“Zionis melanggar lagi! Mereka menyerang di kala perjanjian damai berlangsung,” isi kepalaku bergumam heran.
“Sungguh malang anak-anak Palestina, bagaimana cara menghentikan kekejaman zionis?” Hati nuraniku membalas isi kepalaku.
Segenap jiwa ragaku sedang mengadakan pertemuan membahas perihal kekejaman zionis sejak peristiwa Nakba tahun 1948. Diawali oleh pendudukan tentara Inggris dengan senjata lengkap membuat kedamaian di Palestina sedikit demi sedikit terkikis. Nakba, atau Malapetaka Palestina menjadi titik dimana negara Israel didirikan, 530 desa hancur, pengusiran 700.000 warga Palestina, dan 15.000 warga Palestina yang meninggal akibat pembantaian Nakba.
Lembaran demi lembaran peristiwa Nakba di masa lalu, terbuka perlahan-lahan. Pemukiman Manshiya di Jaffa, menjadi pembuka, yaitu sebelum Nakba diteriakkan, tentara Inggris mengusir warga Palestina, dan menghancurkan pemukiman, bahkan pusat kepemerintahan pun tak luput dari tindak penghancuran tersebut.
“Tinggalkan rumah-rumah kalian bersama anak istri kalian. Jika tidak, kami akan menembak mati di dalam rumah.”
Begitulah suara-suara kejam terdengar panas di telingaku.
Kepanikan yang dialami oleh warga sipil Palestina begitu luar biasa, hingga mereka berhamburan keluar rumah. Ini adalah trauma kolektif yang ditimbulkan oleh tentara Inggris kepada warga Palestina yang lemah, dan tak berdosa.
“Cepatlah selamatkan diri kalian! Gunakanlah kendaraan yang ada, dan lari semampu kalian.” Kata salah seorang tokoh masyarakat Palestina.
Sementara, suara senapan dan bom menggema bising memporak porandakan pemukiman tersebut. Inilah menjadi salah satu penjajahan terkejam sepanjang masa. Pada saat itu, sangatlah sedikit para pejuang yang dapat mempertahankan pemukiman dan wilayahnya. Alih-alih membentuk pasukan militer, persenjataan pun mereka tertinggal jauh dari tentara Inggris. Sehingga tak heran pada masa itu Hamas belum terbentuk.
Aku melihat pada lembar selanjutnya, banyak wajah-wajah wanita yang tak berdaya, namun menatap tegas pada tentara Inggris. Mereka memeluk anak-anak dengan erat, seolah berkata “Jangan takut, nak. Ibumu ada disini bersamamu.” Meski demikian, tetap saja dari hati yang paling dalam—mereka menyimpan rasa takut. Sebab, moncong-moncong senapan tentara Inggris sudah menunjuk angkuh terhadap hidung-hidung mereka. Sebagian besar warga sipil Palestina terusir dari tanah air mereka, tetapi tak sedikit yang mati ditembak di tempat oleh tentara Inggris. Tak peduli, wanita, anak-anak, dan bahkan bayi yang baru lahir pun harus meregang nyawa di tangan tentara Inggris.
Milisi-milisi Israel, seperti Haganah, Irgun, dan Lehi melakukan serangan bersama tentara Inggris terhadap desa di Palestina. Tanpa belas kasihan, mereka mengambil paksa tanah air Palestina, dan melakukan kekerasan seperti pembunuhan, pembantaian massal, pengusiran paksa dan pembersihan etnis, penghancuran desa, kekerasan seksual terhadap wanita-wanita Palestina, dan perampasan tanah dan properti. Apa yang dilakukan oleh milisi-milisi Israel tidak dapat ditoleransi, sebetulnya. Akan tetapi, pada saat itu dunia hanya mampu diam seribu bahasa.
Selepas itu, pada tanggal 14 Mei 1948, negara Israel dideklarasikan, yaitu dimana hari mandat Britania atas Palestina berakhir. Melihat hal itu—sehari setelahnya, warga Palestina memperingati hari Nakba, yaitu Hari Malapetaka pada tanggal 15 Mei 1948. Pada tanggal yang sama, tentara dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak, dan negara Arab lainnya menyerang Israel. Jumlah tentara bangsa Arab sebetulnya lebih banyak dibanding jumlah tentara Israel. Namun, dalam pertempuran sengit itu, tentara Israel mampu mengalahkan tentara bangsa Arab—bahkan mampu merebut 70% wilayah Palestina. Sejak saat itu, warga Palestina diperlakukan lebih tak manusiawi oleh zionis.
Melihat lembaran itu, hatiku benar-benar tersayat yang teramat pilu. Sebab, Palestina akan menghadapi hari-hari yang lebih berat lagi. Rentetan pembantaian kerap terjadi dari tahun ke tahun.
Tahun 1987 terjadinya intifada pertama, penyerangan terhadap warga Palestina menjadi awal perhatian dunia terhadap konflik ini. Tak sampai disitu, peristiwa intifada pertama berlanjut pada tahun 1990—yang pada rentang waktu tersebut terbentuklah Hamas. Setelah itu bagaimana? Israel menerima negosiasi perdamaian.
Tahun 2000-2005 pecahlah intifada kedua. Gerakan ini disebut juga dengan intifada Al-Aqsa. Konflik ini jauh lebih intens dibanding intifada pertama. Kala itu aku masih ingat, ruh semangat jihad tentara Palestina membara begitu kuat. Kalimat “Birruh, biddam, nafdika ya aqsa.” Menjadi penyemangat tersendiri. Umat Islam di seantero negeri menyuarakan kalimat itu sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Alhasil, dengan intifada kedua ini membuat kedua belah pihak harus membayar mahal. Yakni, banyak korban berjatuhan. Setelah itu, Israel pun menarik diri.
Tahun 2007-2009, aku melihat perjuangan Hamas dalam mempertahankan Gaza. Meski berhasil, zionis melancarkan kembali serangan besar setelah intifada kedua. Pemukiman, dan desa-desa di Palestina diserang tanpa ampun. Dunia melihat itu. Ya, dunia melihat peristiwa itu, namun hanya mampu mengecam tanpa bertindak secara konkret. Terlebih, negara-negara Arab hanya mampu sebagai penonton saja. Sungguh memalukan bagi negara Arab!
Pada rentang waktu tersebut, Indonesia tidak tinggal diam. Di sudut-sudut kota, hingga perkampungan, konflik ini menjadi perbincangan hangat. Dukungan terhadap Palestina banjir hingga ke jalan-jalan. Inilah dukungan terbesar pertama Indonesia kepada Palestina.
Tahun 2012-2019, ada perjanjian damai dan gencatan senjata. Mesir menjadi aktor utama yang bertindak sebagai mediator bagi Palestina dan Israel. Namun apalah daya, diam-diam zionis membuat Iron Dome seolah menantang bahwa pertahanannya saat ini kuat dengan mengabaikan warga sipil di negaranya sendiri. Lalu, setelah itu, tentara zionis melanggar perjanjian damai dengan merangsek kembali jalur Gaza. Misi mereka adalah mencari Hamas, akan tetapi, setelah sampai di wilayah Palestina, mereka secara brutal menyerang pula warga sipil yang tak berdosa. Menyisir dari tengah kota, hingga ke masjid-masjid tak ada yang terlewatkan. Mereka menyerang secara brutal dan tanpa belas kasihan. Kedatangan tentara zionis membuat negeri Palestina chaos. Wanita dan anak-anak pun turut menjadi korban atas tindakan represif mereka.
Pada lembaran ini, aku melihat watak asli orang-orang kafir yang sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW, yaitu pengkhianatan. Namun, aku juga melihat—dengan kekuatan yang sangat terbatas, ada relawan dari negeri ini yang mendukung tanpa lelah, yaitu satu diantaranya adalah dengan mendirikan masjid di tanah Khan Younis. Masjid itu menjadi masjid terbesar yang berdiri di tanah Palestina. Masjid yang bernama Masjid Indonesia, berdiri dengan megahnya membuat warga Palestina sangat bergembira. Selain itu, para relawan negeri ini merangkul anak-anak, memecah rasa trauma mereka dengan memberi sedikit senyuman—meski tak mampu menghilangkan rasa takut dari dalam hati mereka, setidaknya mereka tidak merasa sendirian.
Tahun 2021-2022, adalah konflik yang dimana zionis memulai terlebih dahulu. Pada tahun 2021, ada operasi 11 hari. Zionis melancarkan rudal-rudalnya ke pemukiman warga. Mereka menuduh Hamas yang memulai permusuhan ini dengan membuat chaos di wilayah Jerusalem. Alih-alih melakukan klarifikasi, Hamas melakukan serangan balasan ke wilayah Israel. Sebab, apa yang dilakukan oleh Hamas adalah melalui bahasa mereka. Yaitu, perang.
Pada tahun 2022, Hamas mempertahankan wilayahnya, yaitu Gaza dengan melakukan serangan roket agar tentara zionis tidak dapat merangsek kembali seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Pertempuran ini berlangsung singkat hanya 3 hari saja. Akan tetapi, ini menjadi titik penting bagi Hamas, yaitu Jalur Gaza masih dapat dikuasai sepenuhnya, agar warga sipil aman tanpa teror dari tentara zionis.
Tahun 2023 hingga sekarang. Kiranya, pada rentang tahun ini adalah puncaknya dari peperangan Palestina dan Israel. Tanggal 7 Oktober adalah menjadi awal dimana Hamas bereaksi terhadap keingkaran dari zionis. Operasi ini disebut oleh Hamas adalah Amaliyya Tufan Al-Aqsa. Zionis dengan tentara IDF-nya melakukan serangan balasan yang mereka sebut Operation Swords of Iron. Pertempuran yang maha dahsyat pun tak terelakan.
Aku mengasumsikan serangan Hamas adalah sebuah kegeraman terhadap kezaliman zionis kepada warga Palestina. Dari lembaran kisah masa lalu yang mencaplok tanah Palestina, hingga titik damai yang dilanggar berkali-kali.
Pada pertempuran kali ini, Hamas berhasil merusak Iron Dome, sebuah pertahanan yang dinilai hebat oleh zionis. Akan tetapi, dalam 2 tahun terakhir ini, banyak peristiwa yang kerap diperlihatkan kepada dunia. Tanpa pandang bulu, bumi Palestina diratakan dengan begitu sadisnya, hingga warga sipil Palestina terpaksa harus mengungsi ke Rafah. Bicara korban jiwa, tak perlu dipertanyakan lagi, banyak dari warga sipil Palestina yang menjadi korban. Dari anak-anak dan wanita dianiaya hingga banyak tubuh warga sipil Palestina yang hancur beterbangan karena serangan roket zionis. Meski demikian, Hamas tak menyerah begitu saja. Mereka melakukan perlawanan sekuat tenaga hingga tak sedikit dari tentara IDF yang terkena mental. Perlawanan Hamas bisa dibilang kuat dalam menghadapi tentara IDF buatan zionis.
Di Rafah, malang seribu malang bagi warga Palestina. Tempat pengungsian yang seharusnya aman dari serangan, justru harus terbakar merah karena roket kembali diluncurkan menyasar kesana. Tentara zionis beserta elit politiknya sengaja ingin memusnahkan etnis Arab Palestina. Dengan ambisi mereka, tanpa ampun sedikit pun, Rafah menjadi tanah yang berdarah. Tak sedikit korban jiwa datang dari anak-anak dan wanita.
Setelah mengalami perjalanan panjang dalam pengungsian yang begitu berat, warga Palestina kembali pulang ke Tepi Barat, dan ke Gaza. Namun, kedamaian belum juga usai. Serangan demi serangan masih kerap kali dilancarkan oleh tentara zionis, meskipun di tengah perjanjian damai. Mata dunia yang dulunya tertutup, kini sedikit demi sedikit mulai terbuka. Dukungan terhadap Palestina perlahan disuarakan. Ini bukan tentang agama, melainkan tentang kemanusiaan.
Meski pulang, kondisi Palestina porak poranda dan hancur sehancur-hancurnya, dan terancam hilang dari peta dunia. Sebab, apa yang terjadi di Palestina adalah kelanjutan dari 77 tahun genosida. Maka, bukan hanya sekadar kemanusiaan semata, melainkan bersatunya umat agar tanah Palestina yang sudah sedemikian tak berbentuk masih bisa dijaga. Sebab, bukan hanya boikot semata, karena zionis tak memahami bahasa itu.
Dengan penuh pengharapan, marilah kita berdoa agar Palestina tidak benar-benar hilang. Sembari berpasrah kepada Ilahi, persiapkan diri kita agar pantas untuk dapat melantaskan amanat, yakni turut menjaga tanah yang sudah Allah sucikan. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.
Tangerang, 1 November 2025









