Home / Fiksi / Puisi / Gaza, Puisi Cinta Yang Tak Pernah Mati

Gaza, Puisi Cinta Yang Tak Pernah Mati

Gaza, Puisi Cinta Yang Tak Pernah Mati
1

Dari tanah damai aku mengirim kata,
Lewat angin yang menembus langit luka,
Untukmu yang tabah menjaga bara,
Di tengah reruntuhan yang menggigilkan jiwa
Di antara dentum meriam yang menggema

Anak-anak tak berdosa berlari tanpa taman
Bermain di bawah langit yang dipenuhi pendar cahaya
Bukan kembang api tapi mesiu yang membuat langit menyala
Namun, matamu tak pernah terpejam
Terus menyimpan cahaya meski teriakanmu  terus diredam

Kupahatkan doa dalam tiap bait,
Meski tak mampu mengusir debu dan jerit
Seulas sapa cukuplah l sejukkan asa yang telah tercerabut
Karena kata adalah senjata paling sunyi,
Yang lahir dari cinta terdalam dari sudut hati

Kau ajarkan kami arti keberanian sejati
Bahwa tanah air bukan sekadar batas bumi
Atau deretan angka pembatas dalam peta geografi
Melainkan tempat berdiri harga diri
Meski raga luruh di hantam peluru setiap hari

 Kami berjaya tapi tak sekuat dirimu yang pantang berkeluh
Maka Izinkan kami mencintaimu dari jauh
Dengan suara, pena, dan air mata yang luruh
Hanya larik kata yang harapkan jadi pelukan
Yang menguatkanmu di tengah pengkhianatan zaman

 Bertahanlah sahabat, dengan dada lapang
Sebab cinta-Nya tidak akan pernah hilang
Hingga satu saat dunia suatu hari akan mengerti
Setiap tetes darah mujahid Gaza yang jatuh ke bumi
Adalah puisi cinta yang tak pernah mati




Magelang, 22 Oktober 2025

#puisipalestina

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image