Bay duduk di studio apartemennya yang sempit—ruang yang terasa luas hanya ketika pikirannya retak. Kanvasnya kosong, seperti selembar ingatan yang lupa ditulis ulang. Di sudut ruangan, jam dinding meleleh; detik-detiknya menetes ke lantai seperti embun yang kehilangan arah.
Ia tahu ia seharusnya merasa sedih, tapi emosinya kini seperti suara yang teredam kabut tebal. Hari apa ini? Tahun berapa? Pertanyaan itu meluncur dan tenggelam sebelum sempat menyentuh dasar pikirannya. Ia merasakan jarak antara dirinya dan waktu membentang seperti kain yang hampir koyak.
Dinding yang baru dicat abu-abu itu tiba-tiba berkedut. Permukaannya beriak seperti air yang disentuh angin asing. Dari balik riaknya, Na menembus keluar—perlahan, seakan menjaga ruangan agar tidak terkejut.
Senyum Na membawa hangat yang terasa asing, tidak sejalan dengan dingin dinding yang baru menutup di belakangnya. Ia menenteng sebungkus bakso yang asapnya tidak menguarkan aroma kaldu… melainkan aroma kenangan: tawa lama, lampu kuning warung kecil, dan masa sebelum Bay patah.
“Kau melamun lagi,” ucap Na. Suaranya terdengar seperti alunan cello yang lembut seolah ditarik dari mimpi. “Aku membawakan Bakso Pak Min. Aku harus mencari warungnya sampai ke sudut ingatanmu yang hampir runtuh.”
Bay merasakan sesuatu hangat pecah di dadanya. Cinta? Atau kehilangan yang mendadak menemukan bentuk baru? Ia tidak mempertanyakan bagaimana Na bisa keluar dari dinding. Cinta selalu tahu bagaimana menyelinap melalui batas yang tidak mungkin.
“Terima kasih,” bisiknya. “Aku… lupa apa yang sedang kucari.”
“Kau mencari diriku,” jawab Na lembut. Ia meletakkan mangkuk itu di meja yang kakinya bergerak pelan, seperti akar yang mencari tanah.
Saat Bay menatap mie putih dalam mangkuk, permukaannya bergetar. Di sana ia melihat dirinya—versi utuh yang berdiri di dunia yang belum pecah.
Sejak dinding mencair malam itu, Bay mulai sadar bahwa realitasnya memiliki retakan-tipis-nyaris-tak-terlihat. Ia mencoba melukis, tetapi setiap garis terasa seperti jeritan yang gagal.
Sore itu, Na sedang bernyanyi di dapur. Suaranya seperti titik-titik air jatuh ke gelas kristal—jernih, pecah, dan memeluk sunyi. Bay hendak berkata sesuatu, tetapi merasakan tarikan halus menuju sudut studio.
Lukisan itu.
Lukisan pertamanya yang gagal. Warna kelabu, abstrak—seperti luka yang belum selesai dibahasakan. Ia menutupnya dengan kain, tetapi kain itu tidak pernah benar-benar menutup apa pun.
Gelombang dingin merayap dari arahnya.
Kain penutup itu bergerak.
Kanvas yang seharusnya diam menonjol keluar—melengkung seperti dada makhluk yang mencoba bernapas. Warna kelabu berputar, membentuk wajah yang ia kenal: wajahnya sendiri, namun retak dan bermata asing.
Lalu suara itu datang.
Tidak lewat telinga—melainkan lewat sesuatu yang lebih dekat dari jantungnya.
“Kau tidak nyata.”
“Aku yang nyata.”
“Keluarkan aku… atau aku akan membuatmu sedih lagi.”
Bay terpaku. Dunia di sekelilingnya bergeser halus, seperti ruangan sedang menarik napas.
Na berhenti bernyanyi.
Ia tahu.
Na berlari ke studio, wajahnya pucat—pucat yang tidak memudar, seperti warna yang ditinggalkan maut. Tatapannya langsung menuju kanvas, seolah ia tahu siapa yang memanggil dari balik kelabu itu. Wajahnya yang semula sumringah kini dipenuhi teror.











