Hana melirik ke arah jam yang bertengger di atas meja belajarnya. Sesekali ia menguap. Tanda bahwa tubuhnya harus segera dimanjakan.
“Ah, nanggung! Bentar lagi ah ….”
Entah mengapa beberapa hari ini semangat Hana tengah meninggi. Berawal dari dipilihnya dia mewakili sekolah dalam lomba pidato berbahasa Inggris antar sekolah menengah pertama, rasa suka dan penasaran Hana pada bahasa asing kian tak terkendali.
Mulutnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra. Beberapa kata dalam bahasa asing yang kian sulit itu kian membuatnya penasaran.
“Harus tuntas!” gumamnya dengan keyakinan diri. Seseorang rupanya memperhatikan dia diam-diam sejak beberapa menit lalu.
“Lagi ngapain Hana, kok belum tidur. Besok kesiangan sekolahmu, Nduk,” suara ibunya mengangetkan Hana yang masih membaca beberapa kata.
“Eh, Ibu sudah lama?” tanya tertawa cekikikan karena kaget.
“Ya, belum. Kok belum tidur kamu.”
“Sebentar lagi, Bu. Belum ngantuk. Besok kan libur, tanggal merah. Ibu lupa ya?” Hana kembali tersenyum. Sang ibu hanya menepuk jidat.
“Oh, iya. Kok lupa ya? Ya udah pokoknya kamu habis ini tidur. Nggak baik buat kesehatan.”
“Nggih, Bu.”
Ibu Hana meninggalkan kamar anak gadis. Kini Hana menguap lebih lebar dan kedua matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Direbahkannya tubuhnya yang sedikit penat, karena kerja bakti di sekolah dari pagi hingga siang.
***
“Han … Hana … !” seseorang memanggilnya. Hana membalikkan tubuh. Dilihatnya seseorang tengah berjalan ke arahnya, Amalia, temannya dari kelas lain.
“Kamu kok lari-lari, ada apa?”
Tanpa banyak kata, Amalia mengambil gawainya dari dalam tas. “Tadi aku lihat nih di instagram, sedang ada lomba nulis cerpen pakai bahasa Inggris. Kamu ikutan yuk! Siapa tahu kamu nanti bisa jadi pemenangnya,” ujar Amalia, penuh pengharapan. Kedua matanya memberi arti ketegasan agar Hana mau mengikutinya.
“Emmm … Ikut nggak ya?” jawab Hana ragu. Jujur saja, ia belum berani mengikuti lomba semacam itu, apalagi memakai bahasa Inggris.
“Aku kok kurang pede ya, Lia,” imbuhnya. Raut wajahnya menandakan keraguan.
“Nggak pede gimana? Ini kan daring, Han. Ayolah ikut. Aku yakin kamu mampu!” tegas Amalia, menyemangatinya.
“Insya Allah. Semoga aku bisa,” jawabnya, “ Ayo masuk kelas! Sebentarr lagi bel,” ajak Hana.
“ Tunggu! Aku ada tugas ngambil buku Pak Gunawan di kantor.”
“Oo, ya udah ya. Aku duluan.”
***
Ini hari pertamanya Hana berada di Seoul, Korea Selatan, menghadiri undangan penulis se-Asia Pasifik. Dia termasuk satu di antara tiga orang perwakilan dari Indonesia. Dua lainnya berasal dari Palembang dan Papua. Hana merasa sangat senang. Mimpi-mimpinya menjadi penulis terkenal yang menginspirasi telah menjadi kenyataan.
Beberapa buku karyanya bahkan sudah tembus Korea, Jepang, Amerika, dan Eropa. Namun, Hana tetap menjadi sosok rendah hati. Ia jarang sekali bermain media sosial untuk hal-yang tidak bermanfaat. Selebihnya, media sosial itu ia gunakan untuk mempromosikan karyanya.
Baginya, media sosial adalah sarana untuk memperkenalkan dirinya beserta karya-karya. Tanpa ia duga, seorang pembaca fanatiknya dari Negeri Ginseng membaca salah satu karyanya yang sempat ia unggah di salah satu platform. Setelah itu, ia mengirimi Hana pertemanan.
O Ha Yeo, demikian namanya. Ha Yeo bercerita pernah kuliah di Yogyakarta, mengambil jurusan bahasa Jawa selama tiga tahun. Sebelumnya, ia pernah kuliah di Jakarta mengambil jurusan bahasa Indonesia. O Ha Yeo ternyata putri seorang pemilik penerbitan di Korea.
O Ha Yeo mengajak Hana ke kantor penerbitan ayahnya yang berada di tengah pusat kota Seoul. Tuan Kim Nam Yeo, menyambut kedatangan Hana dengan ramah.
“Selamat datang, Nona Hana,” sapa Tun Kim dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih. Hana terbelalak, tidak menyangka sebelumnya jika keluarga Ha Yeo sangat mencintai Indonesia.
“Terima kasih, Tuan Kim. Sungguh kehormatan untuk saya bisa datang langsung ke tempat ini,” jawab Hana sedikit membungkuk sebagai tanda penghormatan sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang sana.
***
“Ini apa, byuh!” dilemparnya beberapa lembar kertas folio ke lantai. Hana hanya menahan himpitan yang menyesak dada. Pamungkas, teman sekelasnya itu telah membuat naskah yang telah ditulis Hana dengan susah payah harus menjadi korban kenakalan Pamungkas.
“Tolong kamu jangan begitu! Aku sudah supaya membuatnya. Kamu seenaknya saja main lempar!” kata Hana dengan nada marah. Pamungkas justru menertawakannya bersama anak-anak laki-laki lainnya. Beberapa orang temannya memandang iba Hana. Mereka segera mendekat dan menghiburnya.
“Sudah, Han. Yang sabar aja. Nanti juga Pamungkas itu dapat balesan dari Allah.”
“Padahal aku sudah susah payah lho, Ren,” ucapnya pada Reni, sahabatnya dari kelas lain, “bayangkan saja, aku belajar nulis puisi dan cerpen itu juga nggak mudah. Aku tanya ke sana kemari sama orang-orang yang sudah lama di dunia sastra. Dan itu __ rencananya aku mau ikutkan lomba baca puisi antar sekolah,” isak Hana menahan sedih.
“Aku nggak tahu, sampai kapan Pamungkas akan begitu.”
“Semua pasti ada balasannya, Han. Hanya waktunya saja kita nggak tahu kapan,” Reni terus menghibur Hana. Bersama beberapa temannya mereka menuju keluar kelas.
**
Tertangkapnya Pamungkas sebagai bandar narkoba di salah satu desa tetangga Hana rupanya membuat banyak orang curiga, bagaimana bisa anak orang terpandang, punya kedudukan, serta berpendidikan luar negeri justru melenceng dari jalan yang seharusnya.
“ Tuh, kan. Apa aku bilang, pada akhirnya pembalasan buat kamu itu ada, Han. Bahkan lebih pedih yang diterima Pamungkas,” Reni berkata dengan senyum puas mengembang. Ia merasa bahagia, Hana tersenyum kembali.
***
“Ini aku bawain kamu oleh-oleh, Hana.” Ha Yeo menyodorkan satu bingkisan berupa kotak putih berhiaskan bunga melati.
“Semoga kamu berkenan menerimanya,” imbuh Ha Yeo.
“Terima kasih, Ha Yeo. Boleh tanya nggak?”
“Iya, boleh. Silakan aja.”
“Mengapa ini hanya satu bunganya?” seloroh Hana. Ha Yeo tertawa. Ia sangat suka dengan pertanyaan sahabatnya itu.
“Emm … Aku ingin, kamu tetap menjadi HANA. Satu bunga yang terus akan mewangi, memancarkan kecerdasan serta kejernihan pikiran. Hana tersenyum mendengar ucapan Ha Yeo.
***
“Dia sudah membuktikan, bahwa karya-karyanya layak diapresiasi. Kita harus tetap memberinya semangat.”
“Ada rencana lagi?”
“Bukankah bulan depan ulang tahunnya Hana. Kita kasih kejutan dia aja. Gimana?”
“Ya, aku setuju.”
***
“Maafkan aku ya, Han. Dulu sering nakalin kamu.”
Pamungkas menatap lapangan hijau di LAPAS. Di sana ada beberapa orang sedang berolahraga.
“Kita tetap berteman. Aku ke sini ingin memberimu ini,” katanya, menyodorkan satu novel karya terbarunya. Pamungkas menerimanya dengan tangan gemetar.
Beberapa bulan kemudian terdengar kabar jika Pamungkas telah tiada. Semua teman masa sekolahnya datang untuk mendoakannya.
Seorang wanita muda mendekati Hana, ia berkata, “ Mbak Hana, ada titipan dari mas saya.” Ia menyodorkan selembar kertas. Hana membacanya.
MANUSIA DIKENANG KARENA BERGUNA BAGI MANUSIA LAIN. JADILAH BAGIAN DARI SEJARAH YANG KELAK NAMAMU ABADI DALAM TOREHAN KARYAMU
Ruang Rindu, 5 November 2024 19.19











