Home / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 1

Cinde Lara: Bab 1

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 2 of 27 in the series Cinde Lara

“Apakah Kanda masih risau tentang dia, Kakanda?”

Sultan Johan mendesah resah duduk di tempat tidur.

“Mengapa saya tak boleh risau, Adinda? Dua pekan ke depan dia akan berusia 26 tahun. Apakah saya tidak sepatutnya risau? Penerus takhta kerajaan macam apa dia?”

Ratu Fairuz tersenyum dan pergi lalu duduk di samping suaminy dan memeluknya.

“Beri dia waktu.”

“Waktu? Perlu berapa lama? Dia bukan budak kecil lagi. Dia seorang laki-laki dan dia diharapkan untuk mengambil alih setelah aku tiada. Lihat aku, aku sudah lelah dan tua, aku tidak punya banyak tenaga lagi.”

Fairuz mencibir.

“Seriously?” tanyanya, sambil mencibir nakal. “Dengan tiga ronde yang Kanda lalui semalam, sekarang Kanda berkata Kanda sudah tua?”

“Saya tidak mungkin terlalu tua untuk istriku. Bagaimanapun juga, saya seorang Sultan. Saya diharapkan untuk sangat aktif dalam segala hal dan itu termasuk tidak membuat awak tersingkirkan, Adinda,” canda Johan dan mereka berdua tertawa.

Mereka berdua berciuman, tetapi ciuman itu terputus ketika seorang penjaga mengetuk pintu.

“Baginda Sultan, Ratu, kami kembali.”

“Masuklah,” kata Johan dan seorang penjaga masuk, berpakaian lengkap dengan seluruh atribut pengawal istana. Maksudnya, mereka selalu mengenakan pakaian adat yang pelik.

“Jadi, di mana dia?” tanya Johan.

“Dia kabur melarikan diri, Baginda Sultan,” penjaga itu menjawab dengan tenang.

Sultan dan Ratu saling bertatapan.

“Maksudmu, engkau kehilangan dia?” tanya Ratu Fairuz.

“Ya, Baginda Ratu. Pengiran pasti tahu bahwa kami mengikutinya dan mendadak saja dia menghilang.”

Sultan Johan memijit pelipisnya dengan jari telunjuk.

“Engkau benar-benar tidak berguna. Jadi engkau kehilangan dia? Bukankah engkau seharusnya menjadi pengawal peribadinya?”

Ratu memberi isyarat kepada penjaga yang segera membungkuk dan berambus pergi.

“Kakanda cintaku, sayangku, kekasih hati belahan jiwaku.  Kakanda mesti bertenang dalam senyap. Ingat bila malam nanti kita akan lanjut dengan tiga ronde lagi. Berjimatlah dengan jantung Kakanda,” kata Fairuz pada suaminya.

“Dia bertingkah macam orang biasa, rakyat jelata. Banyak orang bahkan tidak kenali dia di luar tembok istana. Dia tidak pergi bersama rombongan kawalan. Dia menolak pengawal peribadinya menemani. Dia membenci semua pakaian modis yang dibuat penjahit kerajaan untuknya. Bagaimana kalau aku mangkat sekarang dan dia mengubah istana menjadi semacam pusat wisata?”

Fairuz tertawa.

“Tidaklah mungkin dia akan melakukannya. Dia budak yang baik. Jadi Kanda tidak perlu khawatir tentang dia. Adinda akan berbicara dengannya.”

“Lebih baik segera! Dia anak awak!”

“Dia anak kita,” Ratu mengoreksi tetapi Sultan mengabaikannya.

“Bagaimana rencana perjamuannya?” tanya Sultan. “Adinda telah melayangkan surat ke delapan keluarga, jadi Adinda yakin para wanita sedang mempersiapkannya.”

“Ya, mungkin kalau kita akhirnya memilih salah satu gadis perawan dari delapan keluarga untuknya, seorang gadis yang baik dan manis budi, mungkin dianya akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab,” Sultan berkata sambil berdiri. “Saya menyerahkan semuanya kepada tangan awak yang cakap, Adinda,” kata Sultan Johan, mencium tangan Ratu Faairuz sebelum meninggalkan ruangan.

***

Ratu duduk di kamarnya dengan jubah kebesarannya yang panjang menyapu lantai. Kecantikannya benar sedap  untuk pandang. Dengan telinga yang dihias tinggi tinggi rambut disanggul dan diikat dengan ornamen perak. Kedua pergelangan tangannya ditutupi perhiasan yang jauh dari murah.

Dua dayang-dayang merawatnya. Mengenakan seragam karya desainer ternama dari Pulau Pinang, mereka berdua adalah pelayan ratu, dan mereka menunjukkan foto-foto dari tablet di tangan mereka. Kedua pelayan ratu berasal dari Indonesia. Banyak buruh migran asal negeri jiran serumpun itu menjadi pelayan  para bangsawan, karena selain bersedia dibayar murah, juga hampir tak ada hambatan bahasa.

“Siapa itu?” tanya Ratu.

“Ini Sri Gina, Baginda Ratu,” Tatyana Elleni Rosa Endrin, salah satu pelayan menjawab dan melanjutkan. “Ayahnya adalah Perdana Menteri Kulonurip, bahasa Sundanya Westlife. Dia adalah seorang chef, belajar di Harvard University dan telah memenangkan banyak kontes, salah satu yang paling berbudaya dan berperilaku terbaik.”

Ratu Fairuz mengambil tab dan mengamati fotonya.

“Alamak! Seronok nian.” Dia mendongak dan mengembalikan iPad itu ke Tatyana Elleni Rosa Endrin.

“Seetea, mana punya awak? Saya nak tengok.”

Pelayannya yang bernama Siti tapi minta dipanggil Seetea dan kalau menulis paraf sebagai CT, membungkuk sedikit dan menyerahkan tab Android Cina di tangannya, menggeser ke foto berikutnya.

“Siapa dia?” tanya Fairuz.

“Namanya Awkatrina, dia—”

“Oh, aku kenal orang tuanya,” Sang ratu menjawab. “Ayahnya dulunya adalah tangan kanan Sultan sebelum dia meninggal. Kurasa dia mewariskan segalanya kepada istrinya.”

“Ya, kepada istri keduanya yang dinikahinya setelah istri pertamanya meninggal.” Seetea mengkoreksi.

Sang ratu terkejut.

“Saya tidak tahu itu, sungguh? Jadi, budak itu dari istri dia yang baru? Bukannya istri pertama?”

Seetea mengangguk, “Ya ratuku, aku tidak yakin apakah istri pertama meninggalkan seorang anak, tetapi Awkatrina memiliki seorang saudara perempuan—”

“Saya tidak begitu tertarik dengan silsilah keluarga, Seetea.” Fairuz buru-buru memotong sebelum menyerahkan tab made in Cina kembali kepadanya.

“Jadi, kita punya delapan gadis perawan yang sudah diajarkan selama bertahun-tahun segala rupa ilmu bangsawan untuk menjadi pasangan  pengiran, tetapi hanya satu yang akan menjadi calon ratu yang sebenarnya. Begitu banyak yang harus dipersiapkan, nona-nona. Akan ada kompetisi dan banyak lagi lainnya. Aku sangat gembira. Sekarang, di mana putraku itu?”

***

Kedua pria muda itu berlari secepat yang mereka bisa sambil tertawa dengan napas terengah-engah. Salah satu dari mereka menoleh ke belakang dan menyadari bahwa orang-orang yang mengejar mereka telah berhenti.

“Hei tunggu, berhenti! Mereka sudah tak tampak lagi.” Dia berseru dan rekannya berhenti, membungkuk mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

Mereka berada di lapangan terbuka yang dekat dengan danau. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

“Gue kagak percaya kita bisa melarikan diri dari mereka.”

Salah satu dari mereka berkata.

“Kau bajingan, Pengiran,” yang lain berkata.

“Lu idiot. Kalo lu bukan bestiegue, selapik seketiduran dan senasib sepenanggungan, udah gue tendangbokong lu ke bintang ziarah nan jauh.” Dia berkata sambil tertawa.

“Lihat Jun, kau harus berhenti melakukan ini.”

“Melakukan apa?”

“Melarikan diri dari pengawalmu sendiri. Bagaimana kalau kau mendapat masalah suatu hari nanti?”

Yang dipanggil menepuk dada.

“Hei, tenanglah Sam. Lu tahu alasannya.”

“Karena kau sesungguhnya seorang introvert yang sangat pemalu dan kau tidak ingin orang lain tahu bahwa kau seorang pangeran mahkota dari Kesultanan Barumei.”

Jun mendesis.

“Bukan, bodoh! Gue heran gimana kok lu sama gue bisa temenan kalo lu bego gitu? Gue ogah etensyen, Sam. Segala ‘pengiran hamba ini, pengiran hamba itu’ dan kalau lu masih sebut ‘pengiran’ lagi, gue bakal menumpas lu.”

Sam mengangguk. “Baiklah, pengiran hamba.”

Lalu dia bergegas mengambil langkah seribu,  karena Jun mengejarnya dengan keris di tangan.

Cinde Lara

Cinde Lara Cinde Lara: Bab 2
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image