di negeriku yang kerap mendulang gerimis
beberapa penghuninya menyimpan kemarau di kotak tangis
sementara pasukan durjana memalung iblis di dada mereka yang bengis
memaksa napas kaum suram kembang kempis
suara cempreng tak tahu adab
petantang-petenteng bak centeng biadab
duit bertumpuk di balik muka tembok
parasnya elok sampai setan enggan nengok
si culas beringas menindas tanpa aba-aba
setelah tega menahan ratusan ijazah
berulangkali menukar nurani dengan rupiah
dari recehan derita berbau anyir dara
“hei, pemimpin bangsat yang pongah!”
dalam seragam oranye kau masih terlihat jumawa!” seru golongan teraniaya dalam isak yang pendam
si bangsat itu tersenyum, tipis; sinis
mungkin tangan-tangannya yang panjang sedang menjelajahi celah
gigih mencari peluang tanpa rasa bersalah
Gresik, 25 Mei 2025 09.49











