Jalanan kosong saat anak laki-laki itu berjalan pulang dari sekolah. Ranselnya tersampir di bahu. Hari itu terasa panjang dan dia hanya ingin meringkuk di tempat tidur dan tertidur. Namun, ketika dia berbelok di tikungan menuju jalannya, dia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Di sana, di tengah jalan, tampak sebuah kepala raksasa melayang ke arahnya. Namun, yang benar-benar menakutkan anak laki-laki itu adalah ekspresinya—atau lebih tepatnya, ketiadaannya. Sebaliknya, yang ada hanyalah rahang menganga yang seolah tak berujung, seolah-olah makhluk itu telah menelan mulutnya sendiri.
Naluri pertama anak laki-laki itu adalah berbalik dan lari, tetapi dia tahu dia tak bisa lari dari makhluk itu. Maka, dengan tangan gemetar, dia meraih ponselnya dan menghubungi nomor darurat.
“Tolong, aku butuh bantuan,” bisiknya di telepon. “Ada semacam monster di jalanku.”
Operator menanyakan lokasinya dan berjanji akan mengirimkan bantuan, tetapi anak laki-laki itu tahu sudah terlambat. Makhluk itu semakin dekat, rahangnya menganga lebar.
Tiba-tiba, anak laki-laki itu mendengar suara di kepalanya. “Teriaklah dan aku akan memakanmu,” katanya.
Anak laki-laki itu tahu dia tak punya pilihan. Dia menjerit sekeras-kerasnya, berharap seseorang akan mendengarnya dan datang menyelamatkannya.
Namun, ketika rahang makhluk itu mencengkeramnya, anak laki-laki itu tahu bahwa nasibnya sudah ditentukan. Makhluk itu, yang dikenal sebagai Muka Mulut, telah menemukan korban terbaru.
18 November 2025











