terbang melintasi Samudra Atlantik,
kelas ekonomi untuk ternak, tidaklah romantik.
lututmu terangkat hingga ke dada,
dan siku seseorang menempel erat,
ke tulang rusukmu bagai jerat
sementara dari barisan di belakang,
orang asing itu membayangkan,
menabuh tifa di punggung kursi,
seirama dengan alunan musik perkusi,
di iPod barunya yang berisik.
dan meskipun kau mungkin mencoba tidur,
pramugari ngotot mendorong,
lalu lalang bolak balik di lorong,
berharap membujukmu dengan senyum plastik,
membeli dasi bebas bea motif batik
atau headset untuk film yang tak ingin kau tonton.
dan kemudian, tepat ketika kau berpikir monoton
sebaiknya kau menyerah dan membeli minuman,
mereka menghilang.
lenyap dari sudut pandang
ke dalam ruang bertutup tirai di belakang,
dan yang kau dengar
tak lain tak bukan tawa teredam
dan olok-olok tak berguna obrolan mereka.
‘lalu dia bilang begini’,
‘jadi aku jawab begitu’.
saat kau memejamkan mata lagi
mencoba tidur siang barang sekejap,
pria berambut abu-abu yang sebelumnya pendiam,
duduk di sampingmu di kursi dekat jendela,
tiba-tiba bertanya, tanpa basa-basi,
apakah kau pernah ke Yunani.
dalam kondisi setengah mengantuk bermeditasi,
butuh waktu sejenak untuk memahami,
bahwa omong kosong ini ditujukan padamu,
dengan bodohnya, alih-alih berpura-pura tidur,
menutup mata rapat-rapat
dan menghitung domba kabur,
kau mendengar dirimu sendiri mengakui,
bahwa, pernah, kau pergi ke sana bersama istrimu.
dengan demikian memberinya izin
untuk mencurahkan isi hatinya,
sampai kau pikir kau akan berteriak,
kalau dia berkisah tempat lain
yang pernah dia kunjungi.
dengan mata sayu, putus asa kini
kau amati selasar mencari
tempat untuk bersembunyi,
Namun pramugari setinggi dua ratus senti
yang selalu tersenyum tanpa unjuk gigi,
muncul kembali dengan troli logam berat,
memblokir di depan dan belakang pintu darurat.
kau ingin menangis, tetapi malah tertawa.
hingga kau sadar kau butuh toilet,
kan kini sama sekali tak ada jalan meski kebelet.
kau perhatikan langkah mereka
menuruni pesawat,
perlahan menyerahkan selofan
kantong plastik terbungkus,
di atas kepala dan sandaran kursi.
kotak tertutup rapat
memancarkan panas.
membayang dada ayam panggang,
makanan yang dikurung
untuk penumpang yang ditawan.
dan semakin rasa tak nyaman bertambah,
kecepatan troli maju melambat.
mengapa sebelumnya kau,
tidak terpikir ingin buang air kecil,
tapi sekarang saat gawat?
saat itu seorang penumpang penderita diabetes,
menyadari dia membutuhkan,
makanan khusus.
jaju maju troli berhenti,
sementara setiap pramugari menjaja dasi,
kantong plastik muntah tersembunyi,
untuk alternatif di dalam turbulensi.
untuk meredam tekanan
yang memuncak di selangkangan.
kau kendurkan ikat pinggang sedikit lagi,
bertanya-tanya tentang kemungkinan
kau bisa melewati di bawah kiri atau kanan,
mengelilingi blokir selasar.
akhirnya, ketika semua orang sudah kenyang,
troli perlahan kembali menuju rumah.
dan kau bebas berkeliaran lagi,
tapi sekarang, dengan wajah lemas cemas.
antrean toilet sudah setengah jalan,
menuruni pesawat.
meskipun kebutuhanmu
buang hajat kecil teramat besar,
tak ada pilihan lain
selain menunggu,
dan kau pun tertatih-tatih berbaris,
dan memperhatikan dengan penuh minat senyum,
di setiap wajah yang kembali.
betapa dahsyatnya kekuatan
untuk mengubah, tempat ini
yang kau tuju.
bisakah kenikmatan mengalahkan,
lega di ketinggian tiga puluh ribu kaki?
mungkin ada satu yang bisa menandingi,
dan dari kenyamanan tempat dudukmu.
andai kau menyetel di sepanjang penerbangan,
nosel di dekat lampu bacamu,
terus menerus meniup,
maka kau bisa kentut
sepanjang malam,
dan tak seorang pun akan pernah tahu.
Bekasi, 9 September 2025
#puisipanjang











