin mereka hanya bisa memberikan dua peser saja, sama seperti Sang Janda di Bait Allah. Sedikit sekali, tidak berarti bagi banyak orang. Tidak life-changing atau mind-bending. Akan tetapi Tuhan menilai ketulusan hati dan bukan jumlah/nominalnya. Hati Sang Janda yang bersyukur, memberi dalam kekurangan, akan membukakan jalan agar ia dan keluarganya lebih diberkati.

Belum punya rezeki (finansial/harta)? Mari kita belajar untuk tergerak memberi apa ada pada kita; talenta, waktu, doa, perhatian dan sebagainya. Memberilah dengan sukarela dan senang hati tanpa pandang bagaimana-seberapa. Mungkin hal kecil-sederhana-sehari-hari saja, akan tetapi bisa sangat besar manfaatnya, kelak biarlah Tuhan mengembalikan dengan cara-Nya yang kita tidak ketahui.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.

Tangerang, 27 Mei 2025

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image