Indonesia, 8 Oktober 2023
Aku mendengar terjadinya perlawanan dari sekelompok tentara Palestina terhadap kekejaman zionis. Mereka menyerang secara tiba-tiba sebagai respon kezaliman zionis kepada warga Palestina tanpa henti, namun dunia tetap diam membisu, bahkan pura-pura tak melihat.
Aku pun dan beberapa relawan mengumpulkan data tentang peristiwa yang tengah terjadi.
“Ten… Tentara Palestina brader melancarkan 5000 rudal ke negara Israel hingga ke pemukiman. Gila!” Kata salah satu relawan kita, Azmi.
“Iya brader, aku melihat di salah satu portal berita online.” Kata Ridwan, salah satu relawan juga.
“Ini serangan terdahsyat yang dilancarkan oleh tentara Palestina di sepanjang sejarah.” Balas Azmi.
Aku hanya mampu tertegun mendengar berita itu. Teringat dua anak hebat, Muhammad Zayed Al-Fatteh, dan Hurriyat Az-Zawaid.
“Oh iya, bagaimana keadaan Zahratul Widad, ya. Apakah ia sudah ditemukan?” Aku bergumam dalam hati.
Aku pun teringat pada Ummu Fareeha, apakah beliau baik-baik saja? Terakhir bertemu dengannya, di saat beliau sedang bersedih mengingat putrinya yang hilang.
“Brader, kita berangkat ke Palestina lagi, yuk, dan ajak teman-teman relawan lainnya.” Tiba-tiba aku mengusulkan untuk ke Palestina lagi kepada Azmi dan Ridwan sebagai relawan.
***
Di tengah persiapan ke Palestina, ada keheningan dalam diri kita masing-masing. Tiba-tiba perasaan sedih menyelimuti hati kita. Entah sedih mengapa, yang jelas perasaan ini sangat terasa. Kami berkemas pun terselip perasaan khawatir. Namun, kami memutuskan untuk tetap berangkat. Keesokan harinya kami bertolak dari Jakarta menuju Palestina.
Palestina, 10 Oktober 2023
Sesampainya di Palestina, kami mengalami banyak hambatan yang luar biasa, karena kondisi tengah bertempur hebat. Hampir di seluruh penjuru tanah ini sudah dikepung oleh tentara zionis. Kami berlindung di salah satu rumah tepat di paling ujung perbatasan desa—kemungkinan luput dari penglihatan tentara zionis, sehingga masih terlihat aman. Pada saat kondisi genting, pertolongan Allah itu benar adanya. Kami bertemu dengan sekelompok tentara Palestina yang sedang melakukan pengamanan wilayah. Lalu, kami pun keluar dari rumah.
“Kami disini, relawan Indonesia.” Kataku kepada mereka.
“Indonesia! Masya Allah. Ayo amankan mereka.” Jawab salah seorang tentara Palestina tersebut.
“Perkenalkan, aku Abu Latif Jabarin. Komandan Pasukan 3 Jundullah. Mari kita cari tempat yang lebih aman.” Lanjutnya kepada kami.
Tanpa basa-basi, kami pun segera mengikuti instruksi beliau dengan menggunakan kendaraan operasi mereka. Di dalam mobil aku menanyakan dua anak yang kami temui 18 tahun yang lalu, yaitu Muhammad Zayed Al-Fatteh, dan Hurriyat Az-Zawaid kepada Abu Latif Jabarin.
“Nanti kita bicara di markas saja.” Begitulah jawaban Abu Latif Jabarin kepadaku.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami pun sampai di markas Jundullah. Kami berjalan menuju salah satu ruangan, dan disana sudah ada komandan tertinggi, Komandan Jaber Mehfooz. Lalu, kami pun berbincang-bincang di tengah dentuman roket yang menghujani kota.
Dengan tingkat kewaspadaan tinggi dari Pasukan Jundullah, perbincangan kami dengan komandan tertinggi, tetap berjalan. Tak ada yang lengah dari setiap anggota pasukan untuk mengamankan kota—terlihat mereka wara-wiri dan bersiaga.
Ridwan yang sebelumnya menjadi relawan bagian dapur umum, hanya bisa tertegun sambil melihat sekeliling. Ia merasa takjub dengan suasana di markas—dimana pada tahun 2001 hingga 2005 berjibaku dengan peralatan masak, dan warga sipil setempat. Aku dan Azmi tahu ekspresi wajahnya, dan bahasa tubuhnya. Seolah tak percaya, ada pasukan militer secanggih ini dari tiap-tiap individunya. Namun, kami membiarkan gelagat Ridwan.
“Kami akan memperkenalkan kepada kalian, Wakil Komandan Tertinggi Jundullah. Latif, panggilkan ia.” Kata Komandan Jaber Mehfooz.
“Baik, Komandan.” Jawab Komandan 3, Latif.
Setelah 10 menit, Komandan 3, Latif, kembali dengan membawa Wakil Komandan Tertinggi Jundullah yang datang dengan memakai penutup wajah.
“Wakilku, siapa yang datang?” Kata Komandan Jaber.
Lalu, Wakil Komandan membuka penutup wajahnya sambil berkata.
“Yudha, Azmi.” Ia merasa senang dengan mata yang berkaca-kaca.
“Hurriyat Az-Zawaid, apakah itu kamu?” Aku membalas, sambil bertanya tak percaya.
“Iya. Ini aku Hurriyat seorang anak kecil yang bersama kalian sejak 23 tahun lalu.” Jawabnya.
Lalu, kami memeluknya penuh haru.
“Kemana Halil dan Joseph?” Tanyanya.
“Mereka akan datang, dan kini mereka sedang menggalang donasi di Jakarta untuk dikirim kesini.” Jawabku.
“Perkenalkan, ini Ridwan. Pada saat itu ia berada di dapur umum bersama warga dan anak-anak.” Sambung Azmi.
Selepas itu, Hurriyat Az-Zawaid menyuruh kami untuk menunggu. Ia akan membawakan seseorang kepada kami.
“Brader, ia akan membawa Muhammad Zayed Al-Fatteh kemari. Aku penasaran bagaimana kondisinya ia saat ini.” Kataku kepada Azmi.
“Tentu brader, dan tentunya ia sudah menjadi tentara yang tangguh. Lihat saja Hurriyat, seorang anak yang polos pada saat itu, sekarang sudah menjadi singa.” Jawab Azmi.
Komandan Jaber Mehfooz dan Komandan 3 Latif hanya tersenyum mendengar percakapan kita.
Tak lama, Hurriyat Az-Zawaid kembali. Namun, kami terkejut, karena ia membawa seorang wanita, bukan Muhammad Zayed Al-Fatteh.
“Yudha, Azmi. Berkat bantuanmu dengan melapor kepada kedutaan besar Indonesia saat itu, akhirnya kami dapat berkumpul kembali.” Kata Hurriyat.
“Inilah, adikku, Zahratul Widad, yang berhasil ditemukan oleh Pasukan Khusus Indonesia di Yaman. Adikku tengah bersama Pasukan Tentara Houthi.” Sambungnya kepada kami.
Lantas, kami merasa sangat bersyukur, akhirnya Hurriyat dan adiknya bersatu kembali. Namun, ia menceritakan, bahwa saat adiknya ditemukan, ibunya meninggal terlebih dahulu. Sehingga, Zahratul Widad saat kembali, ia pergi ke makam ibundanya untuk berziarah.
“Al-Fatihah, untuk Ummu Fareeha.” Dalam hati kami berdoa.
Tak lama, kami diajak ke ruang bawah tanah markas. Tempat persembunyian, sekaligus tempat untuk membuat strategi melawan penjajah zionis. Namun kali ini kami bersama Hurriyat tidak untuk berstrategi, melainkan untuk bercerita.
***
Di markas bawah tanah, Hurriyat menceritakan bagaimana adiknya, Zahratul Widad ditempa mental dan diberi pelatihan oleh Pasukan Tentara Houthi. Mereka menemukan adiknya di tengah puing-puing reruntuhan bangunan dalam keadaan lusuh, namun selamat. Itu adalah rumahnya yang hancur. Pada saat kami ke rumahnya yang masih utuh, ternyata itu adalah rumah pamannya yang masih selamat dari serangan roket. Hingga setelah kami pulang ke Indonesia, Hurriyat Az-Zawaid, ibundanya, Ummu Fareeha, dan pamannya, Abdul Basit sedang melakukan pemulihan, membangun kembali rumah dari sisa-sisa reruntuhan.
Setelah itu, datanglah Tentara Khusus Indonesia membawa Zahratul Widad. Dengan peralatan canggih, Tentara Khusus Indonesia dapat menemukan kami. Mereka berkata “Kami membawakan pesanan dari relawan Indonesia yang pernah bertemu dengan Ummu Fareeha.” Lalu, mereka memberitahu relawan itu adalah kalian—yang ternyata sudah menyimpan alat GPS yang sudah terenkripsi oleh aplikasi maps Tentara Khusus Indonesia. Sehingga, pada masa tenang, mereka dengan mudah dapat menemukan kami. Dengan izin Allah—setelah ibuku tiada, aku dan pamanku tidak kemana-mana sampai datang mereka bersama adikku, Zahratul Widad.
Mereka datang dan berkata, “Apakah ini kediaman Ummu Fareeha? Kami hendak bertemu dengannya.”
Lalu aku menjawab, “Aku, Hurriyat, putra Ummu Fareeha.”
“Dimanakah Ummu Fareeha, Nak?” Tanya salah satu Tentara Khusus Indonesia.
“Ibuku telah tiada.” Jawabku.
“Turut berduka cita. Kami membawakan pesanan dari relawan Indonesia.” Lalu, turunlah adikku dari mobil rantis.
“Pada saat turun, aku menangis haru melihat adikku selamat, dan tanpa kurang apapun.” Hurriyat menuturkan kisahnya dengan penuh melankolis.
Ia pun menceritakan bagaimana adiknya, Zahratul Widad saat masih kecil. Yaitu seorang gadis kecil yang lugu, dan polos. Namun kini, adiknya adalah sosok yang berbeda. Ia tumbuh menjadi gadis pemberani dan tegas, berbanding terbalik jika dibandingkan dengan dirinya pada saat kecil dulu. Tapi, ada satu yang membuat aku penasaran, dan bertanya kepada Hurriyat Az-Zawaid.
“Saudaraku, bagaimana Tentara Khusus Indonesia dapat menemukan adikmu? Lalu bagaimana mereka dapat bertemu dengan Pasukan Tentara Houthi?”
“Ada seseorang yang datang ke kedutaan besar Yaman, Mesir, Suriah, dan Iran di Indonesia. Beliau terlihat bersahaja berasal dari komunitas kalian. Dengan tutur kata yang menenangkan, beliau meminta untuk mengerahkan pasukan di negara masing-masing yang beliau kunjungi.” Tutur Hurriyat Az-Zawaid.
“Para kedutaan tersebut, dengan sigap memberi komando kepada negara mereka masing-masing untuk mencari seorang gadis yang bernama Zahratul Widad. Koneksi tersambung selama beberapa hari, hingga pada akhirnya, adikku ditemukan di Yaman bersama Tentara Houthi.” Lanjut Hurriyat Az-Zawaid.
“Siapakah beliau itu, saudaraku? Barangkali kalian mengenalinya.” Tanya Hurriyat.
Mendengar cerita darinya, kami sudah menduga bahwasanya yang menolong adiknya adalah guru kami.
“Ya, kami mengetahuinya, beliau adalah Ustaz Anwar Azhari, pendiri komunitas kami.” Jawabku.
“Terima kasih, kalian sudah membantu kami tanpa lelah. Sungguh luar biasa Ustaz Anwar Azhari.” Kata Hurriyat Az-Zawaid kagum.
“Kami adalah saudara kalian, banyak sekali negara kalian membantu dalam proses kemerdekaan negara kami. Maka, luka kalian adalah luka kami, perjuangan kalian adalah perjuangan kami.”
“Karena hari sudah malam, mari kita istirahat.” Ajak Hurriyat kepada kami.
Akan tetapi, istirahat kami bukanlah tidur, melainkan terjaga sepanjang waktu. Hening dalam posisi siaga. Ada senjata yang menjadi sahabat karib Para Pasukan Brigade Jundullah, sementara aku, Yudha, Azmi, dan Ridwan berada di markas bawah tanah mempersiapkan pertolongan pertama untuk berjaga-jaga, karena perang masih berlangsung.
Di tengah waktu istirahat tersebut, aku teringat pada Muhammad Zayed Al-Fatteh. Kemanakah ia? Hari ini belum sempat bertanya kepada Hurriyat Az-Zawaid karena terlupa oleh romantisme kisahnya yang begitu haru. Maka, esok hari akan aku tanyakan, semoga waktu masih memberi kita kesempatan untuk bertemu kembali.
Tangerang, 7 Desember 2025











