Beranda / Topik / Sains / Ketika Alam Semesta Bertabrakan

Ketika Alam Semesta Bertabrakan

Ketika Alam Semesta Bertabrakan
1

Dahulu kala, di zaman sebelum peradaban, sebelum umat manusia, sebelum dinosaurus, bahkan sebelum Big Bang, alam semesta kita … tidak ada. Tiada apa-apa, tidak ada apa-apa. Hampa. Menakutkan, tapi nyata.

Dahulu kala, alam semesta kita tidak ada, bahkan tidak secercah cahaya di mata Tuhan.

Nah, kamu mungkin bertanya-tanya, ngapain repot-repot membicarakan waktu yang tak dapat kita amati?

Kamu mungkin protes, “kerjaan sia-sia, nggak ilmiah.”

Kamu mungkin bilang yang mirip-mirip begitu.

Tebak. Kamu ada benarnya.

Karena bahkan bagi para ilmuwan terhebat di dunia, spekulasi apa pun tentang waktu sebelum waktu itu hanyalah tebakan belaka. Alam semesta kita, dan segala isinya—termasuk massa, energi, dan waktu—semuanya bermula pada momen Big Bang, dan kita tidak memiliki cara observasi untuk mempelajari apa pun tentang apa yang terjadi sebelumnya, atau bahkan apa yang menyebabkan, momen pertama itu,

Big Bang pertama itu, untuk dimulai dan berkembang menjadi kontinum ruang-waktu kita saat ini. Ketidakpastian besar ini mungkin merupakan salah satu aspek fisika yang paling menjengkelkan dan pertanyaan ujian pamungkas yang tak terjawab.

Tapi, kita ingin tahu. Kita penasaran.

Sebagai ilmuwan—sebagai manusia—kita ingin mengetahui semuanya. Bagaimana, di mana, mengapa, dan akhirnya menjawab pertanyaan paling mendasar tentang asal usul alam semesta kita.

Beberapa pemikir terhebat di dunia—matematikawan, fisikawan, filsuf, ulama—telah mencurahkan pikiran mereka pada pertanyaan ini, semuanya mencari jawaban yang konsisten dengan apa yang dapat kita amati dan juga menyisakan ruang untuk lebih banyak lagi pertanyaan. Para ilmuwan di antara mereka, yang membatasi eksperimen pemikiran mereka pada ranah sains dan logika, dipandu dalam pencarian mereka oleh satu prinsip sederhana: prinsip mediokritas.

Prinsip mediokritas menyatakan bahwa kita tidak hidup di waktu atau tempat khusus, bahwa kehidupan di Bumi hanya bergantung pada beberapa molekul dasar, dan bahwa molekul-molekul tersebut kemungkinan juga ada di bagian lain alam semesta. Oleh karena itu kita tidak istimewa. Namun, memegang keyakinan ini berarti bahwa teori apa pun yang kita kemukakan (untuk kekosongan, untuk Big Bang) harus menjelaskan bagaimana kita kemudian menjadi spesies berakal di alam semesta yang, dari semua penampilan luar, tampak disetel dengan tepat untuk kehidupan.

Namun, semakin kita belajar tentang alam semesta kita, semakin kita menyadari bahwa kehidupan sebenarnya bukanlah kesimpulan yang sudah pasti.

Pikirkan gravitasi sebentar.

Kita tidak tahu alasan mendasar apa pun yang membuat grativasi bekerja seperti itu. Gravitasi memang bekerja begitu saja. Tapi, kalau gravitasi sedikit lebih kuat, alam semesta akan runtuh menjadi lubang hitam dalam mega milenium pertama atau lebih.

Dan kalau gravitasi sedikit lebih lemah, bintang-bintang mungkin tidak terbentuk sama sekali. Sebaliknya, gravitasi, tanpa alasan yang diperlukan, tepat untuk menopang alam semesta dengan kehidupan.

Setelan halus ini cuma satu contoh dari sekian banyak setelan halus—dari faktor-faktor yang memengaruhi ikatan molekul hingga faktor-faktor yang memengaruhi listrik—yang menjaga alam semesta kita terus berjalan. Dan semakin kita mengamati alam semesta kita, semakin terasa seolah-olah seseorang telah mengubah tombol preferensi—pengaturan file universal—berulang kali hingga semuanya disetel dengan tepat untuk kehidupan.

Namun kemudian kita ingat satu prinsip panduan kita. Bahwa kita tidak istimewa. Bahwa kita tidak hidup di tempat yang istimewa. Bahwa kita … biasa-biasa saja.

Jadi bagaimana kita menyatukan dua gagasan yang saling bertentangan ini?

Sebenarnya, ada dua cara ilmiah untuk mengatasi fakta alam semesta yang disetel dengan baik dan prinsip bahwa alam semesta kita tidak istimewa.

Yang pertama adalah kita mengatakan bahwa mungkin ada, seharusnya ada, pasti ada semacam fisika dasar yang menentukan bahwa alam semesta harus terlihat seperti alam semesta kita. Alam semesta memang seperti itu, dan begitulah adanya. Konsep ini menjelaskan setelan halus dengan mengatakan bahwa keadaan apa adanya adalah satu-satunya pilihan. Ini adalah jawaban yang lugas, dan yang, untungnya bagi kita, menghasilkan satu alam semesta dengan satu rangkaian fisika. Tentu saja, hal itu tidak membantu kita memahami asal usul kita, tetapi tentu saja membuat masa kini menjadi tempat yang cukup menyenangkan.

Lalu ada alternatifnya, di mana kita menduga bahwa, alih-alih satu alam semesta, mungkin ada alam semesta tak terhingga jumlahnya di luar sana. Masing-masing muncul dari semacam busa kuantum, terbentuk dengan fisika, rangkaian fungsi, dan nilai preferensi akhir sendiri yang mungkin mendukung atau tidak mendukung kehidupan. Dalam skenario multi-semesta ini, alam semesta kita tidak terlalu istimewa, hanya hasil dari lemparan dadu berulang-ulang dan sesekali berakhir dengan nilai sempurna.

Ada sesuatu yang mengagumkan sekaligus mengerikan tentang gagasan ini.

Konsep multi-semesta memberikan jawaban potensial untuk pertanyaan tentang asal-usul dengan menjadikan kita sekadar fluktuasi lain dalam deret tak terhingga. Dan meskipun tak terhingga terasa tidak nyaman, setidaknya, merupakan sebuah jawaban. Namun di saat yang sama, konsep ini juga membuka gagasan tentang tempat lain, zaman lain, alam semesta lain yang dipenuhi orang-orang yang menjalani kehidupan lain. Konsep multi-semesta memungkinkan segalanya karena dalam rentang waktu tak terhingga, segalanya mungkin terjadi.

Segalanya.

Termasuk tabrakan alam semesta.

Kalau pernah lihat anak kecil meniup gelembung sabun, kamu pasti tahu bahwa sebagian besar gelembung-gelembung itu pecah. Namun, sesekali, mereka bergabung. Dan kalau alam semesta kita hanyalah salah satu dari sekian banyak alam semesta yang mengambang bebas, bagaikan gelembung sabun, ada kemungkinan, meskipun kecil, tetapi tetap ada, bahwa alam semesta kita dan alam semesta lainnya dapat bertabrakan satu sama lain, menyatu seperti dua gelembung sabun warna-warni yang bertemu tertiup angin.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi sebagai akibatnya. Kita mungkin akan lenyap begitu saja—Puf! Hilang!—seluruh alam semesta kita lenyap dalam sekejap. Atau mungkin hukum fisika yang kita kenal akan terurai, berubah untuk mengambil karakteristik dari alam semesta yang baru.

Kalau ini terjadi, kita juga kemungkinan besar akan lenyap. Bagaimana kehidupan bisa bertahan kalau hukum yang menjaga planet kita tetap utuh dan bintang kita tetap menyala tiba-tiba berubah?

Patut diragukan kita dapat bertahan dari dampak perubahan ini terhadap DNA kita. Untungnya, kita mungkin bahkan tidak punya waktu untuk menyadari bahwa kita akan punah. Menurut hukum alam semesta kita, tak ada yang dapat bergerak lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Dengan asumsi alam semesta yang menyatu mempertahankan satu aturan itu (atau menggantinya dengan kecepatan cahaya yang lebih tinggi atau perjalanan sesaat), maka perubahan akan melanda alam semesta kita secepat cahaya. Namun, kita tak akan pernah melihatnya datang, karena seperti bayangan bintang-bintang yang terkoyak mencapai mata kita, hukum fisika baru akan menimpa kita, dan kita pun akan terkoyak.

Kecuali, tentu saja, alam semesta yang menyatu membawa serta kecepatan cahaya yang lebih lambat atau fisika aneh lainnya yang bergerak perlahan.

Dalam hal ini, kita mungkin mengalami “Kisah Tak Berujung” kita sendiri saat kita menyaksikan bintang-bintang meredup dan Ketiadaan Agung melahap semua yang kita ketahui, memberi jalan bagi sesuatu yang baru untuk terbentuk dan menggantikannya. Atau kita mungkin menyaksikan, ketakutan, saat segala sesuatu di sekitar kita bertransformasi, termasuk diri kita sendiri, jika perambatannya cukup lambat, dan mungkin sangat menderita saat fisika yang mengatur tubuh kita berubah, tanpa ada yang dapat memimpikan kita kembali.

Kita tidak tahu berapa banyak alam semesta yang muncul dan lenyap (atau gagal muncul dan lenyap) sebelum alam semesta kita. Kita tidak tahu berapa kali kehidupan telah (atau belum) mengalami penggabungan dua alam semesta. Kita tidak tahu banyak hal.

Aku sebenarnya tidak tahu apakah alam semesta kita akan bertahan cukup lama hingga kamu membaca kata-kata yang saya tulis ini. Namun, terlepas dari semua yang tidak kita ketahui, aku merasa yakin untuk mengatakan bahwa, meskipun segala sesuatu mungkin terjadi, pada kenyataannya, sangat kecil kemungkinan umat manusia kita yang rapuh saat ini akan pernah menyaksikan penggabungan alam semesta kita dengan alam semesta lain.

Lagipula, hal-hal menarik selalu terjadi pada orang lain.


Jawa Barat, 2 Desember 2025

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *