Home / Genre / Chicklit / 21. Tenda Wanita

21. Tenda Wanita

MERAJUT MASA SILAM
This entry is part 23 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Beberapa jam kemudian, Arya Daringin masih minum dan mengobrol di tenda besar. Dia duduk bersama pria-pria tua sementara mereka berbicara tentang istri dan pengalaman rumah tangga. Tidak ada wanita di tenda itu, jadi dia pikir mereka pasti berada di tenda yang berbeda.

“Jadi, beberapa tahun yang lalu, aku pulang dalam keadaan mabuk. San istriku benci melihat aku mabuk,” salah satu orang tua bercerita. Dia tampak seperti berusia enam puluhan. Rambutnya putih semua, dan dia memegang secangkir tuak.

“Dia tidak membukakan pintu kamar, jadi aku tidur di kamar sebelah. Aku pikir aku masuk kamar ibuku, karena ibuku tinggal bersama kami. Aku melihat pintu kamar ibuku terbuka, jadi aku masuk dan tidur di sampingnya. Waktu aku bangun keesokan paginya, aku baru sadar kalau aku telah di samping istri tetangga dan dia membangunkan seluruh kampung, mengira aku ingin merudapaksa dia. Kami pindah dari desa itu itu hari itu juga, dan sejak hari ituaku tak pernah mabuk lagi.”

Cerita itu diikuti oleh tawa para pria dan kemudia pria lain melanjutkan.

“Aku sudah menikah selama empat puluh tahun. Kemarin adalah hari jadi pernikahan kami. Tahun lalu, aku dan Surti berjanji untuk tidak saling memberi hadiah lagi. Dia terbangun ketika menemukan hadiahku dan berkata, ‘Mas, kita berjanji tidak akan memberi hadiah lagi.’ Aku jawab, ‘Aku tahu, Manis, aku tidak bisa menahan diri.’ Saat itu juga, dia mengeluarkan hadiahnya dari tempat dia menyimpannya di bawah bantal dan kami berdua tertawa.” Semua bertepuk tangan.

Ada sekitar enam belas pria atau lebih tua dan muda di tenda itu. Mereka semua duduk di atas tikar. Di depan mereka berbagai kendi, ceret, dan jerigen berisi tuak. Salah satu pria muda menyenggol siku Arya Daringin sementara yang lain sibuk mendengarkan cerita tentang pria tua.

Dia sepertinya seumuran dengan Arya Daringin, bertubuh ramping dan memakai sorban besar yang dililitkan di kepalanya. “Hai.”

Arya Daringin mengangguk. “Hai.”

“Kamu tidak bosan dengan semua kisah cinta para lelaki tua? Kurasa tidak ada gunanya kita yang muda mendengarnya. Apakah kamu mau bersenang-senang?” bisiknya.

Arya Daringin tersenyum.

“Apa maksudmu dengan bersenang-senang?”

“Aku datang ke sini tanpa istri. Aku sudah berpisah baik-baik dan aku tahu ini kesempatan bagus untuk menemukan perempuan cantik yang mungkin sedang menjalani pernikahan yang sulit. Untuk bersenang-senang saja, kamu tahu?”

Oh, keberuntunganku membaik, pikir Arya Daringin.

“Oh..tentu saja, aku ikut denganmu.”

Keduanya segera menghabiskan sisa minuman di cangkir masing-masing. Menyadari bahwa para lelaki sedang memperhatikan Yusuf yang sedang menceritakan tentang bagaimana dia bertemu Munah, keduanya menyelinap pergi sebelum ada yang sadar.

Mereka tertawa.

“Kita seperti anak-anak,” kata teman baru Arya Daringin. “Ngomong-ngomong, namaku Gurlam.”

“Ringin,” jawab Arya Daringin. “Jadi, di mana gadis-gadis itu?”

Gurlam menyeringai. “Ringin, kamu tipeku, ikutlah denganku.”

Arya Daringin mengikutinya berjalan menuju perkemahan yang lebih besar yang tak jauh dari perkemahan pria.

“Apakah kamu juga datang dengan istrimu?” tanya Gurlam ketika mereka berjalan di atas pasir. Gerimis telah berhenti.

Ragu-ragu dia menjawab, “Tidak juga,” dan segera mengganti topik pembicaraan. “Aku pikir tujuan utama dari ini adalah supaya pasangan bisa bersenang-senang, jadi mengapa perkemahannya terpisah?”

“Untuk para pria supaya mereka bisa menghabiskan waktu sesama dan membicarakan berbagai hal dan para wanita juga bisa mengobrol dan bergosip tentang pria. Kita akan segera berkumpul. Begitulah adanya pada malam pertama. Kamu tahu, untuk membuat masing-masing merindukan satu sama lain,” dengus Gurlam.

“Oh … aku mengerti.”

Terdengar suara para wanita keteka mereka semakin dekat dengan perkemahan mereka. Para wanita duduk agak jauh dari kemah, mengelilingi api unggun dan setiap wanita berbaring di atas selembar tikar. Cahaya api unggun membuat kulit mereka bersinar.

Gurlam berhenti. Mereka berada beberapa langkah dari para wanita.

“Di sinilah kita duduk, kawan.Kita tidak ingin menarik perhatian mereka.”

Gurlam melepaskan sorbannya dan membentangkannya di pasir. Lalu mereka duduk. Posisi mereka sangat dekat dengan kemah sehingga bisa melihat wajah para wanita karena cahaya api unggun, dan juga bisa mendengar suara. Para wanita tidak bisa melihat Gurlam dan Arya Daringin karena tidak ada cahaya di luar perkemahan.

Beberapa berpakaian lengkap sementara yang lain tidak.

“Tari, aku minta resep yang kamu gunakan untuk membuat sayur bobor, aku suka. Enak.”

“Oh, tentu, nanti aku minta Ganang menuliskannya untukmu.”

“Ya Tuhan, aku suka kulitmu. Lulur apa yang kamu pakai?”

“Rambutmu sangat indah, apakah permanen?”

Arya Daringin dan Gurlam meringis bareng lalu tertawa.

“Wanita sangat sombong,” kata Gurlam. “Itulah yang membuat mereka wanita.”

Salah satu wanita berdiri hanya mengenakan sehelai kain yang menutup dadanya sementara kain lainnya menutupi bagian bawah tubuhnya. Selain kedua kain itu, dia tidak mengenakan apa pun. Dia kurus kering dan tubuhnya menjuntai di bahunya.

“Oh Tuhan! Lihat itu!” kata Gurlam.

“Aku ingin tahu siapa suaminya,” jawab Arya Daringin.

“Wah! Kalau dilihat ada cincin di jarinya, dia pasti bersama seorang pria. Kalau tidak, dia pasti bisa diajak kencan.”

Arya Daringin melihat cincin di jari manis wanita yang menggerakkan tangan sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa dipahaminya kepada wanita lain. Mereka tertawa dan bertepuk tangan.

“Aku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan,” kata Arya Daringin.

Mereka berdua melihat seorang wanita berdiri yang dikenal Arya Daringin sebagai Munah. Dia tertawa dan berbicara pada saat yang sama kepada wanita lain.

Kemudian, seorang wanita berdiri dan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan Arya Daringin karena dia mengenalinya. Wanita itu tampak begitu menarik dalam cahaya kuning api unggun. Mengenakan rok yang sangat pendek dan atasan yang hanya menutupi dadanya. Rambutnya disanggul di atas kepalanya dan dia berbicara dengan penuh semangat kepada wanita lain.

“Kalau tidak ada cincin di jari itu, dia milikku!” Gurlam berkata. Tepat saat itu juga, dia menggosok kedua tangannya. “Bisa diajak kencan! Ya!”

Gurlam hampir berteriak, memukul dadanya dengan penuh semangat.

Arya Daringin menarik napas dan tetap diam.

Sekarang wanita itu menari mengikuti alunan musik yang dimainkan salah satu dari mereka.

Apa yang kau lakukan, Ghea?

Saat dia menari, dua wanita lain datang untuk bergabung. Rambut Ghea yang terurai dan jatuh di bahunya. Dia tampak tidak peduli membiarkan sanggulnya yang terlepas dan berbalik untuk menari dengan wanita pertama yang mengiringinya.

“Ya Tuhan! Dia menakjubkan,” seru Gurlam. “Aku rasa aku jatuh cinta padanya, Ringin. Maksudku, tidakkah kau melihatnya? Dia tidak pakai cincin. Pria bodoh yang tidak ingin menikahinya. Apakah kau pikir dia datang sendirian? Apakah kau pikir suaminya ada di sini?”

Tepat sebelum Arya Daringin bisa menjawab, dia mendengar suara-suara di belakangnya.

“Itu mereka!”

Dia berbalik dan melihat pria-pria lainnya di belakangnya.

Syukurlah!

“Konco-konco, kami kehilangan kalian, jadi kami pikir kami harus bergabung dengan para wanita. Ternyata tahu kalian malah sudah duluan,” kata Yusuf ketika dia dan rombongan semakin dekat.

Merajut Masa Silam

0. Pesta Pasangan 2. Antara Harga Diri dan Curiga
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image