Pazel benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan wanita yang sudah menemaninya selama dua tahun belakangan. Dan kenapa juga dia bisa lupa kalau dia sudah menalak wanita itu? Dia benar-benar merasa dipermalukan oleh emosinya sendiri.
“Ya, kami mau beli baju pengantin, kami senang sekali karena kamu mau membantu kami memilihkan model yang akan kami pakai,” ucap wanita itu yang kembali merangkul lengan Pazel.
Boby menyela pembicaraan mereka.
“Sil, kakimu masih sakit. Lebih baik kamu duduk saja, ya? Biar aku yang layani mereka.”
“Tidak apa-apa kok, Beb. Kakiku hanya luka sedikit. Biar aku yang melayani mereka. Tenang saja, aku gak apa-apa, kok.”
Seketika mata Pazel membulat saat mendengar panggilan Beb dari mulut Silvia kepada laki-laki yang ada di depannya. Dia berpikir kalau Silvia sudah berselingkuh di belakang dirinya, sama seperti yang dia lakukan di belakang Silvia.
Ditatapnya laki-laki yang agak berisi yang ada di hadapannya, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Kalau dilihat sekilas Boby memang ganteng. Gaya rambut yang keren ala Korea, jas warna hitam yang modern menutupi kemayu yang dia miliki.
Bagaimana bisa Silvia punya selingkuhan seganteng dan sekaya ini? batin Pazel.
“ Jadi selama ini, kalian sudah berselingkuh di belakangku?”
“Oh, jelas,” jawab Silvia enteng, dirangkulnya tangan Boby dengan mesra. “Sekarang cepat selesaikan surat cerai kita agar kamu bisa segera menikah dengan gundikmu dan aku juga bisa melanjutkan hidupku!”
“Ternyata kamu perempuan gak benar juga ya?” ucap Pazel dengan seringaian mengejek. Kata-kata Pazel yang menyudutkan Silvia disambut gelak tawa Boby dan Silvia.
“Jadi, itu berarti kamu mengakui kalau wanita selingkuhanmu ini perempuan nggak benar? Dan kamu menyamakan aku dengan dia?”
Gelak tawa kembali pecah di ruangan itu.
Rima yang tidak terima diperlakukan seperti itu berusaha untuk mencakar Silvia. Tapi Pazel segera menangkap tangannya dan membawa Rima yang sudah tersalut emosi itu keluar dari butik itu.
Setelah mereka pergi, Boby masih berdiri dengan tawanya terpingkal-pingkal. Laki-laki yang baru saja merasa senang melihat sahabatnya itu berhasil mempermalukan Pazel dan Rima kembali merasa sedih ketika dia melihat sahabatnya itu terduduk di kursi sambil mengusap air bening yang keluar dari matanya.
“Sil, lu harus kuat, ya? Kalau lu nangis, gua jadi ikutan sedih,” ucap Boby mencoba menenangkan Silvia. Setelah menarik napas beberapa kali akhirnya Silvia tersenyum.
“Iya Beb, aku janji akan berusaha untuk ikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupku. Bukankah semua yang kita miliki di dunia ini hanya titipan dari Allah SWT? Termasuk jodoh.”
Setelah mengucap kata-kata itu, dia teringat dengan orang yang pernah mengucapkan kalimat yang sama. Senyumnya pun mengambang seketika.
“Nah, gitu, dong. Itu baru sahabat gue yang hebat dan kuat. Lu tau, gak? Lu itu motivasi dalam hidup gue.”
“Terima kasih, Beb.”
“Sama-sama.”
Silvia mencoba untuk ikhlas menerima segala cobaan hidupnya karena dia ingat dengan kata-kata yang diucapkan Dokter Dana, bahwa semua yang dimiliki di dunia ini hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.
Besok aku ke dokter untuk periksa keadaan luka di kakiku ini. Aku harus berterima kasih kepada dokter itu. Karena dia aku bisa bersikap tenang dalam menghadapi masalahku, batin Silvia.
***
Pagi-pagi sekali Silvia sudah bersiap untuk berangkat ke butik. Dia sengaja berangkat agak cepat karena siangnya dia akan ke rumah sakit untuk memeriksa kakinya yang masih belum sembuh.
Pagi harinya, Tiara merasa heran melihat kakaknya yang sudah bersiap-siap, karena hari sebelumnya dia berangkat agak siang. Dia yang tidak bisa diam, lalu bertanya seperti bocah.
“Kakak, Kakak mau ke mana, sih? Kok pagi sekali bangunnya? Kemarin Kakak berangkat agak siang.”
“Iya, Dek. Hari ini Kakak banyak kerjaan. Lagi pula hari ini Kakak mau ke rumah sakit, jadi Kakak mau selesaikan pekerjaan Kakak lebih awal supaya tidak terlalu malam ke rumah sakitnya.”
“O, begitu. Ya sudah, Kak. Kakak hati-hati di jalan. Kalau Bang Pazel sama selingkuhannya masih mengganggu Kakak, bilang sama aku, Kak. Akan aku hajar dia.”
“Kamu jaga saja Ibu di rumah baik-baik. Kakak berangkat dulu, ya?”
“Sun dulu, Kak,” ucap Tiara seraya turun dari tempat tidur.
“Sun jauh aja. Bau, kamu belum mandi.”
Silvia keluar dari kamar sebelum Tiara berhasil memegangnya. Dia menutup pintu kamarnya.
Di luar kamar Bu Iyes sudah menyiapkan segelas teh hangat, risol dan kue bolu kesukaan Silvia.
Silvia menyeruput teh hangat dan satu potong kue bolu.
“ Ibu, aku berangkat ya, Bu.” Silvia mencium tangan Bu Iyes.
“Kamu jadi periksa ke dokter?”
“ Jadi, Bu. Tapi aku mau ke butik dulu, sebab masih ada pekerjaanku yang belum selesai.”
***
Hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Pekerjaan Silvia yang sempat terbengkalai sekarang sudah selesai dia kerjakan. Dia merasa lega, karena dia bisa minta izin untuk berangkat ke rumah sakit.
Setelah izin ke Boby, Silvia berangkat ke dokter untuk pemeriksaan kakinya. DIa berharap kakinya segera sembuh, karena dia merasa tidak nyaman berjalan dengan perban yang terpasang di kakinya.
Tak berselang lama kendaraan umum yang ditumpangi Silvia berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta terbesar di kota itu. Silvia langsung menuju resepsionis untuk mendaftarkan pemeriksaannya. Dia sengaja tidak menghubungi Dokter Dana. Dia merasa jika menghubungi dokter itu pasti akan merepotkannya.
Saat menunggu panggilan namanya, ada seseorang yang duduk di sampingnya.
“Boleh saya duduk di sini, Bu?” ucap orang itu setengah berbisik di telinganya.
Jantung Silvia berdetak lebih cepat mendengar suara yang di kenalnya. Silvia segera menoleh ke sumber suara.










