Beranda / Fiksi / Puisi / Dia Yang Dimerdekakan Tuhannya

Dia Yang Dimerdekakan Tuhannya

Dia Yang Dimerdekakan Tuhannya
1

Malam menangis dalam pelukan kelam
Pendar cahaya lilin dan ratusan mawar tak mampu menggusur duka
Tangis dan air mata yang meruah basahi persada
Mengenang seseorang yang binasa lewat cakar digdaya

Ia hanya seorang lelaki biasa
Helm dan dan jaket hijau kusam yang selalu dibasahi keringat.
Baginya setiap langkah adalah doa
Yang diucapkan terburu-buru sebelum berangkat.

Memacu roda motornya menyentuh aspal.
Bumi tempatnya mencari makan
Jalanan jadi altar pengabdian
Setiap putaran rodaΒ  adalah langkah kecilnya
Untuk memenuhi sepiring harapan mereka yang dikasihinya

Harinya selalu diawali dengan niat sederhana
Mencari sesuap nasi
Membawa pulang sedikit rezeki
Agar bara dan tungku di dapur tetap menyala
Agar tidak ada rasa lapar yang membuat wajah-wajah terkasih terjaga

Setiap tarikan gas adalah janji kecil pada kehidupan
Setiap belokan adalah bentuk bakti untuk masa depan
Perjuangan bukan hanya tentang aspal jalanan
Melainkan kitab panjang tempat menulis pengorbanan.

Namun hari itu langit sedang tidak ramah.
Sirine dan sepatu besi beriringan dengan deru amarah
Roda kuasa yang buta datang melindas tanpa rasa dosa
Tubuh bersimbah darah terkapar dengan sengal di ujung nyawa.
Tak lagi bisa membawa pulang senyum penuh asa.

Jalan yang harusnya jadi ladang rezeki
Menjadi saksi pongahnya tirani
Tubuh ringkihnya dihajar habis-habisan
Besi negara yang melaju tanpa ampun.
Nadi yang dulu berdegup karena harapan
Membeku di tengah riuh klakson dan sirene yang dingin

Kematian datang dengan cara yang kejam
Menorehkan sebuah catatan kelam
Kendaraan negara yang harusnya menjaga
Justru menjadi robot pencabut nyawa

Hantaman itu tidak hanya merobohkan badan
Tapi juga memutus nadi harapan.
Dalam hitungan detik hidup yang diperjuangkan habis-habisan
Terhenti tanpa kata perpisahan.

Senyumnya tidak lagi sempat menyapa ayahnya
Tidak sempat menyampaikan lelahnya kepada sang bunda
Tidak juga pulang dengan senyum di wajah Tapi dengan tubuh kaku terbujurΒ  yang menyesakkan dada.

Jalan yang biasa menjadi ladang nafkah
Kini menjelma liang sunyi yang mengantar pada keabadian.
Tubuhnya memang pulang tapi bukan ke rumah
Tubuhnya pulang dalam pelukan tanah Meninggalkan cerita pedih bagi ibu yang menunggu sepiring harapan
Bagi ayah yang menua dalam pelukan duka

Sosoknya kini hanya tinggal bayang
Namanya hanya lekat dalam kenang
Suaranya kini hanya gema dalam doa
Semua kisah tentangnya telah tercatat sebagai luka semesta

Tawanya terkubur dalam peluk makam yang sepi
Sementara darahnya bertanya pada bumi
Di mana keadilan saat manusia jadi korban penguasa
Ketika mereka yang seharusnya menjaga
Justru menjadi perenggut nyawa

Namun dunia mencatat gugurnya bukan karena lemah
Tapi karena kuat menjaga nurani
Darahnya telah menjadi tinta sejarah
Yang menulis bab tentang kesombongan alat penguasa

Raganya tak lagi bisa mengecap rahsa
Tapi sejarah telah mencatat kisah mulia
Semesta memeluknya dengan kelembutan yang tak sempat dunia berikan
Dan semua yang mencintai menyebut namanya dalam bincang dengan Tuhan
Melangitkan pinta seluas samudra
Agar menukar pedihnya dengan surga nirwana

Terbang yang tinggi wahai sahabat
Temui Tuhanmu dan adukan semua yang telah engkau alami
Adukan semua keluh kesah tentang bumi pertiwi
Yang kini sedang tercabik sekarat.

Selamat beristirahat dari carut marut negara yang kacau ini
Pasti di sana Engkau sedang bercanda dengan para bidadari
Tersenyum dalam peluk hangat
Dibelai sayap-sayap malaikat

Selamat jalan rakyat tertindas yang dimerdekakan Tuhannya sendiri
Semoga tidak ada lagi sirine, gas air mata, dan roda besi yang melindas manusia
Juga pukulan keji penguasa yang kehilangan nurani
Napsu yang mengangkangi angkara
Membutakan mata melegalkan durjana penguasa
Karena apa arti sebuah negara
Jika rakyatnya tak aman di tanahnya sendiri


Magelang, 02 September 2025

#puisipanjang






Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

2 Komentar

  • Tema kita hampir sama tentang π’“π’‚π’Œπ’šπ’‚π’• π’šπ’‚π’π’ˆ π’•π’†π’“π’•π’Šπ’π’…π’‚π’” π’…π’Š π’ƒπ’–π’Žπ’Šπ’π’šπ’‚ π’”π’†π’π’…π’Šπ’“π’Š. πŸ˜₯😒

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *