Beranda / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Rasa Khawatir Kekurangan Versus ‘Providentia Dei’, Mana yang Menang?

Kehidupan Kristen: Rasa Khawatir Kekurangan Versus ‘Providentia Dei’, Mana yang Menang?

Kehidupan Kristen 20251203 (Fine Art America)
3

Tuhan menyediakan, Yehova Jireh, Providentia Dei. Sebagai Orang-orang Percaya kita sudah sangat sering mendengarkan ungkapan-ungkapan di atas. Akan tetapi jujur saja, tidak selalu mudah bagi kita untuk percaya jika semua ungkapan itu nyata terjadi dalam hidup. Misalnya, saat tiba-tiba dompet bocor gara-gara kebutuhan dadakan/bertubi-tubi (saat mendadak jatuh sakit atau masuk RS, wajib bayar uang pangkal sekolah paling lambat tanggal sekian, dan lain-lain). Saat kemalangan dan pencobaan datang menyerbu seperti yang dialami Ayub (malapetaka besar, penderitaan yang tak terbayangkan, tak terperi). Bahkan saat kita tidak melakukan kesalahan apapun, kemalangan menguras jiwa-raga came out of nowhere (lagi-lagi seperti Ayub). Masihkah kita mampu mengamini jika Tuhan akan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan? Inilah beberapa hal indah yang perlu kita sadari dan renungkan.

  1. Apa yang ada pada kita, sedikit ataupun banyak, bukanlah milik kita. Ke dalam tangan kita hanya dititipkan satu-dua talenta, bahkan upah/hasil pekerjaan kita juga bukan ‘milik’ kita. Ketika kita merasa semua milik kita, kita takkan pernah siap untuk kehilangan. Kita ingin menghamburkan sebanyak-banyaknya karena merasa ‘ah, saldo masih banyak! Masih cukuplah! Udah kuperhitungkan sekian-sekian, aman!’ apalagi saat ada harbolnas. Akibatnya saat saldo kita terpakai, berat rasanya. Rasa khawatir mulai menggelayuti ibarat awan mendung. Cukup gak ya? Belanja udah COD, gak bisa cancel. Belum lagi sana-sini minta sumbangan Natal. Dompet tambah tipis, napas kembang-kempis. Akibatnya penyakit sensi dan baper kumat. Pelit mendadak menahan segala rasa dan isi saku hanya agar bisa tetap bernapas hingga akhir tahun.

    Mari mengingat lagi Mazmur 24:1 yang berbunyi: Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Semua sudah tersedia. Kita dipercayakan-Nya mengurus talenta hingga berkat yang ada pada kita, semua tetap milik-Nya yang sebaiknya dikelola dan digunakan dengan penuh tanggung jawab.
  2. Kantong (yang diizinkan-Nya) kosong bukan berarti Tuhan tidak peduli atau tidak sayang pada kita, melainkan agar kantong kita yang kosong itu kembali dapat ‘diisi’ oleh-Nya. Bukan pula berarti otomatis langsung dapat free refill tanpa berbuat/kontribusi apa-apa. Jadi, bagaimana cara Tuhan mengisinya kembali? Ingatlah pada kisah dalam Perjanjian Lama tentang Janda di Sarfat. Apa yang beliau miliki hanya sedikit tepung dan minyak, hanya bisa dibuat roti terakhir untuk dirinya dan anaknya. Setelah itu habis sudah, the end. Tunggu dulu, Nabi Elia lalu meminta satu roti saja untuknya, apakah masih cukup? Keajaiban terjadi saat Sang Janda tidak menolak, melakukan saja dulu permintaan Elia. Pesan moralnya adalah jangan kita pelit menahan berkat atau apa yang kita miliki. Tentu saja bukan asal berilah maka kamu akan diberi, melainkan dengan penuh iman bahwa apa yang tangan kita taburkan dengan kerelaan dan penuh sukacita akan kembali lagi ke dalam tangan kita.
  3. Seperti kisah Lima Roti dan Dua Ikan, yakinilah apa yang ada pada kita akan selalu cukup, dicukupkan, bahkan lebih dari cukup. Bukan berarti lantas bottomless alias gak abis-abis, bukan pula berarti harus jadi sinterklas dadakan bagi-bagi tebar rezeki, melainkan digunakan secukupnya. Jika ada yang memerlukan dan ada pada kita, berikanlah. Ada yang berutang namun belum dapat membayarkan, ikhlaskanlah. Apa yang dulu kita pernah miliki namun kita bagikan/berikan/pinjamkan atau bahkan hilang di tangan orang lain, relakanlah.

Penulis belajar dari pengalaman, di tahun 2006 kehilangan dana cetak buku yang cukup besar jumlahnya pada waktu itu akibat ulah seorang penerbit mandiri yang pernah dipercayai namun lari/pergi begitu saja dari tanggungjawab beliau. Akibatnya penulis harus menombok hingga uang itu lunas. Akan tetapi ajaib, sekian tahun kemudian, Tuhan perlahan menggantikan kehilangan dana itu lewat berkat-berkat lainnya; pekerjaan yang baik, tempat berkarya yang mencukupi, bahkan rekan-rekan murah hati dan selalu mendukung. Jangan khawatir pada kehilangan yang memang Tuhan ‘rencanakan’ atau biarkan terjadi dalam hidup kita. Ada plot twist indah di baliknya. Seperti kisah Ayub yang akhirnya happy ending mendapatkan kembali kelimpahannya berlipat kali ganda, hendaklah kita yakin Providentia Dei, Yehova Jireh sungguh nyata dalam hidup ini.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.

Tangerang, 2-3 Desember 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *