langkah tertatih menapak kisah tak sempurna yang kian lindap
susuri lorong-lorong bisu penuh bercak
ada sepotong harap teronggok di sana, tatkala satu per satu
masa berlari tinggalkan hampa kian terkubur
meniti tiap masa beraroma luka penuh hiasan tak terurai
menyemai benih-benih kasih sayang yang tumbuh
entah di mana
lalu terbakar oleh nyala bara dalam hati, berteman syair kepiluan
gambarkan kegersangan kian menggilas
masihkah ada harap saat mimpi-mimpi itu kian lindap?
dalam titian masa penoreh luka dalam diam
dan … ada getar terasa di sini. di sudut kenang tak terhapuskan
bersama senyum senja dan lambaian pepohonan. enggan tundukkan wajah jika bukan pada satu.
titian masa petualang jiwa-jiwa kerontang, perindu aroma surgawi
meski hadir kadang begitu saja tiada arti
di sini entah di sana
langkah itu kembali terayun. bukan cepat atau lambat, bukan pengingat diri, tetapi
lanjutkan yang sempat tertahan. arungi waktu penuh liku.
bersama untaian madah tak bertuan menjadi penghias kalbu
entah hanya sebagai hiasan ataukah sebagai pelukis waktu saja?
andai begitu, mengapa pula tiap sukma merasakan alpa?
waktu berlari cepat tak terasa tinggalkan jejak jejak berdebu penuh
lukisan tinta air mata yang terkadang menjadi pembeda rasa saat satu asa enggan menyapa hingga mentari temani. tampakkan dirinya tersipu malu. ingin ucap pada lalu, sebelum akhirnya ia ucap satu
waktu tak lagi menunggu, ia lebih suka pergi bersama angin
kabarkan cerita semu tentang cinta yang terendap, bahkan
menjadi dendam. dalam keterpaksaan saat berlalu pergi
kini waktu berganti cerita. songsong asa ceria tanpa lara yang didamba. adakalanya semua kenang telah terjawab.
waktu melambai pergi tinggalkan. bukan semua dijanjikan.waktu setia menanti dengan yang dinanti. waktu telah ajarkan semua arti yang terkadang tak berarti. kembali.
di sini saja masa akan terus berlalu entah ke mana muaranya
biarkan saja setiap alur cerita ini mengembara, meniti masanya sendiri-sendiri
ungkap semua misteri dan takdir ilahi
jeda tiap hela sudah biasa. hanya hampa ini masih saja enggan pergi
dia di sana temani potret-potret luka berhias warna.warna yang terkadang tak kentara, meski…
adakalanya merah, hitam, hijau dan ungu. siapa sebenarnya yang ditunggu? dia, dia, dia, atau dirinya?
masa terkadang membosankan, tak pernah tahu apa yang dinanti. masa membuat semua bak petualang. mencari selaksa arti.
tak peduli berapa banyak darah tercecer dan tertumpah dari tiap tangis
tak peduli berapa banyak rasa beradu tak biasa
ingin menetak jarak dan hati yang tak terkadang tak terkendali
agar masa selalu berpihak pada
satu rasa datang dan pergi. mencari pengakuan dalam diri meski
tak berarti.
penggalan masa torehkan luka tak sempurna. dan hanya masa saja yang mampu sembuhkannya. entah kapan, di mana, ke mana, dan pada siapa. apakah akan bersikap masa bodoh? terkadang iya.
masa-masa penuh air mata dan kerinduan terkadang menyapa, kala sakit dan luka-luka begitu terasa
terkikis pahit pedih
sadarkah diri kala masa-masa itu temani?
temukan setangkup rindu dan syukur ada di sana. terkadang berkelindan bersama pusaran waktu yang menghempas.
masa lalu cermin diri di masa kini, masa kini adalah sejumput asa yang tengah kita impikan
hingga kelak masa depan datang menjelma.
ungkap semua rasa dalam putaran masa tak kentara dari titian masa
Temanggung, 7 September 2025. 09.16 WIB
#puisipanjang

Tag:puisi panjang










