Penulis sebelum tahun 2024 sudah jadi believer, namun that’s it, hanya sebatas percaya saja. Belum terbuka segenap hati dan pikiran, masih berkubang dalam hidup lama. Meskipun sudah dibaptis sejak anak-anak (1989) bahkan sudah berkali-kali mengalami keajaiban dan pertolongan Tuhan, penulis belum berhasil menemukan this is it moment yang sering disebut pencerahan, hijrah, atau apapun istilah bagi para pencari Tuhan yang mencoba menemukan-Nya. Pada 2024, barulah penulis menyadari jika semua usaha manusia mencari Tuhan adalah kesia-siaan sebab sesungguhnya Tuhan sudah mencari dan menemukan! Telepon dari-Nya sudah berdering. Tinggal manusia saja yang mau ‘angkat telepon’ atau reject, pura-pura gak dengar, bahkan mengeraskan hati, pura-pura tuli.
Begitu pula doa, yang (seharusnya) bagi kita bukan sekadar ritual agama belaka. Tuhan Yesus sudah mengajarkan Doa Bapa Kami, di mana sebaiknya berdoa, bagaimana cara-Nya. Hanya beberapa tambahan, inilah beberapa poin yang mungkin dapat direnungkan.
- Panjatkan doa setiap hari, setiap saat. Tuhan tidak memaksa Anda online 24 jam, biarkan Dia yang online alias terkoneksi dengan Anda. CCTV-Nya tetap menyala, mengawasi Anda. Itulah mengapa kita harus takut hanya kepada-Nya, bukan pada apa-siapa yang ada dalam dunia ini.
- Metode (cara) berdoa bukan masalah dan tidak harus jadi masalah. Tidak harus bicara keras-keras, berteriak atau menjerit-jerit, tidak harus lipat tangan tutup mata atau dalam posisi tertentu. Berlutut, berdiri, duduk, lakukanlah sesuai kemampuan. Bahkan hanya berbisik-bisik atau dalam hati saja Tuhan tahu. Tetes air mata saja Dia tahu maknanya. Kok bisa? Kita adalah citra-Nya Tuhan, semua yang kita lakukan dan pikirkan, sekali lagi, Dia udah tahu.
Beberapa waktu silam, penulis pernah mengibaratkan manusia seperti Sim (karakter simulasi manusia) dalam game PC The Sims (penulis hanya pernah main versi jadul). Meskipun si player tidak mengatur/memberi instruksi, Sim bisa melakukan segalanya sendiri (free will). Namun player tetap tahu apa yang dilakukan Sim karena urutan free will muncul di layar komputer. Player tetap bisa mengintervensi urutan ‘tugas’ Sim, bahkan mencegah Sim melakukan hal-hal receh-remeh unfaedah (seperti yang sering manusia lakukan). Demikian pula Tuhan! Dia pegang kendali penuh atas kita. - Klaim kebenaran Firman Tuhan. Ulangi janji-janji indah-Nya dalam doa. Ungkapkan kalimat ‘rayuan’ agar hati-Nya terbuka. “Seperti Engkau pernah… maka tolonglah aku juga.” Atau, “Engkau tahu isi hatiku dan apa yang terbaik untukku, maka lakukanlah sesuatu sesuai kehendak-Mu.”
- Bukan hanya katakan lalu selesai (dan lupakan), yakini, serta lakukan sesuatu. Jadilah aktif, jangan omdo. Bukan dengan terjun langsung modal nekat atau nyebur ke dalam kolam tanpa persiapan, melainkan lakukan saja sesuai bagian kita. Seperti yang penulis pernah lakukan, mendoakan jalan rusak dan banjir yang sudah entah berapa dekade terlupakan. Setiap lewat, dalam hati penulis berdoa: Tuhan, perbaikilah jalan ini, amin. Selama satu setengah tahun meskipun doanya ‘bolong-bolong’, akhirnya doa itu terjawab!
- Belum dijawab Tuhan? Ulangi, ulangi, sekali lagi ulangi. Manusia bisa jenuh dan bosan, Tuhan tidak demikian. Dia tidak akan menolak Anda. Dia gak akan bilang, “Sana, ambil nomor antrean dulu!” Semua antrean langsung sampai di meja-Nya. Apa yang kita klaim sebagai penantian sebenarnya adalah sebuah proses. Proses pembentukan hingga terjawab.
- Jawaban ‘tidak’ bukan penolakan-Nya, melainkan cara-Nya membuat plot twist. Bukan dengan rajukan atau malah hengkang dari hadapan-Nya, hendaknya kita merespons dengan sikap ‘Baiklah, Tuhan, jika memang itu yang terbaik bagi-Mu!’. Percayalah jika Sang Penulis Buku Kehidupan bukan Tuhan yang asal tolak atau asal mengiyakan. Pertimbangan-Nya adil dan benar. Barangkali kita belum mampu menalar. Kita menganggap jawaban ‘tidak’ sebagai kesialan atau bahkan menuduh ‘Tuhan jahat’.
- Berikut sebuah contoh ‘penolakan’. Penulis pernah mengalami ‘ketinggalan bus Transjakarta’ sehingga terpaksa naik bus berikutnya saat pulang kerja. Ternyata telatnya penulis membawa hikmah! Bus yang penuh, yang sedianya ingin penulis tumpangi, mengalami kecelakaan kecil di perempatan Cengkareng. Bus yang ditumpangi malah melewatinya, lebih cepat tiba di halte tujuan. Rupanya itulah cara Tuhan melindungi penulis. Keinginan kita kadang mengalami penundaan bukan karena Tuhan tidak adil, melainkan ada sesuatu yang Dia rencanakan, dan itu sangat baik. Sebuah kalimat indah berbunyi, “And if it’s not, God is still good!” (Terinspirasi dari Daniel 3: 17-18)
Semoga doa-doa kita semua dijawab-Nya sesegera mungkin, amin. Tetaplah setia di dalam Tuhan.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 7 Mei 2026











