Home / Fiksi / Puisi / Laila Sayang

Laila Sayang

Laila Tersayang

1. Pagi dini hari awal musim hujan

Laila tersayang,
asma menghancurkan pikiranku hari ini.
semalaman mengi,
kukira aku mendengar suaramu di radio dini hari.
ingat bagaimana tombol radio rusak saat kita bertengkar
tentang kepergian Ali Baba ke Madagaskar?
Hantu mambang beraksi lagi, kurasa.
Terkadang, aku merasa
begitu lemah atas seluruh rangkaian peristiwa
sampai-sampai aku menarik putus kabelnya.
Bayangkan! Laila, oh, Laila
Aku, tanpa suara membelai gendang  telinga!
Apa yang akan Aladin katakan jika dia masih hidup?
Kau bilang di surat terakhirmu kau gugup
kau memimpikan setubuh lagi. Aku cemburu.
Tulangku butuh mimpi biru
yang menggairahkan dalam cumbu rayu
Kasir minimarket menggodaku
setiap kali aku membeli tomat
dia mengirimimu surat.
Dia bilang dengan napas mendesah berat
Aku akan menulis sendiri ke dalam kubur.
Aneh, kan? Sungguh tak tahu bersyukur.
Beraninya. Dia lebih tua dari bapakku,
hanya saja dia punya kaki kayu.
Ali Baba akan pergi ke sana, lagi.
Bayangkan. Kurasa dia tak bisa lari.
Narkoba, katamu. Pohon-pohon beraksi
tadi malam. Mereka membuat kesalahan
memulangkanku sepagi itu
Seharusnya kau yang keluar, bukan aku.
Kulitku pucat abu-abu
Tak ada lagi losion di rumah.
Tidak tanpa Ali Baba menyapa ramah.
 Aku tak mau pergi belanja sendirian.
Aku akan jadi sofa kulit di ruang makan
saat kau akhirnya dibebaskan.


2. Sore hari menjelang bulan Ramadan

Laila tersayang,
Tetanggaku perempuan  jahat  
Dia mencoba menciumku di kamar mandi hari Ahad!
Bayangkan, sayang. Aku tak bisa berbuat laknat
Kenangan bibirnya yang mengerucut mendekat
membuatku menangis benci
Hanya saja, aku sangat dehidrasi
hingga tak bisa makan roti.
Kencing juga sakit.
Obat-obatan dosis rumit
Menjelang siang otakku akan berdengung.
Perut kembung langkah limbung
Kuharapkan di tempatmu telah kembali biru
Aku belum pergi berburu
selama lebih dari seminggu
Dokter Soraya bilang itu pertanda baik.
Benar-benar pertanda baik dibolak balik
Hutan tinggi dan lebat dan bernyanyi untukku
saat aku tidur di bawah pohon dedalu
Kepalaku terlalu besar karena obat
Atau mungkin terlalau sering salah alamat
Aku harus melanjutkannya lain kali
di waktu yang sama beda hari.


3. Ketika semua sisi gelap gulita, entah di mana

Laila tersayang
Suatu malam, pepohonan mengusap-usap hidungnya
ke jendela dan mengajakku minum the kapulaga.
Rasanya menyenangkan—
ranting-rantingnya agak segar, tapi ramah.
Dan responsif! Penuh suka cita berbagi kisah dusta
Betapa sepoi-sepoi dedaunan terdengar
seperti gaung berbisik anak-anak
Bahkan konspiratif. Astaga. Apa yang akan kita lakukan
ketika kulit kayu retak karena usia dan matahari?
Kita akan minum pil dan bolu labu sayang.
Pil dan bolu labu.
Pil dan bolu labu.
Anak cucu kita takut mati dan aku mengingatkan itu
setiap kali dia datang berkunjung sebagai tamu.
Itulah sebabnya dia tidak datang lagi.
Kau ingat ketika dia dulu melakukan trik sulap
untuk kita? Aku yakin kau ingat.
Dia bilang dia dulu mencuri rokokmu. Dan kau tahu!
Musang berbulu serigala.
Tunggu, pepohonan di sini lagi. Langit Kota Raja,
dan bintang-bintang ziarah kejora
Memeras setiap gelap malam
Dari pakaian basah.
Ah, Ayah pasti senang kita tinggal di tanah
yang begitu murah!
Kota ini akan melahapku hidup-hidup.
Tapi aku akan tetap waras, kurasa
dibanding dengan semua kebisingan
yang memenuhi bangsal, merusak telinga
Ya ampun, kesenangan sederhana
kencing di hutan, agak lembap
kalau boleh kukatakan begitu saja.

(Qais, The Psychopoet)


Jawa Barat, 5 September 2025

#puisipanjang

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image