Home / Topik / Wisata / Legenda si Anak Bajang Titisan Leluhur Gunung Sumbing

Legenda si Anak Bajang Titisan Leluhur Gunung Sumbing

Desa Sutopati dan Curug Silawe (Youtube)

Bagi wisatawan ataupun pendaki yang hendak menuju Negeri Sayur Sukomakmur atau Nepal Van Java, akan melewati Desa wisata Sutopati, sebuah desa wisata alam yang terletak di sebelah barat laut kabupaten Magelang, tepatnya di Kecamatan Kajoran, atau berada di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian 875 mdpl

Desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonosobo, Kecamatan Kaliangkrik dan dua desa lain yang termasuk di Kecamatan Kajoran. Memiliki luas wilayah 1.304.149 Ha dan terdiri dari 13 dusun. Di wilayah ini terdapat berbagai macam keindahan alam dan budaya yang jarang bisa ditemukan di kota-kota besar.

Udara yang segar , keindahan alamnya yang memanjakan mata dan pikiran. Siapa saja yang mendatangi tempat di lereng Gunung Sumbing ini, pikiran akan menjadi segar kembali. Suasana pegunungan dan udara yang sejuk cocok bagi mereka yang ingin sejenak melupakan penat dan hiruk pikuk perkotaan.

Asal nama Sutopati berasal dari dua kata, yaitu suto dan pati. Suto berarti anak dan pati berarti raja, sehingga Sutopati berarti anak raja. Konon pada masa itu hiduplah dua Kyai yang bernama Simbah Kyai Dongkar dan Kyai Angggo Kerti. Dikisahkan Kyai Dongkar tidak memiliki anak sedangkan Kyai Anggo Kerti memiliki dua anak. Karena kedua kyai tersebut bersahabat baik, maka kedua anak Kyai Anggo Kerti juga dianggap seperti anak sendiri oleh Kyai Dongkar. Daerah kekuasaan kedua kyai inilah yang kemudian bernama Sutopati.

Selain hamparan sawah, kebun, dan bukit-bukit yang indah, di Desa Sutopati terdapat aliran air terjun yang indah bernama Curug Silawe yang berada di sebelah barat desa. Air terjun Curug Silawe yang berasal dari salah satu mata air Gunung Sumbing memiliki ketinggian sekitar 60 m. Konon air terjun ini dihuni oleh banyak laba-laba atau lawe sehingga dinamakan Curug Silawe. Udara sejuk Gunung Sumbing, panorama indah hutan pinus, dan suara-suara alami yang ada di sekitarnya akan membuat kembali teringat pada kebesaran-Nya. Masyarakat yang kental dengan keramahannya turut menguatkan suasana pedesaan, menjadikan wisatawan betah di tempat ini

Bicara tentang pedesaan, biasanya banyak menyimpan mitos di tempat-tempat tertentu, begitu juga dengan tempat ini. Masih banyak mitos yang dipercaya oleh warga yang dapat diceritakan kembali. Beberapa kebudayaan yang kemudian ditampilkan dalam seni tari khas yang dimiliki desa ini. seperti lengger, topeng ireng, tari sulasih, sontoloyo, badut dan masih banyak lagi yang lain.

Seperti juga desa-desa lain, desa yang terkenal sebagai Desa Wisata ini juga memiliki mitos yang sering disebut dalam cerita rakyat Gunung Sumbing, meskipun tidak ada tokoh yang secara eksplisit disebut sebagai “titisan leluhur” gunung. Namun, ada cerita tentang “Si Anak Bajang” yang dianggap sebagai titisan leluhur Gunung Sumbing.

“Si Anak Bajang” adalah tokoh dalam cerita rakyat Gunung Sumbing yang dipercaya sebagai titisan leluhur gunung. Memiliki keterkaitan erat dengan Gunung Sumbing dan dipercaya menjaga serta melindungi gunung tersebut.

Dalam cerita, “Si Anak Bajang” sering digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan memiliki kekuatan spiritual yang berhubungan dengan Gunung Sumbing. Ia diyakini sebagai pelindung gunung dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Namun, perlu untuk dicatat bahwa cerita “Si Anak Bajang” dan kaitannya dengan Gunung Sumbing lebih banyak berkembang secara lisan dan turun temurun dalam cerita rakyat. Tidak ada bukti tertulis yang secara resmi mencatat kisah ini.

Meskipun tidak ada sosok titisan leluhur yang jelas, cerita “Si Anak Bajang” memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat Jawa, khususnya yang tinggal di sekitar Gunung Sumbing, memiliki hubungan spiritual dan mitologis dengan gunung tersebut. Uniknya mayoritas anak Dusun Mentengan Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran berambut Bajang.

Namun, anak-anak berambut bajang di lereng selatan Gunung Sumbing berbeda dengan rambut gimbal atau gembel dari Dieng Wonosobo. Anak-anak rambut bajang di desa Sutopati tidak berambut gembel tapi berwarna rambut merah.

Orang tua yang memiliki anak berambut bajang harus memperlakukan si anak dengan istimewa. Pada usia tertentu akan dilakukan upacara pemotongan rambut melalui proses ruwatan dengan syarat yang diminta si anak. Orang tua dengan berbagai usaha harus mengabulkan apapun yang diminta sang anak. Jika tidak, orang tua mereka percaya petaka akan datang.

Beruntung jika apa yang diminta si anak tidak aneh-aneh, biasanya berupa jajanan pasar, mainan, sepeda, hingga hewan ternak warna tertentu. Setelah permintaan si anak dipenuhi akan orang tua akan mempersiapkan uboh rampe (kelengkapan) ritual pemotongan rambut bajangnya.

Layaknya hajatan besar, prosesi pemotongan rambut bajang digelar selama 3 hari. Diawali doa bersama, kenduri ratusan tamu kerabat dan tetangga hingga pemotongan rambut bajang oleh sesepuh desa. Jika mampu orang tua si anak akan menyembelih kambing.

Menurut warga Dusun Mentengan, anak-anak berambut bajang diyakini sebagai titisan Kyai Dompyong dan Ki Ageng Makukuan, leluhur masyarakat Sutopati. Mereka dipercaya memiliki daya lebih dan mampu berhubungan dengan alam gaib. Sehingga harus digelar prosesi ritual istimewa saat memotong rambutnya.

Prosesi pemotongan itu bermakna memohon keselamatan kepada Tuhan dari segala bentuk pengaruh buruk. Pemotongan rambut bajang dilakukan saat anak memasuki usia 4 atau 7 tahun, agar ucapan permintaan tidak berubah-ubah. Konon jika permintaan tidak dituruti, kelak si anak gampang sakit dan hidup tidak tentram.

Berkah semesta tersebut, dipercaya sudah turun temurun dari nenek moyang warga lereng Sumbing. Hampir 50 persen anak-anak lereng Sumbing berambut bajang dan menjalani tradisi ritual potong rambut bajang yang dilestarikan hingga saat ini.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image