Pagi hampir meninggi, tapi Elaine masih bergelung di bawah selimut. Semalam, gadis berkebangsaan Perancis itu tampak gelisah, berjalan mondar-mandir di depan tivi dan larut malam baru tidur.
Aku mengetuk pintu pelahan, tidak terkunci. Pelahan kutekan gagang pintu, rupanya Elaine sudah bangun meski belum bangkit dari tempat tidur.
“Bonjour, est-ce que je vous dérange ?” tanyaku dari depan pintu.
“Bonjour aussi, Maman. Entrez!” jawabnya tanpa bangkit dari tempat tidur.
Aku mendekat dan duduk di sampingnya. Terlihat bekas air di sudut mata, kerutan tipis di pelipis mewakili pikirannya yang kusut.
“Ada masalah?” tanyaku hati-hati, Elaine menoleh padaku, menghela napas panjang kemudian mengembuskannya pelahan.
“Kamu masih mengingatnya?” tebakku. Elaine mengangguk, bulir bening meluncur bebas membelah pipi kemerahan. Kuraih bahunya, dan kubiarkan dia meluapkan semua gundahnya.
“Kamu tidak harus melupakan semua hal yang menyakitimu dalam waktu singkat. Ikuti prosesnya saja karena obat terbaik adalah waktu,” nasihatku sambil mengusap rambutnya. Kurasakan gerakan kecil berupa anggukan.
“Suatu hari, kelak kamu akan melihat ke masa lalu dan tersenyum betapa pada akhirnya kamu berhasil melalui semuanya,” lanjutku. Elaine mengangkat kepalanya, menyusut air mata dengan tangan, lalu tersenyum tipis.
“Merci, Maman. C’est vrai ce que tu as dit.”
“Pengalaman berharga akan melembutkan hatimu dan mendewasakan pikiranmu. Masa-masa sulit yang bahkan kau sendiri tak yakin akan berhasil. Tapi, Allah bahkan tak pernah meragukanmu sejak awal bahwa kau akan mampu melewatinya sebagaimana yang Dia janjikan untuk tidak menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan.”
“Aku menyadari bahwa aku hanya kurang sabar, mungkin karena belum ikhlas kehilangan.” Elaine menghembuskan napas berat.
“Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar milikmu di dunia ini, karenanya jangan pernah berharap pada ciptaan-Nya. Berharaplah hanya pada penciptanya.”
“Papa juga mengatakan seperti itu. Bahkan Papa mengatakan bahwa dia banyak belajar dari Maman.” Ucapan Elaine justru membuat dadaku sesak. Laki-laki itu, meski aku telah mengecewakannya, tapi tak pernah berhenti menyanjungku. Dan anak ini, juga tetap memanggilku maman, menyandingkan dengan panggilan papa seakan kami adalah orang tuanya.
“Aku belum sebaik itu, tapi aku hanya percaya bahwa suatu hari kita akan memandang ke masa depan dengan sepenuh harapan. Tidak lagi dihantui ketakutan akan ketidakpastian. Sepenuhnya percaya pada apa yang Allah rencanakan. Sebagaimana kita memercayai seluruh organ tubuhmu untuk bekerja sesuai fungsinya sekalipun kita tak tahu persis cara kerjanya.”
“Tapi melupakan masa lalu itu sangat berat,” keluh Elaine.
“Namun, ketika masa lalu tidak lagi memberatkan hatimu dan masa depan tidak lagi membuatmu khawatir, kamu akan melihat ke sekitar dengan penuh kasih sayang dan berusaha menolong sebisanya. Bahkan jika itu ‘sekadar’ bantuan doa, karena kamu tidak pernah tahu seberapa putus asanya orang itu, tapi kamu tahu bahwa kamu pernah ada di posisinya.”
“Terima kasih, Maman. Benar kata Papa, Maman selalu bisa menjadi penenang dalam keadaan apapun,” pujinya sambil memelukku. Aku balas memeluk sambil menepuk punggungnya.
“Lihatlah ke belakang, lalu bersyukurlah. Lihatlah ke depan, lalu hiduplah dengan penuh harapan. Lihatlah ke sekitar, lalu berbaik hatilah pada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.”
“Incroyable, aku akan selalu mengingat nasihatmu.” Elaine mencium pipiku berulang, aku balas mencubit hidung bangirnya dengan gemas.
“Sekarang, kita akan pergi ke pusat belanja. Sekadar cuci mata dan melihat kota Magelang di siang hari,” ajakku.
“Siap!” Elaine mengangkat tangan hormat, secepat kilat dia sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
***
Kami pergi tanpa sarapan, Elaine bilang dia ingin berburu kuliner pagi hari. Aku menggelengkan kepala, secepat itu moodnya berubah. Tak sampai setengah jam, dia sudah siap dengan kaos berwarna biru muda dipadu dengan jins biru tua, rambut ikalnya yang kecokelatan diikat ekor kuda. Penampilannya terlihat jauh lebih segar dan makin menampakkan kecantikan alaminya.
Kami menuju pusat kota. Sudah bukan hal yang aneh, semua orang pasti tahu bahwa hampir setiap kota di Indonesia memiliki pecinan. Sebuah kawasan yang disebut Chinatown, sebab mayoritas warganya adalah etnis Tionghoa yang dulunya merantau, kemudian seiring waktu akhirnya menetap di wilayah tersebut hingga menjadi penduduk tetap.
Tujuan kami kali ini adalah Pecinan Magelang yang terletak di Jalan Pemuda. Deretan toko yang membentang dengan panjang kurang lebih 800 meter. Chinatown di kota Magelang ini tentu sudah mengalami dinamika panjang. Sepanjang kawasan ini dipenuhi dengan bangunan-bangunan tua yang memiliki arsitektur khas Tionghoa, dan menyimpan jejak budaya dan sejarah yang kaya dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun non lokal.
Sepanjang yang kuketahui, tidak ada sosok individu yang menjadi pencetus Kampung Pecinan di Magelang secara khusus. Kawasan permukiman etnis Tionghoa ini, terbentuk sebagai akibat dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang membatasi tempat tinggal orang Tionghoa dalam upaya segregasi sosial dan ekonomi.
“Kita mau kemana?” tanya Elaine.
“Pecinan,” jawabku singkat, fokus pada jalanan yang mulai padat.
“Pecinan is Chinatown?” tanya Elaine, menyatukan ibu jari dan telunjuknya lalu menempelkan di mata. Aku tergelak dan mengangguk.
“Bukankah ini alun-alun yang semalam kita datangi?” tanya Elaine saat mobil melewati taman hijau dengan ikon Tuin Van Java.
“Benar, Pecinan di Magelang memang berlokasi di dekat alun-alun karena alasan sejarah dan sosial. Sebagaimana fenomena di kota-kota lain di Indonesia, alun-alun adalah pusat kegiatan kota. Pada masa lalu, pusat-pusat permukiman etnis seringkali berkembang di sekitar pusat pemerintahan atau pusat kegiatan ekonomi.” Aku menjelaskan. Elaine mengamati situasi jalan.
“Selain itu, lokasi dekat alun-alun memudahkan akses ke berbagai fasilitas dan layanan yang ada di pusat kota sehingga memudahkan untuk berinteraksi dengan berbagai aktivitas. Kedekatan dengan pusat kota memungkinkan interaksi sosial yang lebih mudah antara etnis masyarakat Tionghoa dengan masyarakat lain,” imbuhku.
“Bagaimana Pecinan di Magelang ini terbentuk? Pasti tiap-tiap kota yang ada Pecinan memiliki cerita yang berbeda?” cecar Elaine.
“Tentu saja. Sejarah Pecinan Magelang tidak terlepas dari peran Belanda. Saat terjadi Perang Diponegoro yaitu antara tahun 1825⎼1830, Saat itu Belanda sengaja mengajak para pedagang Tionghoa untuk menetap di kota ini dan menempatkannya tidak jauh dari pusat kekuasaan mereka. Sebagian hidup dari menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Sebagian lagi, dijadikan tenaga kerja.”
Aku mengetahui dari cerita eyang bahwa dulu para etnis Tionghoa tersebut sebagian diberdayakan untuk membangun kawasan permukiman Belanda. Akhirnya pada 1830-an, pemerintah kolonial mengangkat Hok Hoei Kan, seorang tokoh masyarakat, negarawan, dan tuan tanah peranakan Tionghoa yang dikenal pro-Belanda sebagai letnan.
“Itu bangunan apa?” tanya Elaine sambil menunjuk sebuah klenteng.
“Itu Klenteng Liong Hok Bio tempat ibadah yang dibangun Etnis Tionghoa pada masa itu dan masih digunakan hingga sekarang.”
Aku memarkirkan mobil di bahu kiri jalan. Dulu saat masih kecil, eyang pernah mengajakku jalan-jalan ke Pecinan, beliau mengatakan bahwa pada era 1960 sampai 1970-an, nuansa Tionghoa di Pecinan Magelang masih begitu kental. Namun, setelah era itu, pemerintah melakukan pelebaran jalan dan meniadakan persimpangan rel kereta api tersebut. Sebagai gantinya dibangun trotoar lebar yang nyaman untuk pejalan kaki. Sebagai dampaknya, banyak fasad bangunan Tionghoa yang terpaksa digusur. Hal ini menyebabkan suasana yang tadinya terasa begitu kuat, mulai tergeser pelahan.
Waktu remaja, aku masih mengingat pada tahun 1990-an, sejumlah bioskop memenuhi Pecinan Magelang yang menjadi magnet tersendiri, membuat suasananya kembali hidup. Banyak orang menikmati keseruan di Pecinan Magelang dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Sayangnya bioskop mulai tutup satu per satu, dan yang terakhir tutup pada tahun 2011. Sejak saat itu Pecinan Magelang tidak seramai dulu.
“Saat ini kawasan Pecinan juga dikenal dengan sebutan “Shopping”. Bukan karena arti kata sebenarnya dari “shopping” yang artinya belanja, tetapi lebih karena perkembangan fungsi pecinan sebagai pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi yang ramai.” Aku kembali menambahkan ulasan. Elaine mengangguk-angguk, matanya sibuk memindai setiap bentuk bangunan yang menjual aneka macam kebutuhan.
“Meskipun istilah “shopping” digunakan, tapi penting untuk diingat bahwa pecinan bukan hanya pusat perbelanjaan modern. Pecinan juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang kaya, dengan tradisi dan karakteristik khas Tionghoa yang masih terjaga.”
“Ingin membeli sesuatu?” tanyaku saat Elaine masuk ke sebuah toko tekstil.
Elaine mengamati sebuah gaun yang terlihat anggun, menurut penjualnya gaun itu jahitan sendiri, bukan konveksi. Masyarakat Tionghoa yang tinggal di pecinan memang memiliki keahlian dalam berbagai bidang usaha, seperti menjahit, kerajinan, perdagangan, juga jasa. Hal itu membuat pecinan menjadi tempat yang ramai dikunjungi untuk mencari berbagai kebutuhan.
Akhirnya Elaine membeli sebuah gaun dari bahan katun jepang, modelnya sederhana tapi cukup anggun dan sesuai dengan gaya anak muda yang tampil tidak terlalu formal. Tidak tanggung-tanggung, bahkan dia membeli tiga potong sekaligus.
Puas menyusuri Pecinan, aku mengajaknya belok ke jalan Mataram menuju Pasar Rejowinangun yang tak jauh dari Pecinan. Elaine tampak puas dengan pengalaman barunya. Setiap sudut Pecinan Magelang memang seakan membawa pengunjung ke masa lalu, ketika kawasan ini masih menjadi pusat perdagangan yang sibuk. Hingga kini, jejak kejayaan tersebut masih terasa, terlihat dari toko-toko tradisional yang menjual beragam barang, mulai dari rempah-rempah, peralatan sembahyang, hingga jajanan khas.
Meski telah melalui berbagai perubahan, tapi Pecinan Magelang tetap mempertahankan identitasnya. Pemerintah Kota Magelang sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian kawasan Pecinan. Meskipun sekarang sudah banyak bangunan yang lebih modern, tapi masih ada beberapa orang yang datang untuk mencari nuansa otentik.
“Aku menyukai tempat ini,” ujar Elaine sambil membuka kembali galeri photo di ponselnya. Beberapa gambar yang sempat diambilnya memperlihatkan pesona sejarah dan kebudayaan yang dipadukan dengan perkembangan zaman yang cantik. Pecinan Magelang tetap menjadi saksi bisu perjalanan kota dan menjadi ikon yang patut dilestarikan.
Note :
Bonjour: Selamat pagi
Est-ce que je vous dérange ?: Apakah aku mengganggu?
Bonjour aussi: Selamat pagi juga
Entrez: Masuklah
Merci: Terima kasih.
C’est vrai ce que tu as dit: Benar apa yang kamu katakan.
Incroyable: luar biasa








