Catatan pembuka: Bukan teori atau ajaran Kristen denominasi apapun, opini ini berangkat dari kerinduan penulis untuk mengingatkan sesama orang percaya kepada tokoh Ester serta menggali hikmah indah di baliknya.
Apakah Anda sudah selesai membaca Kitab Ester? Kitab Ester yang ada dalam Perjanjian Lama adalah sebuah kisah nyata nan unik. Jika kita perhatikan, tidak ada kata Allah maupun Tuhan dalam kitab ini. Lho, kok bisa diterima dan diakui menjadi bagian dari Alkitab? Barangkali salah satu alasannya karena kitab ini memuat sejarah hari raya Bangsa Yahudi yaitu Purim. Namun tentu bukan hanya itu saja, melainkan kehadiran Tuhan yang tersirat dalam kisah ini.
Ester dan perjuangan hidupnya menurut penulis sangat relate dengan kehidupan perempuan-perempuan zaman now baik dalam realita maupun fiksi. Bayangkan saja, ia seorang gadis yatim piatu yang diasuh oleh pamannya. Bangsa Yahudi pada masa itu hidup dalam pembuangan alias terusir dari Tanah Perjanjian. Kedudukan lemah, bangsa yang statusnya sedang ‘tak jelas’, benar-benar ibarat tokoh protagonis yang tertindas. Bukan nabiah, apalagi superwoman atau wonder woman. Ester dan Mordekhai sang paman, jujur saja, sebenarnya sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai bintang utama dalam sebuah kitab. Jika dalam kitab-kitab lainnya tercantum nama nabi hingga rasul, sesungguhnya Ester tidak masuk hitungan. Akan tetapi kemudian hal-hal menarik satu persatu terjadi.
Kitab Ester gak kalah seru dengan sebuah novel, penuh kejutan alias plot twist. Ester memang cantik menarik (mungkin bak putri dalam dongeng-dongeng kerajaan masa kecil), namun Ester gak lantas masuk istana begitu mudahnya setelah Wasti, ratu sebelumnya, dibuang/disingkirkan oleh Raja Media-Persia Ahasweros (sesuai TB2, nama dalam TB: Ahasyweros). Mordekhai sang paman juga tidak langsung hadir sebagai seorang pejabat kerajaan. Mordekhai yang belum jadi siapa-siapa pasti berjuang agar Ester mau ikut dalam seleksi calon ratu baru, penulis bayangkan dengan sabar ia berusaha membujuk, memikirkan caranya agar Ester ingin mencoba peluang besar ini. Modal wajah cantik – hati baik aja belum cukup. Saingannya banyak dan pasti berat-berat. Mirip dengan kisah Cinderella, bukan? Gak bisa langsung diterima juga. Jika kita baca dengan teliti, diperlukan persiapan paling sedikit satu tahun lamanya agar Ester dan para calon ratu tampil all-out. Pastinya Ester deg-deg-an. Saingannya kuat-kuat, namun ia gak lantas gentar. Hanya satu hal sang paman minta; jangan pernah beritahukan kebangsaannya.
Ester adalah contoh dan teladan bagaimana seorang perempuan harus baik-baik menjaga diri. Gak bocor kemana-mana, pintar-pintar menjaga mulut dan hatinya. Bukan hanya cantik dari sananya lantas selalu beruntung. Baiklah, meskipun tercantum di Alkitab, izinkan penulis memberi spoiler. Ester berhasil menjadi ratu karena akhirnya sang raja menjatuhkan pilihan kepadanya. Apakah perjuangan sudah berakhir? Jauh dari kata happily ever after. Ester bahkan melalui beberapa kali masalah mulai dari laporan ‘kepo’ tapi penting dari Mordekhai yang harus disampaikan kepada Ahasweros, padahal siapapun dilarang menghadap raja secara langsung jika tidak dipanggil. Risiko hukuman mati menanti mereka yang ditolak raja. Akan tetapi Ester mendapat restu raja. Dua pengkhianat yang hendak mencelakakan raja berhasil ditangkap. Mordekhai berjasa besar, namun seakan-akan dilupakan. Haman, ‘pejabat tinggi kesayangan raja’ show up sebagai antagonis utama, jadi sangat membenci Mordekhai gara-gara baper, merasa gak dihormati. Mengingatkan kita pada sinetron atau novel-novel zaman now, ‘kan? Masalahnya, karena dekat dengan kekuasaan tertinggi, Haman (merasa) bisa melakukan apa saja demi membalas dendam. Ia berada di atas angin. Ester mungkin untuk sementara waktu boleh saja merasa aman, tapi jangan salah, Mordekhai juga memperingatkannya sekaligus memberi tugas berat; maju duluan memberitahukan kepada raja sekali lagi. Di mana-mana bahkan masih kerap terjadi, kaum perempuan dianggap tabu untuk maju duluan. Ester, meskipun dengan taruhan nyawanya, memberanikan diri meskipun tentu ada rasa takut dalam hatinya. Demi keluarga dan bangsanya Ester memutuskan untuk maju, lalu…
Ester mengajarkan kita untuk tetap optimis meskipun situasi dan kondisi tidak menguntungkan. Mordekhai juga memberikan teladan untuk tetap teguh berpegang pada keberanian untuk tidak sujud di depan Haman, yang notabene jauh lebih berkuasa saat itu. Bukan kemudian berarti kita harus berontak/agresif melawan ketidakberdayaan, melainkan belajar sabar, berjuang secara perlahan. Ia tidak gila hormat, malah akhirnya ‘dihormati’ oleh Haman gara-gara omongan si antagonis sendiri yang ge-er-an. Meskipun tidak disebutkan berdoa/melakukan ibadah, Ester dan para dayang-dayangnya berpuasa selama 3 hari 3 malam. Dalam diamnya, Ester melakukan persiapan nyata demi mencapai tujuan. Ia dipersiapkan (Tuhan) untuk waktu sukar seperti pada saat itu.
Apa yang kemudian terjadi pada Ester dan Mordekhai? Ingin tahu lebih banyak? Semua kelanjutan sudah tercatat dalam Firman Tuhan. Tanpa berpanjang-panjang spoiling hingga selesai, penulis ingin berbagi kesimpulan. Dalam dunia tak menentu seperti dahulu kala bahkan saat ini, tetaplah jadi seorang Ester. Optimis, berani, tak hanya mengandalkan kecantikan atau kecerdasan bahkan kekayaan. Bertindaklah dahulu, bersabar dan berhati-hati, serahkan hasilnya kepada Tuhan.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 11 Juni 2025











