“Setiap manusia memiliki asa yang diraih dengan perjuangan tak mudah.”
Helga dan Liona menyambut kedatangan Hans dan Müller dengan penuh suka cita. Satu jam sebelum mereka datang, keduanya sudah menyiapkan berbagai macam hidangan untuk menyambut mereka. Helga yang piawai memasak telah memasak beberapa masakan khas Jerman, antara lain Sauerbraten, yaitu masakan khas Jerman berupa olahan daging panggang dengan bumbu asam saus manis, dan disajikan biasanya pada musim dingin. Ada juga Rouladen daging sapi, salad kentang, dan sup bayam.
Kehangatan itu kembali terasa seperti beberapa waktu lalu sebelum Hans dan Müller meninggalkan Frankfurt menuju Aachen untuk melanjutkan pendidikan mereka. Didikan keras Karl dan Helga membuahkan hasil. Putra mereka, Hans, memperoleh bea siswa di sana. Mereka sangat bangga dengan Hans yang memiliki otak brillian, berkemauan tinggi serta pekerja keras, seperti ayahnya.
“Aku dengar salah satu hasil rancanganmu masuk nominasi terbaik di pameran industri nasional. Apa betul begitu, Nak?” tanya Helga pada Hans. Dia melihat putranya kini tumbuh semakin dewasa dan berwibawa.
“Betul, Ibu. Aku sangat bahagia karena itu. Tetapi … ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada Ayah dan Ibu.”
“Terkait apa, Hans?” Karl menghentikan kunyahannya, menatap ke arah putranya yang duduk tepat di samping kirinya.
Hans berkata,“Jika Ayah ijinkan. Aku ingin meminjam gudang lama kita yang tidak terpakai untuk uji coba selama liburan ini.”
“Maksudmu?”
“Aku ingin uji coba membuat heli mini terlebih dahulu. Sebagai pemanasan saja,” ucap Hans, penuh harap.
Karl berpikir sejenak. Demi cita-cita Hans, dia mengijinkan. “Baiklah. Kau boleh memakainya. Aku merasa bangga jika nanti bisa melihat hasil rancanganmu diakui negara dan dunia, Nak.”
“Tentu saja. Terima kasih, Ayah. Liburan kali ini aku akan mencoba membuat pesawat sederhana untuk kita saja. Müller pasti bersedia membantuku. Bukan begitu, Müller?” Hans menyenggol lengan Müller di samping kanannya.
Müller mengangguk. Dia satu-satunya sepupu yang sangat disayangi oleh Hans karena ringan tangan. Müller juga selalu mendukung di setiap aktivitasnya.
Liona yang sedari tadi terdiam, mengembangkan senyum tipisnya. Hans bertanya kepada adiknya, “Mengapa kau tersenyum sendiri, singa betina?” Begitulah dia selalu memanggil adiknya dengan sebutan itu.
“Temanku akan datang Kak!” seru Liona gembira. Dia memperhatikan telepon genggamnya, melihat beberapa pesan masuk.
“Siapa, Liona? Angela?” Ibunya menebak. Liona menggeleng pelan. Selama ini dia memang sangat dekat dengan Angela. Teman semasa sekolah menengah atasnya.
“Bukan, Ibu. Dia orang Indonesia,” terang Liona.
“Indonesia?” Mata Hans membulat. Entah mengapa dia sangat senang mendengar tentang nama Indonesia. Baginya, Indonesia adalah negara yang unik. Tetapi bukan itu, Hans sangat menyukai Indonesia karena tokoh idolanya adalah orang Indonesia.
“Iya, Kak. Temanku berasal dari Indonesia. Dia mendapatkan bea siswa di sini,” terang Liona kepada kakaknya.
“Wow, keren! Pasti dia seorang yang cerdas!” Hans memuji, “Kapan dia akan datang?” Rasanya tak sabar ingin segera mengenal teman adiknya.
“Nanti sore, Kak. Sekarang dia masih bekerja. Dia akan datang kemari bersamaku.”
“Dia juga bekerja?”
“Iya. Hanya setengah hari. Dia pekerja keras. Dia tipe wanita yang tidak suka berpangku tangan.”
“Oh, temanmu seorang wanita?” imbuh Müller.
“Iya, Müller.”
***
Sore itu, Liona datang bersama dua temannya. Salah satunya adalah seorang gadis cantik dan manis. Wajahnya khas Asia dengan warna kulit eksotik. Wajahnya memancarkan keramahan.
“Kusumaningrum, selamat datang di rumahku. Ini tempat tinggal keluargaku.” Liona mempersilakan Kusuma, gadis asal Indonesia itu duduk. Tidak berapa lama, datanglah Karl dan Helga menyambutnya.
“Selamat datang di rumah kami,” sapa Helga hangat. Begitu juga dengan sambutan Karl.
“Terima kasih, Tuan, Nyonya.” Kusuma sangat senang dengan sambutan hangat mereka. Rumah Liona sangat asri dengan pepohonan di sekeliling.
Keramahan Kusuma terpancar dari wajahnya. Gadis itu sangat fasih berbahasa Jerman. Tidak hanya bahasa Inggris. Mereka bercerita bersama. Helga menyuguhkan kudapan kecil untuk tamu-tamunya diselingi dengan acara minum teh di sore hari.
“Bahasa Jermanmu bagus sekali, Kusuma. Bahkan aksenmu lebih mirip kota kelahiranku, Munich,”terang Helga.
“Terima kasih, Nyonya.” Kusuma tersipu malu.
“Kau juga sangat sopan, Nak. Aku tahu dari beberapa temanku jika orang Indonesia sangat sopan dan menjunjung tinggi adat. Terlebih yang muda menghormati yang tua.”
“Itu benar, Nyonya. Bagi kami doa orang tua adalah jalan menuju kesuksesan.”
Karl dan Helga tertegun. Mereka sangat menyukai Kusumaningrum, terutama keramahannya. Cerita-cerita pun mengalir dengan penuh keakraban.
“Oh, iya. Di mana kakakmu, Liona? Mengapa dia tidak kelihatan?” Helga mencari-cari sosok Hans.
“Ada di gudang belakang bersama Müller, Ibu. Ibu tahu sendiri,kan, dia orangnya seperti itu.”
Helga mendesah. “Oh … baiklah.”
***
Hans dan Müller masih sibuk mengutak-atik beberapa bagian yang sekiranya akan mereka perbaiki lagi.
“Aku ingin uji cobaku kali ini berhasil Müller. Kau tahu, kan? Ini ajang bergengsi.”
Pemuda berlesung pipi itu terdiam. Dia menyunggingkan senyum pada Hans. Bangga dan salut dengan kegigihan, kerja keras, serta keinginannya yang tinggi. “Aku sangat yakin kau akan berhasil, Hans. Otak brilianmu bekerja sangat keras. Aku yakin kau akan mampu mewujudkannya, tidak lama lagi.”
“Terima kasih banyak, sepupuku.”
Hans kian semangat mendapatkan suntikan vitamin motivasi dari sepupunya. Rasa bangga karena pikirannya yang cerdas telah membuainya. Dia harus berhasil dan buktikan pada dunia bahwa hasil karyanya akan diakui. Hans optimis. Yakin.
Dia dan Müller sedang menyusun rencana.
Keesokan harinya, sekadar mengurai kejenuhan. Hans dan Müller berjalan-jalan di sekitar hutan Taunus. Tempat yang biasa dipakai liburan alam itu terkenal karena memiliki mata air panas bumi dan air mineralnya. Dikelilingi lembah sungai Rhine, Main, dan Lann, Taunus menawarkan banyak jalur pejalan kaki melalui hutan pinus lebat dan sepanjang perbukitan hijau. Sangat asri dan memesonakan mata.
“Sudah lama kita tidak pernah menikmati keindahan alam seperti ini, Müller.” Hans merebahkan tubuhnya di rerumputan. Matanya menatap ke arah langit biru. Meski saat itu udara sedang sangat dingin. Dia tidak begitu merasakannya dibandingkan dengan gelora dalam dadanya yang terus membara.
“Ya. Selama ini pikiran-pikiran kita dipenuhi oleh praktek-praktek yang terkadang menjenuhkan. Saatnya kita istirahatkan sejenak pikiran dan tubuh ini.” Müller ikut merebahkan dirinya. Dia memejamkan mata merasakan kesejukan hawa pegunungan.
Hans kurang setuju dengan pendapat Müller. Dia tidak pernah jenuh ataupun bosan dengan teori-teori dan juga praktek-praktek yang dilakukannya. Beberapa dosen justru selalu ia datangi untuk bertukar pikiran terkait cita-cita dan keinginannya tersebut. Bahkan bisa berjam-jam bersama mereka. Salah satunya adalah Professor Javier. Dosen pembimbing yang juga ahli teknologi terkenal di negara itu, sangat sabar membimbingnya.
Pikiran Hans melayang menembus angkasa biru. Dia sedang membayangkan hasil rancangannya terbang di atas pegunungan hutan Taunus. Dia sendiri sebagai pilotnya. Serta banyak orang yang melambaikan tangan padanya karena bangga. Hans berharap, kelak namanya akan menjadi kebanggaan negaranya.
Di tempat itu, dia menggambarkan beberapa detail rancangan impiannya. Alam sungguh sangat membantu membuka pikirannya kembali mencari ide-ide yang bisa dia tuangkan pada hasil rancangannya nanti. Dia harus berhasil. Tekadnya sudah sangat kuat. Keyakinan dalam diri serta rasa optimis itu membuatnya kian bersemangat.











