Banyak orang ingin nilai tinggi dan lulus dari sekolah atau kuliah dengan nilai memuaskan, akan tetapi… tidak ingin diuji.
Kata ‘ujian’ terkesan begitu menakutkan. Ujian di sini bukan hanya berarti ulangan terakhir, evaluasi atau asesmen belaka. Ujian atau tes atau cobaan kehidupan datang dan pergi, suka gak suka, kita akan (selalu) mengalaminya.
Setiap hari kita diuji Tuhan Yang Maha Esa lewat berbagai hal. Paling sering kita diuji lewat orang lain yang selalu ada di sekitar kita. Namanya juga makhluk sosial, tentu setiap hari kita (wajib) berinteraksi dengan orang lain. Bukan hanya lewat obrolan, akan tetapi dalam segala aspek. Kita hidup dalam keluarga dan masyarakat. Perbedaan-perbedaan yang kerap timbul selalu menguji kesabaran. Ujian juga datang dalam situasi dan kondisi yang tak dapat kita cegah. Cuaca yang tak menentu, perubahan-perubahan mendadak dalam hidup, sakit-penyakit. Ujian datang dalam bentuk godaan kenikmatan dunia. Uang suap, bujuk rayu, pemenuhan keinginan di atas kebutuhan, dan lain sebagainya.
Semua ujian yang Tuhan berikan itu tidaklah bertujuan untuk memberikan beban/tekanan untuk kita. Bukan untuk menyebabkan kita takut, khawatir, ngambek, apalagi ‘malas’ hidup apabila soal ujiannya terlalu sukar.
Ujian hidup ibarat ujian sekolah. Semakin berat soal ujian, nilai yang akan kita terima apabila berhasil menyelesaikannya akan semakin besar. Nilai esai/uraian biasanya lebih tinggi daripada nilai pilihan ganda atau menjodohkan, bahkan lebih dari mengisi. Esai atau uraian terasa sukar, njlimet, bikin mumet puyeng. Padahal jika berhasil dijawab/dilalui, nilainya bisa sangat membantu.
Berikut ini sebuah kesaksian nyata. Semasa sekolah, penulis suka esai/uraian Bahasa Indonesia berupa mengarang bebas. Banyak murid pusing mau nulis apa, namun bagi penulis, mengarang bebas adalah simbol kebebasan. Misalnya fiksi/cerpen. Mau temanya tentang apa, tokohnya siapa, jalan ceritanya bagaimana, ending-nya seperti apa, ya suka-suka penulis. Makanya penulis hingga saat ini masih memilih menulis sendiri tanpa bantuan kecerdasan buatan (AI) atau alat lainnya. Bisa mikir sendiri mau nulis apa saja, gak usah diatur-atur siapapun, bukankah itu menyenangkan? Nilainya juga lumayan tinggi karena semua karangan penulis dianggap unik dan segar terus, ibarat kecap manis, gak ada duanya.
Ujian kehidupan ini jika kita hadapi dengan berbagai ‘senjata’ luar biasa maka akan berkurang juga tingkat kesulitannya. Senjata-senjata itu bernama kesabaran, pengendalian diri, rasa empati, keinginan untuk bertahan, cinta kasih, dan paling utama adalah doa.
Apabila saat ini Anda sedang dilanda masalah pelik, kesehatan menurun, dikelilingi orang-orang yang mengecewakan, tetaplah berdoa. Keadaan tak juga berubah dan tak bisa kita ubah, biarlah kiranya Tuhan Sang Maha Pencipta yang tahu segala-galanya mampu mengubahkan dari yang tiada menjadi ada.
Ujian itu selalu kita lalui setiap hari sepanjang hidup kita. Jika kita lalui bersama Sang Pemberi Kehidupan, kita mungkin tak selalu dapat nilai plus atau tinggi, akan tetapi selalu berhasil melaluinya. Seberapapun ‘nilai ujian’ kita, yang terpenting bukan angkanya melainkan passed the test alias lulus.
Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan nilai sesuai dengan apa yang kita lakukan saat mengerjakan ujian itu. Apakah mengarang bebas, menggambar bebas, hingga saat dihadapkan pada pertanyaan sukar ‘aku harus bagaimana?’ atau ‘apa solusi atas masalahku ini?’
Beda dengan sekolah/kuliah, tidak ada nilai A atau B. Asal lulus ujian saja, berkat dan hikmah yang akan diterima sangat besar. Nikmatilah ujian-ujian kehidupan kita dan terimalah imbalan luar biasa dari-Nya sesuai dengan doa dan usaha kita.
Semoga bermanfaat.
Jakarta-Tangerang, 4 Juli 2025











