Home / Fiksi / Cerbung / 7. Situs Brongsongan, Bukti Harmoni Antar Agama

7. Situs Brongsongan, Bukti Harmoni Antar Agama

Ananta Kama 1600x900
1
This entry is part 8 of 33 in the series Ananta Kama

Aku melajukan motor menuju Dusun Brongsongan, Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur. Sudah diketahui umum bahwa kawasan cagar budaya Borobudur bukan hanya menyimpan jejak peribadatan Buddha, tapi juga situs-situs bercorak Hindu yang sarat makna historis. Salah satunya adalah Situs Brongsongan, yang menjadi bukti kuat agama Hindu juga turut berperan dalam kehidupan masyarakat di kawasan tersebut  pada abad ke 8 hingga ke 10 Masehi.

Tiba di lokasi yang berada tak jauh dari jalan raya, Zack mendahului turun. Laki-laki berdarah Belanda itu langsung menuju ke tempat situs berada. Dengan antusias dia mengamati hingga tak menyadari kehadiranku.

“Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh dinas purbakala Belanda kala itu, situs ini telah dikenali melalui berbagai artefak dan struktur yang ditemukan, seperti lingga, yoni, dan sejumlah arca. Konon dulu situs ini bernama Sri Anom dan situs Kanggan. Nama Brongsongan baru digunakan setelah secara resmi terdaftar di pemerintahan pusat dan pengelolaannya menjadi satu dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang merupakan wilayah kerja Balai Konservasi Borobudur.” paparku menjelaskan.

Zack fokus menatap dua Yoni dengan ukuran yang berbeda. Satu yoni utuh berukuran lebih besar dengan panjang dan lebarnya mencapai lebih dari satu meter memiliki cerat atau pancuran yang di bawahnya terdapat ornamen berupa pahatan garuda dengan posisi jongkok dan mengangkat cerat yoni ke atas punggung kura-kura yang merupakan ciri khas arsitektural. Dan satu yoni lain tidak memiliki pancuran dan ukurannya lebih kecil, tampaknya terputus atau patah dari bagian tubuh yoni. Hal itu dapat dilihat dari bekas pahatan pada salah satu sisi bidangnya

“Apakah Ornamen seperti ini menjadi ciri khas yoni di kawasan cagar budaya Borobudur?” tanya Zack, sepertinya dia mengingat persamaan ornamen candi-candi yang dikunjungi sebelumnya.

“Kamu benar. Ornamen itu yang menunjukkan pengaruh agama Hindu di tengah dominasi candi-candi Buddha di Borobudur, Pawon, dan Mendut,” ungkapku.

Zack mengangguk lalu menunjuk pada struktur bata kuno pada bangunan, “Katakan jika aku salah. Struktur bata kuno ini menegaskan, bahwa ini bangunan Hindu?”

“Yup, apa yang Kamu katakan benar. Meski tidak ditemukan dalam laporan masa kolonial Belanda yang hanya mencatat fragmen bata. Namun, saat  ekskavasi pada tahun 2018 dan 2020 di bagian utara dan barat situs baru ditemukan struktur bata yang besar, yang bisa jadi merupakan pondasi atau sisa bangunan peribadatan. Material bata ini diduga seumur dengan bangunan candi di kawasan Borobudur seperti Pawon dan Mendut.”

Zack mengelus arca yang terbuat dari batu andesit, batuan vulkanik beku yang lazim digunakan untuk pembuatan patung pada masa tersebut.Temuan bata-bata kuno ini menambah kekayaan arkeologis Situs Brongsongan dan mengindikasikan adanya teknologi bangunan pada masa klasik di Magelang yang sudah menggunakan material bata dalam arsitektur keagamaan Hindu.

“Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut memang menjadi ikon agama Buddha, tapi kehadiran situs-situs Hindu seperti Brongsongan, Plandi, Bowongan, menunjukkan adanya harmoni dan kerukunan antarumat beragama di kawasan Borobudur pada masa lalu,” ujarku menjawab rasa penasaran Zack.

“Kalau saya tidak salah, upaya konservasi situs ini masih terus berlanjut hingga tahun 2023. Salah satu temuan menarik pada saat pembuatan pondasi pagar adalah bagian atas arca Nandi Swara yang ditemukan pada kedalaman 50 cm.” Aku menunjuk pada arca yang telah disatukan kembali dengan bagian tubuhnya

“Nandi? Apa yang dimaksud Nandi?”  tanya Zack

“Nandi dalam konteks budaya India, adalah lembu jantan suci, kendaraan, dan pengawal Dewa Siwa. Sedangkan Nandi swara adalah  perwujudan manusia dari Nandi, yang memiliki derajat lebih tinggi sebagai dewa antropomorfik. Ia sering kali digambarkan membawa camara atau pengusir lalat di tangan kanannya dan kadang-kadang trisula.”

Seorang petugas yang kami temui menjelaskan bahwa, saat penggalian ditemukan patahan kaki arca Siwa yang terpisah lebih dari 50 tahun dan berhasil disatukan dengan bagian lainnya. Saat ini potongan arca bagian kaki yang baru ditemukan tersebut kini disimpan dalam Museum Cagar Budaya Unit Borobudur.

Setelah dilakukan diskripsi, terdapat pahatan bagian tongkat trisula dan gelang pada kaki. Hal itu menyimpulkan bagian arca itu berasosiasi dengan Siwa.

“Elemen ekonografi ada pada arca tersebut diantaranya pada bagian kaki dan adanya pahatan yang bentuknya mirip dengan tongkat trisula yang biasa dibawa oleh Dewa Siwa,” ujar petugas menjelaskan.

Tinggi dari arca Siwa secara keseluruhan mencapai sekitar 1 meter, sedangkan potongan bagian kaki dari arca yang ditemukan mempunyai tinggi sekitar 70 cm.

Masih menurut petugas, dengan adanya penemuan tersebut memperkuat Situs Brongsongan bahwa, dulunya merupakan situs yang berkaitan dengan pemujaan Dewa Siwa atau Hindhu Siwa. Di lokasi Situs Brongsongan juga pernah ditemukan dua arca lain yakni arca Agastya dan satu arca lainnya yang belum diketahui namanya. 

Puas mengulik informasi tentang situs yang memiliki banyak keistimewaan tersebut, aku mengajak Zack melanjutkan perjalanan. Hari ini sudah terlalu jauh melenceng dari agenda, khawatir Puji mencari anggota rombongannya yang hilang.

“Kita pulang sekarang. Cukup untuk hari ini,” tegasku. Zack meringis dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Hartelijk dank. Ik ben blij je ontmoet te hebben.”

“Aku bahkan sangat senang jika ada orang asing yang mau mengenal sejarah, budaya dan kearifan lokal negeriku.” Aku merasa tersanjung dengan antusias Zack yang rela berpanas-panasan membonceng motor hanya untuk melihat candi.

“Negerimu sangat indah, banyak keunikan dan keanekaragaman budaya, orang-orangnya ramah, suka senyum dan menyapa.”

Aku terkekeh, “Indonesia memang indah, banyak hal yang menarik tentang sejarah, adat, budaya, dan kearifan lokalnya. Itulah sebabnya aku melakukan eksplorasi dan menulisnya. Aku berharap tulisanku dibaca banyak orang, Dengan cara itu aku mengenalkan Indonesia pada kancah internasional  agar dunia mengenal keindahan alam dan keunikannya yang aneka ragam, juga warisan budaya yang menarik.”

“Wow, itu keren. Satu saat aku ingin membaca karya-karyamu.”

“Dengan senang hati.” Aku menjawab mantap.

“Serius?” tanyanya dengan mata membulat.

“Tentu saja, bahkan jika tidak keberatan Kamu boleh membawa pulang novel karyaku untuk dibagikan pada teman-temanmu. Hitung-hitung promosi.”

Zack tergelak, tanyanya renyah dan tulis. Setelah itu dia kembali serius menatapku, “Apakah Kamu mau mengajakku lagi besok?”

Kali ini aku mengerutkan alis, “Besok? Apakah Kamu tidak ikut bersama rombonganmu? Kemana tujuan wisata yang akan dikunjungi rombongan kalian besok?”

“Tidak. Aku bosan berada di antara orang-orang tua,” ujarnya mencebik. Aku tertawa melihat mimiknya yang lucu.

“Kemana tujuan besok?” tanyanya lagi.

“”Hmmm, kita lihat aja besok. Saat ini aku belum ada gambaran. Tapi tentu saja aku harus mengumpulkan literasi dan informasi tentang situs-situs bersejarah lebih dulu. Itu amunisi yang penting,” jawabku.

Aku mengisyaratkan Zack untuk segera naik ke boncenganku. Hari sudah sore,  aku harus bergegas sebelum Puji mencari anggotanya yang hilang.

Sampai di lokasi tempat kami bertemu tadi suasana sudah sepi. Sepertinya para rombongan sudah kembali  ke hotel. Sedangkan aku lupa menanyakan nomer telpon Puji. Aku bingung, kemana harus mencari rombongan itu, lalu bagaimana dengan laki-laki bule ini?  aku tidak mungkin membawanya pulang, kan?

Ananta Kama

. Situs Plandi, Sebuah Bukti Perkembangan Hindu . Jejak yang Tertinggal

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image