Home / Genre / Cerita Anak / Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Suatu malam, seorang anak laki-laki cerdas berusia sekitar 5 tahun bertanya kepada ibunya.

“Ibu, kenapa ada bintang?” tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. Pancaran kecerdasan berkilat di matanya yang agak sipit.

“Hmm … kenapa, ya?” Ibunya tersenyum kecil.

“Kata kamu kenapa, Nak?” ibunya balik bertanya.

“Karena gelap, eh, malam. Kalau siang, kan, matahari ya, Bu. Bukan bintang,” jawabnya sambil menatap langit malam berbintang.

“Betul, tapi karena apa lagi, ya?” Ibunya menatap sang anak.

“Langitnya cerah. Iya, kan, Bu?”

Sang anak melihat ibunya, menunggu pembenaran tanyanya.

“Iya. Apa lagi ya?” Ibunya tersenyum melihat sang anak kesayangannya berpikir keras.

“Karena langitnya nanti sedih kalau nggak ada bintang. Langitnya kosong. Kan, mataharinya sudah pulang,” jawaban polos anak laki-lakinya membuat sang ibu tercekat.

“Oh, begitu, ya? Tapi kamu masih ingat, kan? Di sekolah diajarin benda langit apa saja, ya? Ibu lupa. ” Ibunya pura-pura berpikir.

“Ingat, dong,” sahut sang anak cepat.

“Di langit ada matahari, bintang, komet, asteroid dan satelit, Bu.” Sang anak terlihat bangga.

“Wah kamu hebat.” Ibunya tertawa kecil mengusap rambut anaknya dengan lembut.

“Tapi Bu, kayaknya ada lagi benda langit yang ibu guru bilang,” sang anak melihat ibunya dengan serius.

“Apa itu?” tanya ibu.

“Kunang – kunang bu” sang anak nampak agak sedih.

“Kunang-kunang kan, binatang, Sayang. Bukan benda langit?” Ibunya bertanya pelan.

“Tapi kan, kunang-kunang itu gantinya bintang, Bu. Bintang itu tidak selalu ada. Kalau sedang mendung, pasti bintangnya sembunyi,” sang anak menjelaskan.

“Ibu, ingat tidak waktu lihat kunang-kunang di rumah Kakek. Banyak sekali, Bu, kunang-kunangnya.” Sang anak berseri-seri.

“Aku lihat sama Ayah. Wah, kunang-kunangnya sama seperti bintang, Bu.” Sang anak melompat kecil.

Ibunya tertawa melihat anaknya senang seperti itu.

“Kamu suka kunang-kunang?” tanya ibunya kemudian.

“Pastinya… aku suka bintang.. kunang-kunang.. suka semuanya.. ” sang anak terlihat gembira sekali.

“Tapi mereka kasihan bu ” tiba-tiba air muka sang anak berubah.

“Kenapa?”

“Kunang-kunang tidak bisa bertemu bintang,” katanya, membuat ibunya terkejut.

“Loh, kenapa?” Kali ini ibunya penasaran dengan jawaban anaknya.

“Iya dong, Bu. Karena kalau ada bintang kunang-kunang tidak kelihatan. Kalau ada kunang-kunang, pasti bintangnya hilang,” sang anak bersemangat menjelaskan.

“Oh, begitu? ” Sang ibu tersenyum.

“Tapi kamu tahu tidak? Meskipun mereka kelihatannya tidak pernah kelihatan sama-sama tapi mereka sebetulnya bersahabat, loh.” Ibunya tersenyum lagi.

“Iya. Mereka berteman dan saling berjanji untuk menemani  langit biar tidak gelap.”

” Wah, bintang kunang-kunang hebat ya, Bu!” sang anak tertawa gembira.

“Tapi kamu tahu tidak, kenapa kalau siang tidak ada bintang atau kunang-kunang?” tanya ibu sambil memperhatikan putra bungsunya dengan sayang.

” Karena terang.. iya kan bu? Jawab sang anak berseri-seri.

“Betul, tapi ada yang lebih tepatnya lagi. ” Ibu tersenyum.

“Apa bu?” Sang anak melihat ibunya penuh rasa ingin tahu.

“Karena sebetulnya bintang itu selalu ada di langit, baik siang atau pun malam. Hanya saja pada saat siang bintang itu tidak terlihat karena langitnya terang,” jelas sang ibu.

Sang anak nampak berpikir. Sesekali matanya menatap ke atas langit. Meskipun sedikit mendung tetapi bintang gemintang masih gemerlapan di atas langit sana.

“Nah, kalau malam karena langitnya gelap maka bintang-bintang nampak jelas terlihat,” Sang Ibu menambahkan.

” Kalau kunang-kunang juga selalu ada di langit, Bu?” tanya sang anak kemudian.

“Kunang-kunang itu makhluk hidup nak. Mereka bebas terbang ke mana pun dan kapan pun. Namun mereka lebih suka tinggal di tempat yang masih alami, bebas dari polusi juga tempat yang masih banyak pohonnya,” ibu berkata panjang lebar.

Pada saat siang hari mereka sebetulnya tak terlihat karena terang,” jawab ibu.

“Sama seperti bintang ya, Bu,” sahut sang anak.

“Iya, Nak. Sudah tahu, kan, sekarang, bintang kunang-kunang kesukaanmu itu seperti apa?” tanya ibu sedikit tertawa kecil.

“Iya, Bu. Bintang kunang-kunang keren. Mereka selalu ada. Meskipun tak terlihat di siang hari, mereka tetap bersinar. Mereka tetap setia di malam hari untuk bersinar dalam gelap.”

” Mereka juga selalu jadi sesuatu yang hangat di hati ya, Nak. Bisa membuat kamu tersenyum saat sedang sedih. Iya, kan?”

Sang ibu memeluk sang anak penuh sayang.

Sang anak balas memeluk ibunya.

“Ibu juga bintang kunang-kunangnya aku bu… selalu ada kapan aja. ” Sang anak mengelus pipi ibunya dengan sayang.

Sang ibu tersenyum terharu, kembali mengeratkan pelukannya.

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Antologi KompaK’O

Random image