Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Literasi Kesaksian: Bentuk Pelayanan Warisan Kata-kata Abadi! (Part 2)

Kehidupan Kristen: Literasi Kesaksian: Bentuk Pelayanan Warisan Kata-kata Abadi! (Part 2)

Kehidupan Kristen 20251125 (Illustrated Faith)
3

Orang-orang menulis dengan bermacam-macam alasan; karena mata pencaharian sebagai penulis full time, menulis karena hobi, hingga terapi psikis/mental (agar tidak mudah pikun, mengontrol kemarahan, menghindari stres, dan lain sebagainya). Ada yang wajib menulis sekian ribu kata demi mendapatkan penghasilan dari platform atau aplikasi menulis.  Ada pula yang hanya sanggup menulis sekian puluh atau ratus kata seperti halnya penulis opini ini, dikarenakan keterbatasan waktu dan tempat serta pekerjaan utama yang menjadi rutinitas. Apapun alasannya, menulis adalah pekerjaan utama atau sampingan yang mulia, meninggalkan jejak literasi bagi sesama. Bisa mencerdaskan dan berbagi segala macam hal (imajinasi-inspirasi-pengetahuan) setiap saat, tanpa dibatasi digit maupun tempat.

Apa saja manfaat luar biasa dari menulis, terutama menuliskan kesaksian hidup untuk diwariskan?

  1. Mengingatkan diri sendiri pada kuasa, kasih sayang serta penyertaan Tuhan. Kita sebagai manusia mudah lupa, sekian tahun silam atau bahkan kemarin dapat berkat apa saja. Dengan menuliskan kesaksian hidup, kita jadi ingat pada penyertaan serta pertolongan Tuhan yang sudah keluarga atau diri sendiri alami. Perjalanan, pengalaman, luka hati yang dipulihkan-Nya, penyakit yang disembuhkan-Nya, dan masih banyak lagi.
  2. Melatih diri untuk journaling sekaligus melihat perkembangan yang sudah Tuhan izinkan dalam hidup kita. Apabila selama belasan atau puluhan tahun hidup berlalu sama saja setiap harinya, cenderung datar membosankan, saatnya untuk merenungkan kembali kebaikan apa saja yang pernah kita terima hingga bisa tiba pada detik atau titik ini. Tidak ada seorangpun yang tidak punya apa-apa untuk dituliskan, bahkan seorang penulis kenalan saya berkata “Tidak punya ide juga adalah sebuah ide!” karena itu mari tuliskan sesuatu.
  3. Pernahkah merasa malas membaca tulisan di media sosial? Daripada hanya menuliskan status receh atau hanya komentar-komentar absurd tanpa henti berbalasan di medsos, apalagi hanya berisi curhat-keluhan atau semacamnya, jauh lebih baik menuliskan sederet kutipan yang menggugah hati dan menguatkan iman, ucapan syukur terkabulnya doa, bagaimana Tuhan menyertai, dan masih banyak lagi.

    Jika status ‘iseng’ kita malah hanya membuat hati followers atau readers panas, dapat menimbulkan perdebatan panjang dan perang komentar, lantas apa manfaat jangka panjangnya? Lebih baik berkata-kata baik dan benar, singkat saja, short and sweet. Yang membaca bisa tahu, ikut merenungkan, tergugah bahkan hingga tertarik mengenal-Nya lebih dalam lagi.
  4. Menulis untuk Tuhan tidak pernah ada ruginya, malah sangat bermanfaat meskipun hanya sedikit yang baca. Jika tulisan-tulisan duniawi berlomba-lomba ingin laku, ingin dibaca sebanyak mungkin orang, dunia lebih menghargai literatur best seller dan sebagainya. Berbeda dengan tulisan-tulisan untuk kemuliaan Tuhan.

    Tuhan Yesus sangat menghargai segala sesuatu yang kecil/sedikit serta serba rahasia. Persembahan dua peser dari seorang janda di Bait Allah, doa di ruangan tertutup,dan masih banyak lagi. Bukannya tidak boleh share/reshare literatur kesaksian agar dapat dinikmati seluas mungkin, akan tetapi janganlah mengeluh jika yang baca baru sedikit. Jangan pula berharap penghasilan besar plus pujian dan sanjungan dari pembaca. Pembaca menyukai dan mendapatkan berkat? Bersyukurlah. Tetaplah jadi pribadi yang humble, hanya berharap kepada Tuhan, setia dipakai Tuhan dalam perkara-perkara kecil. Jika kelak diberi tanggungjawab dalam perkara besar, bersyukurlah dan bersedialah.
  5. Last but not least, tulisan adalah sarana ibadah yang tidak akan habis-habis. Tubuh manusia menua ibarat bunga semakin layu, kata-katanya ibarat benih yang tersebar dan siap tumbuh. Ibarat bunga dandelion yang biji-bijinya tertiup angin, demikianlah ‘biji’ kata-kata kita terbawa waktu dan tersemai di ladang hati para pembaca; keluarga-teman-sahabat bahkan orang-orang yang belum kita kenal/temui.

Literasi kesaksian adalah cara unik dan berbeda di mana dari otak-hati dituliskan/diketikkan tangan, dibaca mata, turun ke otak-hati. Belum punya ide? Hidup kita masing-masing adalah kisah-kisah yang siap untuk dituliskan. Jangan jemu dan putus asa sebelum mencoba. Percayalah bahwa Tuhan Allah memberkati setiap usaha luruh talenta kita bagi sesama, apalagi bagi kemuliaan-Nya.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Tangerang, 26 November 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image