Home / Non Fiksi / Kehidupan Introvert: Hal-hal yang Mengusik Kedamaian Hati Seorang Introvert & Cara Mengembalikannya

Kehidupan Introvert: Hal-hal yang Mengusik Kedamaian Hati Seorang Introvert & Cara Mengembalikannya

Introvert (LA Times)
2

Seorang introvert yang tenang dan lebih suka berpikir dikenal sebagai penyuka kedamaian, khususnya kedamaian hati. Adanya kedamaian hati bukan hanya masalah kecil atau biasa-biasa saja bagi dirinya. Masih banyak orang yang belum menemukannya, atau mungkin baru merasa damai sebentar/sesaat saja, kemudian damai itu seakan-akan hilang lagi. Seperti baru saja lega, eh, harus kembali deg-deg-an atau terusik lagi.

Apa saja ‘sih contoh hal-hal ‘kecil’ yang bisa menjauhkan kita dari kedamaian hati, dan bagaimana cara mengembalikannya?

1. Rasa takut pada kritik-saran.

Rasa takut/khawatir pada sesuatu yang tak menentu/tak pasti merupakan respons alamiah yang sering kita alami. Rasa takut, terutama pada kritik dan atau saran, juga sangat alami. Pada dasarnya masing-masing individu telah berusaha maksimal, berbuat seperti yang ia bisa/mampu. Kritik atau saran yang kemudian datang entah diundang atau tidak, meskipun/sekalipun bermaksud baik/positif, terkadang bisa ‘melukai’. Barangkali lewat cara penyampaiannya, waktu/sikon yang kurang tepat, atau respons aktif yang dituntut secara langsung oleh si pemberi kritik-saran. “Kamu harus gitu, dong!” atau, “Kamu ‘sih keras kepala, berubahlah!”

Tidak semua kritik-saran perlu diterima mentah-mentah alias langsung dijalankan. Kita sebagai introvert harus berusaha untuk tidak selalu mendengarkan dunia luar, walaupun mendengarkan adalah hal yang baik. Tampung saja semua dan ucapkan terima kasih. Setelah menerima kritik-saran, dengarkan juga apa kata hati sendiri. Olah/kombinasikan dengan apa kata orang lain itu. Dengan melakukan apa yang terbaik menurut diri, kedamaian hati akan kembali.

2. Perbedaan kepribadian dengan teman-rekan atau bahkan anggota keluarga sendiri.

Perbedaan kepribadian sangat lumrah dan patut diterima dan dimaklumi, namun ada kalanya menimbulkan perselisihan. Misalnya ada masalah yang sama-sama dialami namun berbeda pendapat/cara bagaimana solusi/pemecahannya. Si ekstrovert seringkali heboh sendiri, getol memberikan saran-saran mujarab yang tak boleh ditolak. Si introvert seringkali terpojok karena tidak diberi kesempatan berpikir, bicara juga susah. Menahan diri memang sulit dilakukan bukan karena gak punya kata-kata, melainkan karena merasa tak punya kesempatan buka suara.

Kedamaian hati akan kembali saat kita mampu menyadari jika semua orang memiliki cara masing-masing. Ibarat saat ingin melakukan perjalanan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, bisa juga dengan kendaraan bermotor atau moda transportasi lainnya. Tidak ada cara yang salah atau benar. Mungkin naik kendaraan bisa lebih aman, lebih cepat, akan tetapi bisa pula lebih memakan biaya. Berjalan kaki terasa lambat akan tetapi jauh lebih irit dan lebih buat sehat. Apapun caranya, yang penting bisa tiba di tujuan dengan selamat. Membiarkan si ekstrovert mencoba atau melakukan terlebih dahulu mungkin akan membuatnya lega. Berhasil atau gagal? Sudah bukan lagi masalah kita. Kedamaian hati tak perlu dikorbankan.

3. Keadaan yang tiba-tiba berubah, tak sesuai ekspektasi. Ibarat ingin semua berjalan lancar dan mulus, tiba-tiba ada hambatan tak terduga. Ibarat sudah rencana ingin piknik/kencan di siang hari nan cerah, tiba-tiba langit mendung dan turun hujan. Gak jadi pergi, menguaplah damai di hati. Malah marah-marah, ‘mengutuki’ hari, menyalahkan si ini atau si itu.

Hari boleh kelabu, hati Anda jangan. Tidak jadi piknik, bisa masak-masak atau makan bersama saja di rumah. Atau menunggu hujan berhenti, baru berangkat. Atau jika jadi malas, rencanakanlah piknik untuk besok atau kapan saja bisa. Isilah sisa hari dengan kegiatan lain yang disukai.

Kesimpulan: Sebagai seorang introvert, masih ada banyak hal lain yang bisa menyebabkan damai di hati menghilang. Cara terampuh mengatasinya, tetaplah tenang. Terimalah apa kata orang lain, akan tetapi tampung dahulu. Tak usah langsung dijalankan, melainkan saring dan lakukan sesuai kata hati. Berbeda kepribadian-pendapat dengan orang lain itu biasa, terimalah dan berikanlah mereka kesempatan berbuat apa kata mereka terlebih dahulu. Situasi yang berubah ada di luar kuasa kita. Alihkanlah penghilang kedamaian itu dengan melakukan hal lain yang menyenangkan.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 1 Juli 2025

Tag:

2 Komentar

  • Ya, saya rasa kita semua pasti memiliki rasa takut terhadap “penolakan”, apalagi kalau penolakan tersebut ditujukan kepada diri kita secara personal. Mungkin bagi introvert yang cenderung jarang membuka diri kepada orang lain, penolakan akan terasa extra menyakitkan. Saya rasa di sinilah peran penting dari keluarga dan teman, untuk memberikan dukungan moral pada saat teman/saudara kita terluka.

    Jangan sampai kita sebagai teman/saudara malah menjadi sumber sakit hati dan penolakan terhadap teman/saudara kita terkasih. Mari kita berusaha untuk menjadi teman/saudara yang baik, yang membangun dan menguatkan, bukan yang merongrong dan melemahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image