Setiap magrib—sepulang dari sawah, Abah selalu bercerita tentang kehidupan yang penuh dengan aneka macam rasa. Matanya selalu berkaca-kaca, tatkala menghadapi realita di sekitarnya. Abah selalu memperhatikan sekelilingnya, saat berangkat ke sawah, begitupun sepulang dari sana.
Di kala pagi, Abah melihat ke arah kiri jalan, ada kayu yang dibakar untuk sarapan sekeluarga di sebuah rumah reyot. Hampir tak ada harapan di rumah itu. Bisa menyambung hidup hingga esok hari pun sudah lebih dari cukup. Lalu, Abah melihat ke arah kanan jalan, ada yang merapal harapan tatkala para suami hendak menjemput rezeki di wajah-wajah teras rumah mereka “semoga hari ini kita diberi rezeki yang cukup” dengan meremas cemas di balik dedoa mereka. Maklum, karena hari kemarin, dan hari sebelumnya rezeki itu belum terlihat hilalnya.
Lalu Abah berjalan menuju sawah sembari berdzikir.
Manakala sore, Abah melihat sisi kiri jalan—pada rumah yang lain terdengar piring terbang, dan suara gedebuk parabot beradu dengan ocehan amarah saling timpal. Rumah itu begitu gaduh karena kondisi ekonomi yang tak sesuai harapan. Dengan perasaan pecah berkeping-keping, Abah melihat sisi kanan jalan. Terlihat seorang anak pulang ke rumah dengan membawa sekarung rongsok untuk hidup esok hari. Harapan untuk duduk di bangku sekolah begitu tipis, karena terhambat biaya yang berdiri angkuh dihadapannya bagai labirin tebal. Tak terasa, Abah pun meneteskan air mata dengan kepala menunduk—berjalan menuju rumah.
“Tanah ini, tanah subur makmur, katanya. Tapi rakyatnya harus berkelahi dengan keadaan,” kata Abah kepadaku.
“Maklum aja, pejabat negeri ini kan alergi kemajuan dengan mendorong kemunduran setiap harinya.” Emak menimpali dengan bercanda sedikit gemas.
Aku hanya hanya diam tertegun. Memang benar apa yang dikatakan Abah, dan Emak. Kehidupan rakyat seperti dalam lingkaran kerja paksa rodi, dan romusha—bahkan lebih kejam dari itu. Setelahnya, rakyat diperas hasilnya, lalu harus pula menjaga kewarasan dengan susah payah. Sumber daya alam—yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat, justru dikeruk secara bar-bar demi kepentingan mereka pribadi. Sementara rakyat, tidak mendapatkan hasilnya, sekalipun hanya sekadar ampasnya saja.
“Abah memikirkan nasib anak-anak zaman sekarang. Yaitu anak-anak sepertimu, Yazid,” kata Abah meneruskan pembicaraan, sambil meracik linting dengan menaburkan sedikit cengkeh di atas tembakau, lalu melintingnya.
“Meski zaman sekarang adalah zaman kemudahan, namun kalian sebagai anak muda sudah dihantam oleh keadaan berkali-kali,” lanjut Abah sambil mengepul asap linting.
Aku terdiam mematung. Tak ada kata untuk membalas kata-kata dari Abah. Banyak hal yang bertabrakan di dalam pikiranku, satu diantaranya adalah negeri yang kaya, tapi rakyatnya sengsara. Segala kepahitan hidup, rakyat harus menanggung sendiri-sendiri. Keadaan seperti ini melahirkan keegoisan yang memudarkan saling bantu, dan gotong royong. Padahal, tanah surga ini begitu masyhur dengan kata-kata “silih asah, silih asih, silih asuh.” Namun, sepertinya kata-kata itu hanya sebatas kalimat tanpa makna.
“Yazid. Abah tahu ekspresimu. Abah tidak bisa berbuat banyak, hanya pesan dari Abah untukmu, yaitu jika kau punya kekuatan, bersuaralah. Barangkali ada secercah harapan dari suara yang kau bawa itu. Akan tetapi, jika kau tak punya kekuatan, cukup bersabarlah, dan lakukanlah apa yang kau bisa.”
Sambil membuatkan kopi untuk Abah, Emak pun masih ikut terlibat dalam pembicaraan ini, meskipun hanya mendengarkan saja.
“Jika aku diam karena tak mempunyai kekuatan, apakah masih ada orang yang peduli terhadap sesama?” Dari lidah yang kelu, aku bertanya pada Abah.
“Yakinlah, Yazid. Bahwa di dunia ini tidak benar-benar gelap. Meski di tengah gulita yang begitu pekat, cahaya akan selalu ada,” jelas Abah menyemangatiku.
Abah, memiliki segudang pengalaman, begitu pun, Emak. Namun, kondisi Abah dan Emak pun sama—bisa makan hari ini sudah bersyukur, maka Abah hanya bisa melangitkan doa dalam getir untuk orang-orang yang kesulitan agar kehidupannya lebih baik lagi. Emak pun sama, bahkan Emak kerap kali meneteskan air mata bila merasakan kehidupan saat ini.
Dengan segala kepahitan hidup yang tengah dihadapi oleh banyak orang, Abah dan Emak menyimpan harapan besar pada generasi penerus, termasuk aku agar kelak dapat menghapus realita yang mendung ini. Sebab, dibalik awan mendung, ada mentari cerah—yang sinarnya belum sampai menerangi tanah ibu pertiwi ini, dan itu adalah tugas anak bangsa yang masih menjaga kewarasannya.
Tangerang, 19 September 2025











