Umur Susan tujuh tahun. Dia belum pernah kehilangan satu gigi pun. Ibunya berkata bahwa itu karena dia istimewa dan punya gigi yang bagus. Tapi Susan punya satu gigi tambahan di rahang bawahnya. Ini membuat gigi serinya menjadi lima. Tidak ada orang lain yang memiliki gigi tambahan di keluarganya. Jadi, dia biasanya mendesak ayahnya untuk mencabut gigi itu.
“Mengapa kamu tidak suka gigimu itu, Susan?” tanya Ayahnya suatu hari.
“Teman-temanku selalu mengolok-olokku,” jawab Susan menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Ayahnya menggendongnya dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Tetapi kamu tahu kamu dilahirkan seperti itu. Kita tidak dapat mencabut apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.”
“Tetapi mengapa Tuhan memberiku sesuatu yang tidak sama dengan Ayah, atau Ibu, atau Kakek dan Nenek?”
Melihat putrinya emosi, ayahnya memeluknya.
“Oh, Nak! Ayah seharus sudah cerita bahwa dulu Ayah juga punya gigi tambahan seperti kamu.”
“Benarkah, Ayah?” Mata Susan berbinar-binar karena kegembiraan dan harapan. “Jadi, bagaimana cara Ayah membuangnya?”
Ayahnya mendesah. Dia mengira Susan akan merasa lega karena dia juga pernah memiliki gigi itu.
“Aku tidak membuangnya. Ada saatnya gigi-gigi yang lain tanggal. Saat itu tiba, kamu ambil gigi itu dan lemparkan ke atap. Setelah kamu melempar gigi itu, kamu harus memberi tahu cicak di atap untuk mengambil giginya yang jelek dan tidak pernah mengembalikannya. Dengan begitu, gigi itu tidak akan pernah tumbuh lagi.”
Susan tampak puas dan tidak pernah membicarakan giginya lagi.
Suatu hari, giginya mulai terasa goyah. Susan sangat senang. Ia mulai berlatih menyanyi “ Cicak di Dinding” setiap hari. Namun, hari demi hari berlalu dan gigi itu masih menggantung di mulutnya. Ayahnya berkali-kali menyuruhnya untuk membiarkannya saja, tetapi Susan terus menggoyang gigi itu hingga berdarah.
Kemudian dia dimarahi ibunya, yang membuatnya berjanji untuk tidak mengganggu gigi itu lagi.
Suatu hari, saat bermain dengan teman-temannya, Susan tidak sengaja bertabrakan dengan temannya dan mereka berdua terjatuh. Saat dia berdiri, Susan merasakan rasa karat besi di mulutnya dan meludahkan darah.
“Lihat, gigi Susan sudah tanggal.” Salah satu temannya bersorak.
Namun giginya yang tanggal tidak ditemukan. Permainan berhenti dan semua temannya mencari gigi Susan. Dia bertekad untuk tidak pulang sebelum menemukan giginya.
Pencarian berlanjut hingga senja. Teman-temannya dipanggil pulang satu per satu. Ketika dia ditinggal sendirian untuk melanjutkan pencariannya, Susan mulai menangis. Ayahnya memanggilnya untuk pulang, tetapi dia tidak menjawab. Dia menginginkan giginya.
Ayahnya datang menjemputnya dan menemukannya berjuang melawan cegukan karena menangis.
“Ada apa, Susan? Apa yang terjadi?” tanya ayahnya.
Susan duduk dan mulai menangis lagi.
“Aku … aku … hiks, kehilangan… gigiku,” katanya di sela-sela tangisannya.
Ayahnya mengangkatnya dari tanah dan memeluknya erat.
“Tidak apa-apa, Nak. Jangan menangis.” Ayahnya menepuk kepalanya dengan lembut.
Susan mencoba menenangkan diri dalam pelukan ayahnya.
“Apa yang akan terjadi dengan gigiku sekarang, Ayah?” tanyanya dengan suara lemah.
“Gigi Ayah juga sudah hilang. Bahkan cicak pun tidak akan menemukannya. Jadi, gigi Ayah tidak akan tumbuh lagi karena cicak tidak tahu bahwa giginya hilang. Apakah itu membuatmu senang?”
Susan mengangguk senang dan memeluk ayahnya erat-erat.
Cikarang, 26 April 2025











