Seluruh kota bagaikan dunia baru, dengan lembaran atap cokelat yang membentuk pola tertentu di mana-mana.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah, keduanya tak henti-hentinya memandang ke mana-mana. Jun pernah membaca tentang orang-orang miskin yang tinggal di kota, tetapi tak seorang pun pernah benar-benar memberitahunya betapa bijaknya mereka.
Meskipun rumah itu bukan rumah besar atau dibangun dengan batu bata, dia dapat dengan mudah mengetahui bahwa rumah itu dibangun dengan kardus dan lumpur. Mereka tidak menginjak lantai beton yang dingin, melainkan di atas tikar hangat yang digunakan sebagai pengganti karpet.
Dia tahu dari cara Cinde memandang, Cinde sama seperti dirinya, belum pernah berada di rumah seperti itu sebelumnya. Mereka berada di sebuah lorong dan tak seorang pun ada di dalam rumah.
Tuan rumah mereka masuk tak lama setelah ia pergi untuk mengikat kerbaunya di tempat yang aman.
“Silakan, ikut aku,” katanya, dan mereka mengikutinya ke sebuah ruangan yang memiliki kursi santai kayu nyaman berukuran sekitar tiga kaki, sebuah TV hitam putih kuno dengan kotak kardus besar di belakang, sebuah radio transistor, dan dua bangku lainnya.
“Duduklah, istriku akan segera datang. Aku akan mengambilkan air minum untukmu,” katanya.
Jun duduk di kursi santai sementara Cinde duduk di bangku.
Uwak Gamal, begitulah namanya, berseru.
“Wow!” kata Jun setelah ia pergi.
“Ya, wow!” jawab Cinde.
Sebelum Jun sempat bicara, Uwak Gamal membawa mangkuk logam bersih berisi air dan menyerahkannya kepada Jun yang menerimanya dengan penuh terima kasih dan menunggu cangkir.
“Kamu harus minum dari mangkuk itu,” kataUwak Gamal sambil tersenyum.
“Oh, oke.” kata Jun sebelum mengangkat mangkuk ke bibirnya sementara Cinde menyembunyikan senyumnya. Airnya dingin dan menyegarkan. Lalu dia menyerahkannya kepada Cinde.
“Ini bagus. Apa Uwak punya kulkas atau kenapa airnya sedingin itu? Saya tak tengok ada sumber listrik.”
Uwak tersenyum, “Kami punya tempayan untuk menyimpan air, kami menyebutnya ‘kendi’, terbuat dari tanah liat dan membuatnya dingin saat cuaca panas seperti ini, airnya jadi lebih sejuk.”
“Ya Tuhan! Hidup di desa memang yang terbaik,” kata Jun penuh semangat. Dia sedang mengalami petualangan terhebat dalam hidupnya.
Cinde meletakkan mangkuk di lantai setelah hausnya hilang.
“Terima kasih banyak, Uwak Gamal atas kebaikan hati Uwak. Kapan bini Uwak balik?” tanya Cinde.
“Oh, dia pergi ke pasar, semua orang sedang mempersiapkan hari ketujuh, jadi dia akan segera datang. Tapi sementara kita menunggu, aku akan menunjukkan kamar kalian. Seperti yang kalian lihat, gubuk ini kecil, jadi kalian harus tidur satu kamar.”
“Kami akan dengan senang hati melakukannya. Uwak sudah banyak menolong kami.” Jun berkata cepat sebelum Cinde sempat berbicara, lalu mereka berdiri untuk mengikuti pria itu.
**
“Keluarkan aku! Kalian tidak bisa menahanku di sini! Keluarkan aku dari sini!” Zhoya menjerit dan berteriak, membenturkan tangannya ke pintu besi. Ia dikurung tanpa alasan yang jelas dan dia tahu Tatiana dalang di balik semua ini.
“Tatiana! Dasar jalang! Kau akan membusuk di neraka!” Dia berteriak sekeras mungkin, tetapi tak seorang pun menanggapi dan tak seorang pun terlihat. Tempat itu benar-benar berbeda, seperti ruang bawah tanah rumah besar itu, tak seorang pun bisa mendengarnya.
“Ini sangat tak adil! Aku tak melakukan apa-apa.”
Dia menangis, duduk di lantai. Ponselnya ada di mobilnya yang masih di luar, dia tak tahu harus berbuat apa dan temannya mungkin masih berada di suatu tempat, kalau belum mati.
Zhoya mendesah dan menangis.
“Itu tak cocok untuk kau.”
Dia tiba-tiba terlonjak ketika mendengar suara di belakangnya. Dia tak melihat siapa pun. Dia satu-satunya orang di dalam sel. Tapi kemudian Zhoya menyadari sel itu ternyata lebih besar dari yang dia kira. Ada ada sisi gelapnya. Dia hanya berada di area yang mendapat secercah cahaya.
“Siapa kau?” desaknya, dan sosok itu muncul dari kegelapan di ujung sel.
Sosok itu adalah seorang pemuda berusia awal dua puluhan yang pernah dilihatnya sebelumnya … oh benar, di foto telepon yang ia temukan.
“Aku kenal kau,” katanya.
“Oh, ya? Aku rasa kita belum pernah ketemu,” kata Sam sambil bersandar di dinding.
“Aku menemukan ponsel dan, kau, kaulah yang sedang ngobrol sama aku.”
Sam mengerutkan kening dan menatap Zhoya.
“Kau cewek super yang ingin menyelamatkan Jun?”
“Jun? Siapa Jun?”
“Kawan akulah. Yang kau bilang diculik sama-sama kawan kau. Tunggu! Kau sudah ketemu kawan kau, kan? Bukankah kau yang menelepon ratu dan menuntut supaya dia kasih kau sesuatu sebagai imbalan?”
“Ratu?” tanya Zhoya, bingung. “Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi satu hal, aku tak menelepon ratu mana pun. Aku mencoba menelepon kau, lalu aku menutup telepon, dan sekarang—”
Dia berhenti ketika teringat foto ratu. “Tunggu, ratu, apa dia nyata?”
“Ya, kau sekarang di istana.”
“Ya Tuhan! Jalang itu! Tatiana melakukan ini karena suatu alasan. Tunggu! Jadi itu artinya … kau bukan pangeran?”
“Bukan, kawanku yang pangeran.”
Zhoya tersentak gembira. “Ya Tuhan! Kau bercanda? Pria itu pangeran. Ya Tuhan! Ini terlalu bagus. Cinde bersama pangeran.”
Zhoya menangis kegirangan.
Sam memperhatikan dengan bingung. “Siapa Cinde?”
“Yah, dia kawankulah, yang diculik bersama kawan kau.”
“Tapi kukira kau sudah menemukannya?”
“Yah, aku salah orang. Tatiana seharusnya ada di sini, sepertinya dia juga diculik tapi bukan oleh orang yang sama.”
Samberpikir sejenak.
Kalau Tatiana masuk dalam rencana Jun, lalu Jun dan Cinde diculik orang lain, berarti ada dua kelompok yang terlibat.
“Astaga!” katanya sambil menyisir rambut dengan tangan.
“Ada apa?”
“Kurasa ada dua kelompok penculik.”
“Ya, kupikir juga begitu dan aku mengikuti mereka sebentar sampai aku capek.”
“Jadi kau masih ingat rute yang mereka ambil?”
“Ya, seperti punggung tanganku.”
“Kalau begitu, kita harus keluar dari sini.”
“Tapi bagaimana caranya?”
“Aku punya rencana, yang tidak bisa kulaksanakan karena aku sendirian dan sekarang kau di sini, kita bisa melakukan ini bersama.” “Baiklah, aku harus bikin apa?”









