Beranda / Fiksi / Puisi / Balada Joko dan Bowo

Balada Joko dan Bowo

Balada Joko dan Bowo
1

Menurut Undang-Undang Jalan Raya,
Saat berkendara di jalan dua jalur,
Akal sehat dan sopan santun,
Harus menjadi prioritas utama

Dua mobil, satu ke Timur, satu ke Barat
Bertemu tepat di tempat paling sempit,
Saat berkendara di jalan kecil diapit parit.

(Sebut saja pengemudinya Joko dan Bowo).
Bowo menyalakan lampu depannya.
Dibalas Joko dengan lampu yang sama
Tapi tak satu pun pengemudi menepi.
Bowo menurunkan jendela dan mengumpat,
“Mundur, brengsek. Mundur cepat!”

Tapi Joko, yang dikenal tak suka mundur,
Menjawab, “Mundur sendiri, dasar undur-undur.”
Bowo mengacungkan jari tengah,
“Kita lihat siapa yang mundur duluan, bedebah.”
Joko membuka pintu pengemudi.
Bowo tertawa mengejek, lalu senyap sunyi,
Joko tingginya hampir dua ratus senti
Bowo mematikan mobil, mengeluarkan tongkat besi.

Dia merangkak keluar saat Joko maju,
Bersandar di mobilnya, cuh tak acuh.
“Mundur,” geramnya saat Joko mendekat.
“Tidak mungkin,” kata Joko. “Tak aman.”
“Ada tempat untuk lewat di belakang,
Mundur, brengsek, dan biarkan aku lewat.”
“Dan ada gerbang di belakangmu juga, keparat.”
“Kurasa,” kata Bowo, “Itu terserah padamu.”

Joko melirik ke dua arah,
menggelengkan kepala, lalu berkata
“Kau lebih dekat daripada gerbangku.
Kaulah yang harus mundur, Bung.”
Bowo menoleh ke belakang lalu mendengus.
Dia berkata, “Matamu perlu diuji, Cah Bagus.
Gerbangmu beberapa meter lebih dekat \
daripada tempatku.
Kau pikir aku akan bergerak?
Tentu tidak.”

Mereka saling menimbang sejenak.
Joko lebih tinggi, selisih satu pundak.
Tapi Bowo tampak bugar, menang gertak
Mereka saling menatap sebentar tak lama.
Kaki Bowo di ambang jendela.
“Hanya ada satu cara agar ini berakhir,” kata Joko.
Dia berjalan dan membuka bagasi.
Joko berdiri, kaki Bowo turun kembali

Joko berjalan di belakang
mobil Bowo yang butut jarang dibasuh
“Oke, sialan, mari kita lihat seberapa jauh.”

Dia membentangkan pita pengukur di tanah,
berjalan santai saat pita terlepas.
Sementara membuka gulungan
dan menghitung lebar lapangan,
Bowo memperhatikan, tak pernah lengah.
“Oke, brengsek, itu empat puluh enam setengah.”
Joko tersenyum, Bowo terperangah

Mereka kembali mengitari,
Mengulangi rutinitas itu sekali lagi.
“Kau kalah,” kata Joko.
“empat puluh delapan.”
“Usaha yang bagus,” kata Bowo.
“Tapi aku bisa menunggu.”
“Sekarang, ukur saja sampai ke tepi,
tak sampai setengah jalan melewati pagar tanaman.”
Mereka memeriksa, memeriksa, dan memeriksa lagi,
hingga keduanya sepakat bahwa mereka seimbang.

mobil mereka bertemu langsung,
tepat di tengah jalan,
satu-satunya tempat yang bisa mereka lewati.
keadaan smakin tak tentu.

saat itu sebuah mobil kombi menderu,
Di belakang mobil Bowo.
“Pindah,” dia mencibir bibir.
Joko sejenak bingung linglung
memandang minibus butut pendatang baru.

sekarang pasti kalah jumlah.
melirik ke jalan sekali lagi,
dan melihat, dengan sangat gembira,
sebuah van biru besar muncul.
berhenti di belakang mobil empat kali empat.
kesetaraan kembali pulih
“kurasa itu yang kau sebut, periksa, Bung.
aku tak terburu-buru. aku bisa menunggu.”

Dua jam kemudian, segalanya berubah.
sepuluh mobil aneka model terjebak di jalur itu.
lima ke Timur. lima ke Barat. Semua diam.
dan di tengah, Joko dan Bowo.
macet, mandek, buntu.
jalan buntu,
macet total
blokade jalan.
anehnya, tak seorang pun tampak kesal,
bahwa Joko dan Bowo tak mau mengalah.

damai turun di tengah jalan,
orang-orang dari van dan mobil lain,
pengemudi saling berteman,

seseorang memetik gitar
para remaja yang hendak kemping,
api unggun, menjerang kopi,
yang mereka bagikan di antara klan,
orang-orang dari mobil dan van lain.

malam tiba, sepasang polisi datang
berkeliaran di antara kerumunan beraneka ragam,
karena tak ada kejahatan atau pencurian,
keduanya menyesap kopi lalu pergi.

lalu, di  kedua ujung masuk jalur,
pengemudi menghentikan mobil lagi.
“kurasa kita harus melakukan sesuatu.”
maka mereka memasang rambu ‘Jalan Ditutup’.

jauh di ujung jalan, sekelompok orang yang santai,
dari orang-orang yang terdampar tertawa dan bernyanyi.
malam terasa hangat dan langit cerah.
lLalu seseorang menemukan sekotak bir,
dan setelah itu? tak seorang pun tahu.

rambut itu tetap ada. tertulis, ‘Jalan Ditutup’.
lama-lama, ilalang liar tumbuh di jalan,
tak seorang pun berkendara ke sana lagi.

apa yang terjadi pada Joko dan Bowo?
Siapa yang tahu?
mungkin mereka masih di sana.

rambu berkarat, roboh,
orang-orang lewat jalan baru menuju kota.
konon, terkadang, dari kejauhan,
terdengar sayup-sayup gitar berkumandang,
orang yang sadar akan mengumpat,
mencium bau asap kayu bakar di udara berat
biasanya tepat di malam jumat

Jawa Barat 9 September 2025


Penulis

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *