Masa depan, 2340
Pada zaman akhir alias zaman cyberpunk ini, real human alias manusia biasa mulai kehilangan eksistensi mereka. Manusia setengah robot (half-cyborg) dan robot (cyborg) telah mendominasi Planet Bumi.
Manusia tergusur dari puncak rantai makanan bersama makhluk-makhluk hidup lainnya akibat ulah mereka sendiri. Nyaris menyusul hewan dan tumbuhan alami yang punah, manusia kini menjadi hamba di satu-satunya planet tata surya yang telah dikuasai ciptaan mereka sendiri. Yang bertahan hanya segelintir survivor saja, entah yang masih bersembunyi dari kejaran pada manusia robot karena mencoba memberontak, atau yang ‘berusaha hidup’ dari sisa-sisa harta mereka. Manusia-manusia kaya yang tetap dibiarkan hidup akan tetapi harus rela mengorbankan sesuatu, entah dijadikan bahan penelitian atau percobaan.
***
Namaku Pavel Figaro Ciel, tanpa nomor, usia hampir 11 tahun. Sebenarnya aku tak mau lagi pergi ke sekolah dasar unggulan itu. Hampir genap lima tahun aku berjuang di sana sebagai satu-satunya manusia. Sainganku tentu saja para siswa-siswi cyborg. Mereka tentu saja jauh lebih segala-galanya dariku. Cantik, tampan, pintar. Ya, hanya pintar tetapi belum tentu cerdas, meskipun dibekali kecerdasan buatan yang selalu di-update agar tetap ‘cerdas’. Aku selalu jadi juru kunci dalam segala hal.
Di kelas ini, aku berusaha keras untuk berteman. Tentu saja aku ingin memiliki teman, apalagi sahabat. Siswa-siswi Newzantara Primary School yang konon ketat berdisiplin mengusung moto anti perundungan, tetap saja diam-diam merundungku, satu-satunya siswa yang berbeda dengan mereka.
“Pavel, Si Manusia Biasa! Lihat, dia selalu kalah dalam lomba lari atau olahraga! Kasihan sekali, ya?”
“Jelaslah, dia gak punya listrik!”
“Betul! Lubang hidungnya saja untuk colokan! Hahahahaha!”
Itulah beberapa kalimat ejekan mereka untukku. Tak apa-apa, aku sudah terbiasa.
Siswa-siswi setengah robot itu selalu penuh energi, sedangkan aku harus membawa bekal. Mereka bisa me-recharge diri kapan saja. Bekalku hanya pil-pil pengenyang rasa buah warna-warni yang tentu saja bukan dari buah sungguhan. Aku sedikit iri pada kakek-nenek buyutku yang mungkin masih diberi kesempatan mencicipi nikmatnya jus buah di masa lalu.
“Pavel, nilaimu jeblok lagi! Otak dagingmu sungguh lemah sekali!” demikian guru-guru robotku kerap memarahiku, “Malang sekali, seandainya saja kau bisa lebih sempurna lagi menuliskan PR puisi atau karangan Bahasa Into Neziamu ini!”
“Maafkan aku, Bu Guru. Aku terlalu mengantuk sehingga banyak kesalahan ketik!”
“Jika manusia terus begini, tak mampu bersaing, maka apa gunanya? Lebih baik kau cari sampah masa lalu saja, sana! Barangkali kau bisa jadi sedikit lebih berguna! Temukan sesuatu yang berguna bagi kami! Siapa tahu nilaimu yang D- bisa kami jadikan C agar kau lulus mata pelajaran ini!”
Lihat, bahkan guru-guru robotku kerap menghukumku. Aku disuruh mereka mengais sampah di TPA masa lalu. Entah mengapa, aku justru senang. Daripada hanya berkumpul di kelas untuk terus dirundung, lebih baik aku menyendiri saja.
TPA masa lalu tak jauh dari sekolah itu sepi. Robot-robot tentu saja tidak tertarik pada bungkus-bungkus keripik tua, kotak-kotak berisi sampah karton, atau buku-buku lama yang sudah sedemikian rapuh. Akan tetapi aku menikmatinya. Kubaca satu demi satu buku-buku warisan itu. Yang kusukai adalah buku apa saja dari tahun 1990-an hingga 2000-an.
“Manusia dulu begitu cerdas, bisa menulis semua ini. Mengapa sekarang malah jadi begini? Adakah jalan untuk kembali ke masa lalu dan memperingatkan mereka semua sebelum terjadi?”
Aku bertekad untuk terus belajar, meskipun otakku lemah. Aku tak boleh malas. Semua ilmu dari masa lalu itu akan kuingat baik-baik dan kucatat jika perlu. Kemudian aku kembali ke sekolah.
“Bagaimana, Pavel? Sudah kautemukan sesuatu yang berharga?” tanya guruku.
“Belum, Bu. Maafkan aku.”
“Kalau begitu, Pavel, kau harus kembali setiap hari ke TPA hingga kau menemukannya!”
The Big Garden, 27 Agustus 2024











