Home / Genre / Young Adult / 20. Cokelat Tabur

20. Cokelat Tabur

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
1
This entry is part 21 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

“Jadi, tentang cowok itu,” ucap Adam, mendesak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. “Untuk apa kau membutuhkan saranku?”

“Oke, jangan tawa. Karena maksudku ya, kami bermesraan dan sebagainya, tapi kita tetap berteman,” jawab Irfani.

Adam mengangguk dan irfani tampak sedikit lebih rileks.

“Jadi aku pengen tahu, apakah menurutmu seorang cowok akan cukup menyukaiku untuk menjadi pacarku? Seperti, apakah aku pantas punya pacar?”

“Tentu saja kamu pantas, kalau itu yang benar-benar kamu mau,” kata Adam.

Irfany menggigit bibirnya lagi dan tenggelam hingga hanya kepalanya yang berada di atas air.

“Kurasa aku merasa seperti cewek murahan yang tidak akan pernah disukai pria mana pun. Aku tahu itu bodoh, tetapi aku menyukainya. Aku ingin mengatakan itu padanya, tetapi aku tidak yakin apakah aku pantas menjadi pacarnya.”

Aku berjalan menyeberangi dasar kolam dan menggenggam kedua tangannya, memastikan untuk menatap matanya. “Kamu bukan cewek murahan. Kamu tidak boleh berpikir seperti itu tentang dirimu sendiri.”

Irfani mengerutkan kening dan menatap ke bawah ke air. “Apa yang salah denganku, Adam? Pacaran cuma untuk  orang bodoh! Ugh.”

Adam tersenyum dan melepaskan tangannya supaya dia bisa menyiram muka Irfani. Cewek itu meringis dan balas menciprat Adam.

“Kalau kau menyukainya, bilang langsung. Dan kalau dia tidak menyukaimu, berarti dia brengsek, oke? Kau hebat dan aku senang kita berteman.”

“Terima kasih.”

Kerutan di dahi Irfani berubah menjadi seperti senyuman. “Aku mungkin tidak sekeren gadis-gadis seperti Vindy Natasya, tapi aku jago cipok, kan?”

Adam mengangguk dan mengedipkan mata padanya, “Betul betul betul betul.”

“Bagus,” kata Irfani sambil memerciki Adam dengan air lagi. “Kau mengajariku semua yang aku tahu, jadi aku harusnya bisa bersikap baik.”

“Psh, tentu saja,” kata Adam. Lalu dia meraih kepala Irfani dan mencelupkannya ke dalam air, seperti yang biasa mereka lakukan waktu masih kecil. Dia berteriak dan mencoba membalas, tapi Adam terlalu kuat.

Suara langkah kaki di teras mengejutkanAdam dan dia mendongak, mengira melihat Ayah. Ternyata bukan.

Cinta menatapnya sekilas sebelum dia berjalan ke pintu belakang dan masuk ke dalam.

***

Cinta merasa seharusnya senang karena dia tidak terganggu melihat Adam bermain-main dengan seorang cewek di kolam renangnya. Bukannya dia suka Adam menyukainya. Itu cuma karena satu kebaikan dari Adam dan kemudian dia merusaknya dengan bersikap merendahkan.

Rumah keluarga Satria harum seperti kain bersih ketika dia melangkah masuk. Cinta bersyukur bisa membangun dinding bata kokoh di antara dia dan Adam.

Setiap kamar tampaknya memiliki salah satu alat aroma terapi yang menyala dan dari sanalah aroma bersih itu berasal. Ada sesuatu yang sangat menyenangkan saat memasuki rumah yang tidak hanya bersih dan rapi, tetapi juga berbau harum.

Hotel melatiberbau seperti kain lembap dan karpet berjamur. Rusunawa berbau seperti nikotin dan lemak makanan fast food. Rumah keluarga Satria berbau seperti kesempurnaan.

Cinta menolak menyebutnya rumah Adam.

“Hai,” kata Kinan sambil tersenyum ramah. Noni baru saja berbicara dengannya di telepon dan Cinta diminta masuk lewat pintu belakang dan itulah yang dia lakukan.

Kinan mengenakan celana yoga ketat dengan tulisan PINK di salah satu kakinya. Tank top-nya berwarna merah muda neon dan dia tampak seperti mahasiswa dan bukan ibu dari seorang cowok remaja.

“Oke, jadi Noni butuh dekorasi tabur?” tanya Kinan, bergabung dengan Cinta di dekat meja dapur.

“Ya. Dia cuma punya satu stoples dan sudah kedaluwarsa dua tahun lalu.”

“Ih,” kata Kinan sambil mengernyitkan hidungnya. “Ada apa dengan perempuan itu?” Dia menggelengkan kepala dan berbalik ke arah lemari, kuncir kudanya bergoyang saat dia berjalan. “Mari kita lihat apa yang kita punya di sini.”

“Aku suka lihat tank top Tante.”

Pernyataan acak itu mengejutkan Cinta dan dialah yang mengatakannya.

Kinan memberi Cinta senyuman penuh pengertian.

“Itu karena kilauannya, kan? Aku suka. Aku punya tiga warna.”

Pasti menyenangkan menyukai sesuatu dan bisa membeli tiga di antaranya.

Tentu saja Cinta tidak mengatakan itu. Dia hanya tersenyum sopan dan berharap momen ini segera berakhir. Sudah seminggu Cinta menghindari Adam dan sekarang dia ada di luar pintu.

Bagaimana kalau dia memutuskan masuk dan mengenalkanku pada teman kencannya? Ugh.

“Jadi…,” kata Cinta. “Cokelat taburnya?”

Kinan kembali ke lemari dan mulai mengeluarkan stoples dan botol. “Ini dia,” katanya, sambil menggeser empat wadah taburan melintasi meja ke arahku.

“Wah, Tante ternyata penggemar cokelat tabur.”

“Ya, aku agak terobsesi. Kamu sudah mencoba yang perak ini? Kelihatannya seperti logam asli tetapi bisa dimakan. Aku suka banget. Ini, ambil juga.”

Cinta mengambil stoples taburan yang terlihat seperti peluru perak. Kinan mengeluarkan taburan berbentuk bintang, titik-titik kecil, benda-benda yang tampak seperti glitter, hitam dan putih, merah muda dan ungu.

Apapun yang dijual di toko, Cinta cukup yakin Kinan pasti punya.

“Biar aku ambilkan kantong untuk ini,” kata Kinan, membuka pintu lain dan mengeluarkan kantong belanjaan. “Oh, dan panggil aku Kinan. Jangan panggil Tante sebelum umurku empat puluh. Dan mungkin juga lebih dari itu. Aku tidak ingin menjadi tua.”

“Jangan khawatir, kamu tidak terlihat tua.”

Sudut matanya berkerut.

“Terima kasih, sayang. Teruslah memuji. Bahkan, suruh semua teman Adam melakukan hal yang sama. Mereka selalu mengolok-olokku.”

Cinta tidak punya apa-apa untuk dikatakan karena dia tidak berencana untuk berbicara dengan Adam, seperti sebelumnya, selama sisa hidupnya. Jadi dia fokus untuk memasukkan taburan ke dalam kantong dan kemudian berterima kasih pada Kinan.

Perjalanan dari rumah mereka kembali ke rumah Noni terasa seperti sejuta tahun. Adam dan temannya masih berada di kolam renang karena suara air yang berkecipak, tetapi Cinta memastikan untuk tetap menatap ke depan dan tidak ke kolam renang.

Mata Noni berbinar saat aku menunjukkan taburan padanya. “Astaga. Kinan gila.”

“Tampaknya jumlah taburan itu sangat banyak untuk satu rumah tangga,” kata Cinta. Toples taburan perak menarik perhatiannya. Cukup keren.

Noni menata stoples-stoples di meja dapurnya, dari yang terkecil hingga yang terbesar. “Baiklah, jadi, mungkin kamu bertanya-tanya mengapa aku menyuruhmu untuk mengambil cokelat tabur.”

Cinta mengangkat bahu. “Kamu mau gula?”

Noni menunjuk Cinta. “Tentu saja. Kupikir kamu mau membuat cupcake bareng, kan?”

Cinta mengangguk dan mencoba untuk terlihat antusias. Noni telah melakukan hal-hal seperti ini sepanjang minggu. Awalnya Cinta berpikir Noni merasa kasihan padanya dan berusaha menghiburseolah-olah dia anak kecil, tapi sekarang Cinta pikir Noni benar-benar orang yang baik.

Percayalah Padaku Cinta

9. Irfani Putri 1. Tawaran Kerja di Lintasan

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image