Adam tidak menyukai musim liburan ini, yang sebenarnya agak menyebalkan. Dia menghabiskan seluruh hidupnya di lintasan balap, sepanjang hari setiap hari, sepulang sekolah, setiap hari libur. Baru sekarang setelah dia bekerja di sini, tempat ini menjadi musuh bebuyutan nya.
Mungkin dia masih kesal dengan keputusan Cinta yang memutuskan untuk menyingkirkan dia dari hidupnya begitu cepat. Apa pun masalahnya, suasana hati Adam sedang tidak baik.
Dia berjalan di sekitar lintasan, tetap berada di area di antara lompatan sambil membungkuk dan menyalakan setiap alat penyiram yang dia temui. Seluruh lintasan dipenuhi dengan alat penyiram itu, nosel alat penyiram besar yang menyemprotkan air ke tanah. Mereka harus menyiram lintasan banyak-banyak selama musim kemarau karena udara panas dan kering mengubah lintasan menjadi debu. Tidak ada yang bisa berkendara dengan baik di atas debu.
Dia menendang gumpalan tanah yang keras ketika dia berjalan ke alat penyiram berikutnya, memegangi baju ketika membungkuk untuk menyalakannya. Kulit dada dan lengannya agak kecokelatan karena memakai kemeja di ruang kerja, jadi dia melepasnya dan menyampirkannya di bahuku. Dia tidak akan membiarkan pekerjaan ini mengubah dirinya menjadi orang aneh yang berkulit kecokelatan. Dia punya reputasi yang cukup menarik untuk dijunjung tinggi.
Apa kata yang digunakan Noni?
Oh ya, pria tampan.
Dia suka cewek yang suka padanya, tapi sejak Cinta mengusirnya seminggu yang lalu—ya, sudah seminggu penuh—dia belum pulih sepenuhnya.
Dia melirik ke arah rumah keluarga Bakri ketika berbalik dan menyalakan alat penyiram lainnya. Rumah itu sangat jauh sehingga dia tidak bisa melihat apa-apa, tapi itu tidak menghentikannya untuk berharap melihat Cinta berjalan di halaman belakang, memetik bunga liar.
Sial.
Adam membuat lelucon-lelucon kecil yang lucu untuknya, dan Cinta bahkan tidak mau berbicara dengannya.
Bagaimana aku bisa tahu kalau dia suka bunga liar? Mungkin tidak. Mungkin dia punya pacar baru sekarang. Aku tidak akan tahu. Dia benar-benar menjauhiku dan aku terlalu malu dengan semua kejadian itu untuk bertanya kepada orang tuaku apakah dia masih tinggal di sana.
Adam tidak bermaksud membuat Cinta begitu marah ketika mengambil kopernya. Dia hanya berusaha bersikap sopan.
Tapi mungkin di situlah masalahnya.
Adam seorang pemain. Tipe cowok yang tidak terikat. Dia bukan ahli terkemuka di dunia dalam semua hal yang berhubungan dengan cewek, jadi masuk akal kalau ketika dia mencoba bersikap sopan, itu malah menjadi bumerang.
Dia menghela napas panjang dan lambat. Begitu semua udara di paru-parunya mengempis hingga dadanya berada pada level cekung yang sama dengan jantungku. Untuk kesekian kalinya sejak hari Cinta mengusirnya dari kamarnya di rumah keluarga Bakri, dia berkata pada dirinya sendiri untuk melupakan cewek itu.
Sabarlah, Adam.Move on. Hubungi salah satu dari miliaran gadis dalam daftar kontak dan mintalah mereka datang.
Tetapi dia tidak bisa. Dan minggu terakhir ini mungkin adalah minggu terlama dia tidak mencium bibir seorang cewek.
Adam menyalakan alat penyiram lagi dan mengumpat ketika semburan air dingin mengenai wajahnya. Dia begitu asyik melamun—atau terobsesi—karena penolakan Cinta sehingga dia tidak memperhatikan tempatnya berdiri. Dan sekarang dia basah kuyup.
Giginya bergemeretak dan dia berdiri, menggunakan bajunya sebagai untuk mengeringkan diri. Cukup.
Cinta tidak ingin ada hubungan apa pun denganku dan aku tidak akan lagi duduk-duduk di sini seperti banci dengan kepala di awang-awang. Aku tidak akan merindukan cewek yang membenciku. Aku akan kembali ke luar sana dan mendapatkan pengingat langsung mengapa aku tidak menjalin hubungan.
Dia selesai menyalakan alat penyiram, memastikan berada di sisi kanan nosel penyemprot, lalu menyetel alarm selama satu jam dari sekarang untuk mengingatkannya untuk mematikannya.
Begitu dia kembali ke lintasan, Adam membuka daftar kontak dan menggulir. Meskipun Vindy akan langsung datang, dia muak dengannya. Setelah beberapa menit menggulir nama-nama cewek, saya malah membuka Facebook.
Dia mengetik: Boreedddd.
Lalu dia memasukkan kembali ponsel ke saku. Kalau beruntung, seseorang akan mengajaknya keluar untuk melakukan sesuatu. Jadi bagaimana kalau hari Kamis? Ini musim liburan.
***
Selesai bekerja, Adam menuju kantor utama untuk mengambil camilan dari kulkas mini yang disimpan Kinan di belakang meja depan. Semua latihan motor sudah selesai hari ini, jadi untungnya tidak ada pelanggan atau orang tua anak-anak yang berkeliaran di dalam.
Kamis biasanya tutup lebih awal. Dia membuka sekaleng Sunkist dan duduk di salah satu bangku bar di meja depan. Dia bekerja keras hari ini. Dia merasa lebih lelah daripada saat menghabiskan waktu seharian bersepeda motor.
Motor trail membutuhkan banyak daya tahan dan kekuatan, tetapi itu adalah jenis kekuatan yang dia kuasai. Menarik gas dan menaikkan gigi sepeda motor menjadi gigi lain menjadi hal yang alami baginya kini. Itu semua adalah memori otot dan ketika dia mengendarai sepeda motor di lintasan, itu adalah latihan seluruh tubuh yang terasa lebih seperti bermain. Dia menikmati setiap detiknya. Dia tidak menyukai pekerjaan kasar yang dia lakukan hari ini.
Papanya masuk sambil berbicara di ponsel. Dia menutup telepon sedetik kemudian dan kemudian menyeringai kepada Adam.
“Siap menerima gaji pertamamu?” kata Irfan sambil menyodorkan selembar kertas terlipat.
“Tidak juga,” kata Adam dengan nada bercanda saat membuka kertas itu. “Bisa-bisa Kinan dan kamu nanti nyuruh aku beli barang-barangku sendiri.”
Irfan tertawa.
“Ya. Itulah indahnya membuat anakmu mendapat pekerjaan.”
“Wah, tiga juta,” kata Adamambil merobek cek di bagian tepinya yang berlubang. “Lumayan.”
Sebelum papanya bisa mengatakan apa pun, Kinan memanggil namanya dari suatu tempat di ujung lorong.
“Sial, sepertinya ada drama yang sedang terjadi,” kata Irfan sambil memutar matanya sebelum pergi.
Adam bisa mendengar suara Noni menyapa papanya dan tiba-tiba drama apa pun yang mereka bicarakan, dia ingin menjadi bagian darinya. Dengan hati-hati, Adam meluncur dari bangku dan berjalan menyusuri lorong, membuat sepatunya berbunyi sepelan mungkin di atas ubin kotak-kotak hitam dan putih.
Noni, Kinan, dan papa sedang mengobrol di ruang bermain anak-anak. Awalnya tempat ini adalah tempat penitipan anak ketika Adam masih kecil, tetapi sekarang tempat ini seperti ruang bersantai untuk anak-anak, remaja, dan orang tua. Ada sofa, TV, dan lain-lain di sana.
Dia berjalan ke pintu, menempelkan punggung ke dinding agar bisa menguping.
“Sudah seminggu sekarang, dan aku tidak tahu harus berbuat apa,” kata Noni.
“Mamanya tidak menjawab telepon sama sekali?” tanya Kinan.
“Biasanya telepon langsung masuk ke pesan suara, tetapi terkadang berdering, jadi itu artinya teleponnya aktif, kan?” balas Noni.
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Irfan. “Memanggil polisi?”
“Apa!” Noni terdengar tersinggung. “Untuk apa aku melakukan itu? Anak itu bukan penjahat, Irfan.”
“Ya, tapi,” kata Irfan, lebih lambat sekarang. Dia mungkin berusaha untuk tidak membuat Noni marah lagi. “Mungkin kamu harus melaporkan anak itu sebagai orang hilang atau semacamnya. Atau serahkan dia ke dinas sosial karena dia masih di bawah umur.”
“Nggak, aku nggak akan mengusir dia,” kata Noni. “Aku sebenarnya suka ada cewek lain di dekatku. Membuatku teringat anak yang tidak pernah aku miliki. Menyenangkan punya teman untuk bergaul dan dia anak yang manis, Irfan. Dia memang manis.”
“Oh, kami bersenang-senang saat pergi berbelanja,” kata Ibu. “Anak itu bisa makan banyak.”
Apa? Kapan ibuku pergi berbelanja dengan Cinta? Dan mengapa aku tidak diberi tahu? gerutu Adam dalam hati
Noni tertawa.
“Aku biolang ke Cinta tujuanku adalah membuatnya bertambah berat badan lima kilo. Seharusnya tidak terlalu sulit. Setiap kali aku masak, dia bertingkah seperti belum makan selama berminggu-minggu, kasihan sekali.”
“Menurutku, kamu harus memberinya lebih banyak waktu,” kata Kinan. “Dia tidak punya tempat lain untuk dituju dan kamu tidak ingin polisi terlibat. Mereka akan menempatkannya di semacam panti asuhan.”
“Hei, jangan lihat aku seperti itu,” kata Irfan dan Adam membayangkan papanya mengangkat tangannya tanda menyerah kepada dua wanita di depannya.
“Aku hanya berusaha membantu. Ya Tuhan, aku tidak ingin gadis itu tinggal di panti asuhan atau semacamnya. Aku hanya khawatir dengan mamanya.”











