Banyak pekerja dan pegiat karya seni sehari-hari bekerja atau berkarya ‘di bawah tekanan yang tidak kelihatan’. Bukan tekanan secara harfiah dari atasan atau beban kerja, melainkan tekanan yang berasal dari dalam diri sendiri.
Sebagai makhluk yang wajib bekerja (bukan hanya bekerja dalam arti sempit seperti di perusahaan dan sebagainya, melainkan bertugas/memiliki kewajiban-kewajiban dalam keluarga/masyarakat), kita seringkali kurang mampu konsisten atau bertahan, kurang tekun dalam melakukannya. Entah karena jenuh, bosan, situasi dan kondisi yang kurang menyenangkan dan lain sebagainya. Bagaimana saja cara-cara sederhana mengatasi semua hal negatif tersebut dan meraih kebahagiaan dalam bekerja?
- Bekerja dan berkaryalah bukan demi apa yang kelak akan Anda dapatkan (gaji/reward atau pujian dll.), melainkan demi menyenangkan orang lain dan membahagiakan diri Anda sendiri.
Kebanyakan orang hanya menginginkan hasil dan penghasilan, namun lupa jika ada yang harus dikerjakan untuk memperoleh hasil dan penghasilan itu. Jika hanya berorientasi pada hasil, apa yang dikerjakan menjadi tidak enjoyable lagi, konstan, melelahkan, membosankan, bahkan tidak lagi fokus pada proses. “Yang penting hadir!”,“Yang penting jadi!” atau “Yang penting nyetor!”. Prinsip semacam itu selain tidak akan membawa hasil terbaik, juga akan menyebabkan ketidakpuasan, ketidakmaksimalan dan sebagainya.
Dengan melakukan yang terbaik sebisa Anda, Anda bukan hanya akan menyenangkan orang lain (anggota keluarga/klien/konsumen dan lain sebagainya) melainkan juga membahagiakan diri Anda sendiri. Kebahagiaan itu bisa berupa kepuasan sudah membantu, sudah membuat mereka tersenyum, ‘kenang-kenangan berharga’ berupa portfolio/rekor kerja yang baik, dan lain sebagainya. - Bekerjalah seolah-olah bekerja untuk (kemudian digunakan) diri sendiri, sehingga semua terfokus pada apa yang dapat diri berikan. Bukan “Bagaimana jika orang lain yang melakukannya?” atau, “Bagaimana jika belum bisa sebaik orang lain?”
Memasukkan kata-kata ‘orang lain’ atau mengandai-andaikan apapun tentang orang lain bukan hanya tidak ada gunanya, melainkan hanya membuat Anda menjadi sosok ‘orang lain’ yang sebenarnya tidak ada/belum ada tersebut. Keinginan melakukan sesuatu untuk diri sendiri membuat kita terpacu to do our best sehingga tidak ada waktu untuk menunda, melihat kiri-kanan, atau mengingkari komitmen dan integritas yang kita miliki. - Bekerja dan berkaryalah semampunya, sebisanya sesuai bakat, minat dan kebisaan Anda. Khawatir/takut jika tersaingi atau bahkan kalah oleh kecerdasan buatan atau orang lain yang lebih berpengalaman? Tidak akan, seandainya Anda bisa lebih baik/mampu daripada apa yang kecerdasan buatan atau siapapun saingan dapat berikan. Seperti dalam perumpamaan talenta dalam Alkitab, ke dalam tangan Anda telah diberikan pemberi kerja (Tuhan) sesuai kemampuan Anda mengelolanya. Tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit. Jika masih merasa sedikit, kurang, atau tidak sebanyak orang lain, itu bukan berarti Tuhan pelit atau pilih kasih. Daud muda saja ‘hanya’ seorang gembala domba dan bukan seorang tentara, tetap saja Tuhan memampukannya melawan Goliat ‘Si Raksasa’ yang sangat ditakuti tentara-tentara Israel.
Bekerjalah, berkaryalah dengan penuh semangat dan sukacita. Apa yang Anda lakukan tidak akan pernah sia-sia atau habis, manfaatnya ibarat energi bagi orang lain di luar sana. Bukan hanya sesaat lalu habis, melainkan berkelanjutan. Karya seni akan selalu direnungkan, dinikmati dan dihayati. Tulisan akan tetap dibaca, produk jasa akan selalu terkenang, produk dan benda yang dihasilkan digunakan bagi kelangsungan hidup dan menjadi berkat.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 21 Agustus 2025











