Home / Fiksi / Cerpen / Kopi untuk Dibawa

Kopi untuk Dibawa

Kopi Take Away

Dening tidak yakin apakah keberuntungannya sangat baik atau benar-benar buruk secara tragis.

Ia memperhatikan keluarganya dan keluarga Danubroto, sahabat lama mereka, berpencar ke dalam dua kendaraan pertama yang terparkir di halaman rumah orang tuanya. Termasuk kakaknya yang berkhianat, Bayu, yang awalnya berjanji untuk satu mobil dengannya.

Kendaraan ketiga, yang berisi hampir semua barang bawaan dan peralatan berkemah, hanya cukup untuk dua penumpang—dia dan putra sulung pasangan Danubroto, Satria.

Satria, yang baru saja pindah kembali ke kota kecil mereka setelah hampir delapan tahun tinggal dan bekerja di dua pulau yang berbeda.

Satria, yang dia taksir setengah mati hampir sepanjang masa kecilnya.

Tentu, mereka telah berteman hampir sepanjang hidup mereka, tetapi ketika ia pergi, Satria masih anak laki-laki ceking yang baru saja beranjak remaja yang dia tulis di buku hariannya sejak kelas lima SD.

Dan di sinilah dia, kembali dan duduk di kursi pengemudi.

Rambut hitamnya tidak lagi terpotong dekat kulit kepalanya. Kini, melambai lembut dan mengusap ujung telinganya.

Dia juga semakin berotot, pikirnya getir. Bahunya yang lebar melengkapi tinggi badannya sejak masa puber. Satria dengan tubuh barunya, seolah selalu begitu.

Satria membetulkan letak kaca spion, memamerkan senyum yang jelas tak lagi dianggap Dening mempesona. Mereka berdua sudah dewasa, dan Dening tak lagi merasakan apa pun.

Lagipula, dia praktis orang asing.

Senyumnya memudar saat dia menatap Dening.

“Kamu baik-baik saja, Dening?” tanyanya.

Dening mengendurkan wajah cemberutnya dan berusaha untuk tidak malu-maluin. Dia tersipu dan tak ingin membiarkan emosinya meluap.

Dia malah memaksakan senyum.

“Yap! Maaf, kurasa masih terlalu pagi.”

Astaga. Kenapa suaraku terdengar seperti tikus mencicit?

Kali ini Satria tersenyum sedikit lebih lembut.

“Kau memang bukan orang pagi.”

Satria mengambil ponselnya dari dudukan di dasbor dan menyerahkannya padanya.

“Penumpang mendapat kesempatan jadi DJ.”

Arak-arakan berangkat satu per satu saat rombongan memulai perjalanan darat untuk berkemah selama dua minggu. Perhentian pertama mereka adalah di daerah yang indah tepat di luar perbatasan provinsi, tempat keluarganya dan keluarga Danubroto berkemah berkali-kali sebelumnya. Perjalanan itu memakan waktu enam jam.

Enam jam di mobil yang sama dengan seorang cowok yang hanya beberapa kali dia ajak bicara selama beberapa tahun terakhir. Semua itu karena Bayu mengingkari kesepakatan mereka untuk ikut dengannya. Dening curiga itu tak ada hubungaan dengannya, melainkan lebih berkaitan dengan misi Bayu untuk mencari tahu lebih banyak tentang seorang teman Wulan, adik Satria.

Tapi tak ada yang bisa dia lakukan sekarang. Dia hanya harus bertahan. Dening akan menganggap ini sebagai bertemu teman baru, daripada duduk canggung di sebelah teman lama.

Ugh.

Ternyata dia dan Satria menggunakan aplikasi streaming audio yang sama dan masuk ke akunnya sendiri untuk mengakses daftar putarnya. Saat musik mengisi keheningan, dia memperhatikan lingkungan sekitar mereka, lalu kota yang mereka lewati.

Ketika Satria berbelok ke tempat parkir, Dening meliriknya dengan heran. Mereka baru berkendara lima belas menit.

“Kenapa kamu berhenti?”

Satria mengangkat bahu.

“Kamu benar. Ini masih terlalu pagi, dan kalau kita akan berkendara selama enam jam, kita butuh bahan bakar yang berkafein.”

Dening baru sadar Satria berhenti di sebuah kedai kopi lokal.

Satria menatapnya.

“Kamu masih minum kopi, kan? Belum berubah?”

Dening menyeringai, lupa bahwa dia seharusnya merasa tidak nyaman dengan cowok ini. “Ada yang tidak pernah berubah.”

Dia keluar dari mobil dengan lebih antusias daripada yang dirasakannya sepanjang pagi. Satria menahan pintu kaca untuknya dan berdiri di sampingnya sementara karyawan remaja itu, yang juga tampak setengah tertidur, menerima pesanan mereka.

“Dua latte karamel es ukuran sedang, satu dengan krim kocok ekstra dan karamel ekstra.” Satria mengeluarkan ponselnya. Dening berusaha menyembunyikan keterkejutannya, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk menatapnya.

Wajah Satria semu dadu.

“Maaf. Seharusnya aku bertanya. Pesananmu mungkin berubah, ya?”

“Belum. Aku cuma heran kau masih ingat.”

“Yah, kamu dulu sudah memesannya berkali-kali.”

 Satria memindai kode QR yang disodorkan karyawan itu dan tidak menatap matanya.

Kembali di mobil, mereka menyesap kopi, dan Dening segera merasa lebih rileks. Dia mulai berbicara lebih terbuka, menunjukkan perubahan rute, landmark lama, apa saja.

Mereka sudah jauh memasuki pegunungan ketika ponsel Satria kehilangan sinyal dan musik berhenti diputar. Dening menyadari semakin banyak dia berbicara, semakin tenang Satria.

“Maaf, seharusnya aku tidak terus mengomel padamu. Kamu mungkin lebih suka suasana tenang sekarang.” Dia tersenyum untuk menyembunyikan kecemasan yang kembali muncul.

“Tidak! Tidak, bukan itu. Aku tidak keberatan mendengarkanmu. Aku tidak pernah keberatan.” Meskipun dengan kata-kata yang menenangkan itu, tubuh Satria masih tegang, matanya tetap menatap jalan di depan.

“Oh. Baiklah. Baiklah kalau begitu.”

Namun Dening tetap terdiam, tenggelam dalam pikirannya.

Ketika Satria menghembuskan napas, Dening hampir terlonjak.

“Oke, aku harus memberitahumu sesuatu. Lebih baik kukatakan sekarang.”

Satria memasang tampang serius dan menoleh agar bisa menatap matanya.

“Aku ingat pesanan kopimu karena aku mencintaimu hampir sepanjang hidup kita. Aku pikir setelah bertahun-tahun, rasa itu akan memudar, tapi ternyata tidak, dan aku tidak bisa fokus pada hal lain tanpa sepengetahuanmu. Jadi, dengan risiko membuat sisa perjalanan ini terasa canggung, kalau kamu belum benar-benar bosan denganku di akhir perjalanan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kencan. Kita berdua saja. Bagaimana menurutmu?”

Dening tersenyum. Dia punya banyak hal untuk dikatakan. Dan tiba-tiba dia punya firasat yang sangat, sangat baik tentang liburan ini.

Bekasi, 18 Agustus 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image