Home / Genre / Chicklit / 19. Drama dan Drama Lagi

19. Drama dan Drama Lagi

MERAJUT MASA SILAM
1
This entry is part 21 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Ghea tertawa kecil mengingat kejadian lima hari lalu. Ekspresi wajah suaminya ketika dia mengatakan tidak seorang pun ingin melihatnya tanpa busana sungguh tak ternilai. Ghea tidak akan pernah melupakannya.

Sejak saat itu, Arya Daringin melakukan apa-apa sendiri, dia bahkan jarang berbicara dengan Ghea, kecuali sesekali. Pagi-pagi sekali, Arya Daringin akan membangunkan Ghea dan mandi sebelum Ghea turun ke bawah.

Rumah itu hanya memiliki tiga kamar selain kamar mandi, dapur, dan toilet. Ruang tamu tempat Arya Daringin tidur, kamar tidur yang ada di lantai atas, dan ruang belajar yang Ghea temukan pagi ini.

Setiap pagi Ghea bangun, Arya Daringin keluar dari kamar mandi atau baru saja masuk. Dia tidak meminta bantuan Ghea dan Ghea juga tidak menawarkan bantuan. Sebaliknya, Ghea pergi ke dapur, membuatkan teh dan memasak makanan kami. Ada begitu banyak persediaan makanan di dapur. Ghea tidak punya masalah memasaknya karena dia bekerja di restoran.

Beberapa kali, Ghea memergoki suaminya menatapnya, seperti hendak mengatakan sesuatu, lalu hanya menggelengkan kepalanya seolah berubah pikiran. Di waktu yang lain, Ghea baru saja mandi air hangat dan mengoleskan salep. Dia mengenakan handuk yang diikat longgar di tubuhnya dan melihat sosok seseorang di balik pintu, tetapi dia menganggap itu hanya imajinasinya.

Insiden ciuman itu masih segar dalam ingatannya dan mereka tidak pernah membicarakannya lagi sejak saat itu, meskipun Ghea benar-benar ingin, atau menginginkannya lagi. Bagaimanapun, dia menyadari Arya Daringin berusaha menjauh darinya dan Ghea membiarkannya, sehingga suasana menjadi sangat membosankan dan saat itulah dia menemukan ruang belajar.

Ada begitu banyak buku berbahasa Jawa, Belanda dan Inggris. Salah satunya buku Hamlet karya Shakespeare favoritnya. Tak lama kemudian, Ghea benar-benar tenggelam dalam buku itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Ghea terkejut mendengar suara Arya Daringin. Dia menurunkan buku itu.

Tulang rusuk suaminya masih dibalut perban, jadi bagian tubuhnya yang lain telanjang kecuali celana panjang yang dikenakannya. Rambutnya terlihat awut-awutan tak keruan.

“Aku sedang membaca,” jawab Ghea sambil kembali ke buku.

“Ini kamar pribadi, Ghea, kamu tidak boleh ke sini!” kata Arya Daringin.

Ghea menghembuskan napas tanpa berdiri. Lalu dia kembali membaca tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Ghea, aku sedang berbicara denganmu!” kata Arya Daringin dengan meninggikan suaranya.

“Kalau begitu berhentilah bicara!” bentak Ghea. “Aku baik-baik saja selama kita tidak berbicara hampir lima hari. Mengapa kamu perlu bicara sekarang?”

Kedengarannya sangat bodoh dan keluar dengan sangat salah.

Arya Daringin menatap Ghea dengan ekspresi kaget dan bingung. Tepat ketika dia ingin berbicara, dia malah menutup mulutnya lalu berbalik dan pergi.

Ghea merasa tidak enak hati. Tapi suaminya suka bersikap jahat dan kasar kepadanya.

Mengapa sekarang dia berbicara padanya? Apakah dia berbicara karena merasa bosan seperti dirinya juga?

Aku seharusnya tidak perlu merasa bersalah untuk apa pun juga, tapi mengapa aku merasa bersalah? kata hati Ghea.

Ketika dia sedang berdebat dengan hati nuraninya sendiri, aku mendengar suara-suara dari luar.

Dia duduk tegak untuk memastikan telinganya tidak salah dengar. Ya, dia masih bisa mendengar Arya Daringin berbicara dengan beberapa orang.

Karena penasaran, dia berdiri dan keluar dari ruang belajar.

Senyum tesungging di bibirnya karena ternyata yang datang adalah Munah bersama seorang pria tua memakai caping. Pria itu memegang pinggang Munah dan mereka berdua tampak begitu manis ketika berbicara dengan Arya Daringin.

“Munah!” seru Ghea dan ketiga orang itu menatapnya, tapi hanya Munah yang tersenyum. Ghea kemudian memeluknya wanita itu.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Oh, apakah ini suamimu?”

Dia mengangguk sambil tersenyum.

“Ini Yusuf, suamiku. Kenalkan ini Ghea, dia wanita yang kuceritakan padamu.”

“Gusti Putri,” Yusuf melepas capingnya dan membungkuk rendah sambil memberi Ghea senyum hangat ketika Ghea menggenggam tangannya. Saat itulah Ghea mendengar batuk kecil di belakangnya. Dia benar-benar lupa Arya Daringin ada di sana.

“Kangmas, ini Munah. Munah inilah yang merawatmu, dan ini suaminya Yusuf. Ini … ehm, ini Arya Daringin.”

“Suaminya,” Munah cepat-cepat menimpali.

“Gusti Pangeran, hamba mengenali Anda begitu hamba melihat Gusti Pangeran,” kata Yusuf sambil membungkuk sedikit lebih tinggi.

“Tolong, panggil aku Daringin saja. Munah, aku berutang nyawa padamu. Begitu aku kembali ke keraton, aku akan memastikan kamu akan mendapatkan imbalan yang setimpal.”

Munah tersenyum.

“Gusti Pangeran, saya tidak pernah tahu kalau saya telah merawan Gusti Pangeran, Ini benar-benar suatu kehormatan yang besar. Lagipula, istri Anda yang cantiklah yang seharusnya mendapatkan kehormatan itu.”

“Apa yang kalian lakukan di sini, masih hujan, bukan?” Ghea segera mengganti topik pembicaraan setelah mereka semua duduk.

“Ya, tapi tidak terlalu deras lagi. Kami mendengar jembatan di perbatasan akan selesai diperbaiki dalam waktu lima hari lagi. Namun, aman untuk berjalan-jalan di sekitar pulau ini.”

“Tunggu, aku harus membuatkan teh untuk kalian juga,” kata Ghea..

“Jangan, Gusti Putri, tidak perlu repot-repot,” kata Yusuf sambil tersenyum.

“Jadi, bagaimana kondisi Gusti Pangeran sekarang?” tanya Munah ke Arya Daringin.

“Panggil aku Daringin saja. Sudah lebih baik, terima kasih banyak. Aku bisa melakukan banyak hal sendiri sekarang.”

“Itu menyenangkan. Berarti Gusti Pangeran bisa datang ke acara kami malam ini.”

Arya Daringin dan Ghea saling berpandang-pandangan.

“Acara?”

Yusuf mengangguk.

“Ya, Gusti mungkin belum tahu, tapi kami punya teman yang tinggal di seberang Pulau dan kami akan mengadakan acara kumpul-kumpul malam ini.”

“Di tengah hujan deras?” tanya Arya Daringin lagi.

“Tidak, tidak. Ini acara warga desa. Gusti Pangeran akan melihatnya begitu sampai di sana. Kami pikir, mungkin Gusti Pangeran bosan dengan hujan yang tak kunjung berhenti. Kami mengadakan acara pesta pasangan suami sitri yang biasanya berlangsung selama empat hari di pulau ini, pasti akan menyenangkan. Kami datang untuk mengundang Anda berdua, dan kami berjanji bahwa acara ini tidak hanya dihadiri oleh wanita dan pria sepuh,” Yusuf mengakhirinya dengan tawa.

Ghea memaksakan senyum sambil menunggu jawaban Arya Daringin.

“Dia bebas pergi dengan kalian, tapi kurasa aku akan tinggal di rumah dan beristirahat.”

Dalam hati Ghea kecewa.

Kenapa aku berharap dia mau pergi ke acara nanti malam? keluhnya dalam hati.

“Gusti Pangeran yakin ingin ditinggal sendiri?” tanya Munah.

Arya Daringin mengangguk.

“Ya, aku yakin.”

“Jadi kapan acaranya dan bagaimana aku bisa sampai di sana?” tanya Ghea.

“Oh, itu mudah. Sekitar pukul lima sore. Perahu sudah menunggu di tepi pantai. Pesta pasangan adalah tradisi yang dikenal di sini, terutama di saat-saat seperti ini dan jika ada pasangan pengunjung yang terdampar di pulau, kami berusaha membuat mereka senang sampai badai berlalu dan mereka bisa pergi,” jawab Munah.

“Wow! Itu sangat murah hati,”  kata Ghea.

“Kami datang untuk untuk menjenguk sekaligus mengundang Anda berdua,” katanya sambil berdiri bersama Yusuf.

Ghea melepas pasangan suami istri itu dan kemudian tinggallah dia dan suaminya.

Merajut Masa Silam

8. Memandikan Suami 0. Pesta Pasangan
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image