Home / Fiksi / Sendiko

Sendiko

Sendiko
1

“Jadi anak gadis gak boleh duduk di depan pintu. Ora ilok! Mengko sing arep nglamar ra sido ngelamar.”

Selalu begitu.

Eyang putri tak pernah melewatkan semenit pun untuk menyampaikan wejangan-wejangan yang dianggap perlu. Meskipun aku, dan cucu-cucunya yang lain, sudah teramat bosan dan hafal di luar kepala. Tapi … sudahlah.

Mendengar peringatan dari eyang, aku dan Titut—sepupuku—seketika menghentikan kegiatan dan saling menatap. Sama-sama menahan senyum, lalu tanpa dikomando serentak menjawab, “Enggeh, Yang!” Tanpa berlama-lama kami segera berpindah ke teras belakang, menghindari inspeksi lanjutan dari eyang.

“Ndak usah terlalu dipikirkan. Turuti saja. Toh yang dikatakan Eyang itu buat kebaikan.” Mama berusaha memberi pengertian saat melihat wajahku yang masam.

“Tapi eyang selalu begitu, Ma. Kan bosen dibilangin gitu terus. Aku ngerti, kok, gak harus diingetin berkali-kali,” sahutku sedikit bete.

“Lah kamu juga, ngapain malah ngobrol di depan pintu tadi? Salah siapa kalau kena sidak?” Mama berkata sambil tersenyum lebar, membuatku makin kesal, karena apa yang dikatakan mama memanglah fakta.

“Iya, sih.” Dengan berat hati aku mengakui.

Titut, anak dari Om Yaris—adik mama— baru saja datang dan langsung bercerita tentang kesibukannya di sekolah. Dia memang super aktif. Apalagi baru saja terpilih jadi ketua OSIS. Semangat banget dia cerita waktu pencalonan. Gadis imut berkacamata itu juga sangat antusias bercerita tentang kawan-kawannya di sekolah. Saking serunya dia bercerita, sampai aku asal duduk saja. Lupa kalau di rumah nenek ada peraturan tak tertulis yang harus selalu ditegakkan. Alhasil, kartu kuning pun melayang.

Eyang putri selalu punya cara untuk mengobrak-abrik kenyamanan cucu-cucunya—dalam hal ini—aku. Keaktifannya benar-benar nilai sempurna.

“Kalau nyapu tuh yang bersih, biar suaminya nanti gak brewokan!”

‘Kan ada alat cukur, masa iya kalau gak suka brewokan dibiarin aja.’ Begitu selalu bantahku, dalam hati.

“Ngulek sambel itu gak boleh gantian, nanti rasanya cemplang!”

‘Apa kabar yang pake blender?’

Yang paling sering itu, “Anak gadis gak boleh duduk di depan pintu. Nanti kalau ada yang ngelamar jadi balik, gak jadi ngelamar.” Kan serem, ya? Itu mau doain atau gimana?

Itu dulu, waktu usiaku masih belia. Tapi bukan berarti sekarang hal seperti itu tidak lagi terjadi saat usiaku menginjak dewasa. Eyang masih selalu melontarkan nasihat-nasihat kuno yang sudah sering kami dengar sebelumnya. Hanya saja sekarang intensitasnya tak sesering dulu. Mungkin usia eyang yang sudah makin tua.

Tapi aku sudah bisa menghadapinya dengan lebih santai sekarang. Bagiku itu hanya cara eyang menyayangi kami, dan mengingatkan untuk tidak melakukan hal yang mungkin akan kami sesali kelak.

Di usiaku yang menginjak 26 tahun, hal yang perlu dikejar-kejar pencapaiannya, yang begitu diinginkan para orang tua, adalah segera menikah. Sedangkan aku … sama sekali belum berpikir ke arah sana. Masih banyak hal yang ingin kuraih sebelum aku mengabdi sepenuhnya pada orang asing yang nantinya menjadi suamiku karena aku mencintainya, tentu saja.

Untunglah, mama termasuk orang tua yang pengertian. Bukan tipe yang suka memburu sesuatu harus ini, harus itu—tidak seperti eyang putri. Mama memberi ruang cukup luas bagiku untuk bisa membebaskanku dalam hal mencari pasangan. Beliau meyakini, jodoh akan datang di waktu yang tepat. Sayangnya, aku jadi terlalu santai untuk berpikir ke arah sana.

Sejak sekolah menengah pertama, aku sudah melihat mama berjuang sendirian setelah ditinggal papa menikah lagi. Mama bekerja sebagai penjahit konveksi. Beberapa kali pindah sana-sini sampai akhirnya memutuskan untuk terima jahitan di rumah dengan membeli mesin jahit bekas—dari tempat konveksi—dengan keringanan harga khusus dari bossnya kala itu.

Sekolahku hanya tamatan SMK. Tak tega kalau mama harus banting tulang lebih lama untuk membiayai kuliah, karena itu aku putuskan untuk bekerja.

Aku diterima bekerja di sebuah kafe. Awalnya sebagai waitress, setelah bekerja tiga tahun perusahaan mengadakan pelatihan bagi beberapa senior untuk dijadikan staf administrasi. Posisiku sudah lebih baik sekarang. Untuk sementara ini, duniaku hanya untuk bekerja … dan membahagiakan mama.

***

“Kamu kenal Haji Imron? Pedagang emas di dekat parkiran pasar?” Tiba-tiba eyang bertanya pada Mama. Aku pura-pura sibuk melihat gawai.

“Oh, yang istrinya tiga itu, ya, Yang?” Mama menjawab sambil melirik padaku. “Ada apa dengan Haji Imron?” tanya mama lagi.

Rasanya aku bisa menebak pembicaraan ini arahnya ke mana. ‘Gawat!’

“Anaknya, si Farhan, kemarin resmi nyalon jadi lurah,” kata eyang.

“Wah, bagus, dong! Desa kita punya lurah kaya, toko emasnya di mana-mana, meskipun punya bapaknya. Sudah jelas nanti juga jatuhnya ke dia. Betul, gak, May?” Mama mengerling padaku, yang kubalas dengan wajah ditekuk tujuh.

“Kamu, sih. Coba aja kamu masih sama Farhan bisa jadi Bu Lurah, kan?” Santai sekali eyang putri berkata sambil tersenyum.

“Waktu itu mereka masih anak-anak, Yang. Masih SMP … terlalu jauh.” Senyum mama makin lebar.

“Ya, kan emang gak ada ke arah sana, Yang. Maya cuma temenan sama Farhan,” kilahku. Eyang masih memasang senyum.

“Tapi untung juga kamu gak pacaran sama dia … kaya tapi mata keranjang, buat apa?” Eyang berkata lagi.

“Kok, Eyang tahu?” Kali ini Mama yang bertanya. Aku pun terkejut mendengar eyang putri bicara seperti itu.

“Ya, semua warga sini juga tahu itu. Wong bapaknya aja istrinya banyak. Sudah bagus Maya gak sama dia. Takut dia juga niru tabiat bapaknya.” Eyang putri berbicara diakhiri dengan tarikan napas panjang.

Aku tak menyangka eyang tahu hal itu. Dulu aku dan Farhan memang sempat dekat. Karena kami bertemu hanya saat libur panjang. Tapi ketika menginjak kenaikan kelas sebelas, dia tiba-tiba tak lagi sering datang. Dengar-dengar dia sedang dekat dengan anak pengusaha asal Bandung. Ya, sudah. Bagiku itu sudah cukup menjelaskan kalau di antara kami sudah tidak ada yang perlu dijelaskan. Hanya seutas cinta monyet bocah ingusan.

“May, kamu nunggu apa lagi? Buruan nikah. Kamu bilang pengen bahagiain mamamu, baru bisa nikah. Mamamu sudah baik-baik saja sekarang. Ya, toh, Yuk?” Pandangan eyang beralih ke mama yang dibalas dengan anggukan disertai senyum yang tersungging di wajah ayunya. “Tuh, kan, lihat. Sudah waktunya kamu memikirkan bahagiamu sendiri. eyang pengen lihat Kamu menikah, sudah itu eyang ikhlas kalau harus ninggalin kalian, ada menantu baik yang nantinya menjaga kalian.” Suara eyang sedikit bergetar menahan tangis.

Aku menghampiri eyang dan memeluknya. Sedih mendengarkan kata-kata eyang yang seperti itu. Kata-kata yang menyiratkan sesuatu yang berhubungan dengan kehilangan. Aku belum siap. Tapi demi menenangkan eyang yang terisak, aku pun menjawab, “Nggeh, Yang. Doakan Maya segera dapat jodoh yang baik, yang sayang sama Maya, mama, juga Eyang dan keluarga besar.” Aamiin.

Waktu berlalu. Sejak naik jabatan, aku meminta mama untuk tidak lagi menerima jahitan. Aku ingin mama beristirahat dan hanya mengerjakan apa yang beliau suka. Saat mendengar kesehatan eyang putri menurun mama memutuskan pulang kampung untuk menjaga eyang putri.

Dalam kesendirian aku kerap berpikir, apa benar jodohku tak datang juga karena aku yang pernah duduk di depan pintu? Haiissh, konyol sekali. Payah sekali aku sampai kepikiran hal itu. Jodoh itu di tangan Tuhan. ‘Jangan ragukan itu, Maya!’ hardikku pada diri sendiri.

***

Kafe masih terlihat sepi saat aku bergegas hendak keluar dengan map berisi laporan, tiba-tiba ….

“Bruk!”

Aku menabrak seorang pelanggan yang sedang membawa segelas kopi panas.

“Aduh! Maaf …!” Seseorang berseru seiring gelas kopi terjatuh mengenai kakinya, sedangkan map yang kupegang juga terjatuh sebagian, tepat di sebelah kopi yang kini menggenang.

“Oh, maaf, Pak!” Buru-buru aku meletakkan map yang masih selamat, dan segera memastikan sang pelanggan baik-baik saja.

“Uh, panas!” seru si pelanggan sambil mengibas-kibaskan kakinya. Aku segera mengarahkannya untuk duduk di bangku terdekat. Untung masih pagi, belum banyak pelanggan yang datang saat itu.

“Maaf, Pak. Saya tidak melihat jalan. Ini kesalahan saya. Apakah bapak terluka?” Aku benar-benar berharap pelanggan ini tidak memperpanjang perkara, karena ini benar-benar kesalahanku yang tidak waspada.

“Gak papa, Mbak. Saya juga salah, gak sempat menghindar,” kata si bapak. Dia sedang berusaha melepas sepatu dan kaos kakinya. Aku segera mengambil es batu dan sebaskom air. Aku berjongkok di dekat kakinya, dan berusaha mengompres kakinya yang terlihat memerah. Tapi si bapak malah terkejut dengan menarik kakinya dan hendak menepis tanganku yang terulur.

“Ndak usah, Mbak! Terima kasih, biar saya kompres sendiri. Saya gak papa, kok. Terima kasih untuk air dan es batunya.” Si bapak bersikeras untuk melakukannya sendiri. Mungkin dia juga merasa canggung, melihatku berjongkok seperti itu di kakinya. Pemandangan yang akan menarik perhatian banyak orang pastinya.

Haissh, kenapa aku tidak berpikir ke situ? Rasa bersalah dan panik membuatku lupa etika.

Meski sedikit berat aku terpaksa meninggalkannya untuk membereskan map yang sempat kutinggalkan. Tak lupa meminta tolong seseorang untuk membersihkan lantai, dan memesankan kopi yang sama kepada bartender yang bertugas.

Untuk memperbaiki keadaan, aku mengantarkan sendiri kopi itu kepada bapak pelanggan yang kini tengah mengompres kakinya dengan es batu.

***

“Selamat, ya, Mbak Maya! Untung pas Eyang negur kita gak boleh duduk di depan pintu kita langsung pindah ya, Mbak.” Titut berseloroh sambil tertawa lebar.

“Maksudmu, kalau duduknya gak pindah, mbak gak jadi nikah gitu?” tanyaku balik padanya, “Apa iya?”

“Ya, gak tahu! Yang penting, kan, Mbak sudah nikah sekarang!” sahutnya sambil tertawa makin kencang.

‘Benarkah seperti itu?’

Ah, sudahlah. Biarkan itu jadi rahasia semesta. Aku hanya berusaha menikmati kebahagiaanku, melihat mama dan eyang putri yang tersenyum lebar saat mendampingiku di akad nikah pagi itu. Hari ini, tepat tujuh bulan setelah aku membawa baskom untuk mengompres kaki seorang pelanggan yang terluka. Dia suamiku sekarang.

Gresik, 29 Agustus 2024

*Sendiko: sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti “saya patuh/menurut/taat.”

__________________________________

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image