“Kuingin satu diriku lepas, berganti diriku yang lain.”
Kondisi Liona berangsur-angsur pulih. Seiring dengan berjalannya waktu, gadis itu sudah mulai bisa menerima kenyataan. Hampir setiap saat, Ning selalu mengunjunginya. Memberinya semangat serta mendorongnya untuk tetap berpikir positif. Lambat laun, Liona bangkit. Arthur, Dietrich, dan Müller yang kini tinggal bersama mereka, merasa lega dengan keadaan Liona. Meski begitu, Hans masih belum bisa menerima kenyataan.
Hans terkadang masih mengamuk. Melampiaskan kekecewaan atas kegagalannya hingga kematian tragis kedua orang tuanya. Paman dan bibinya sudah membawa ke rumah sakit jiwa dan berkonsultasi terus dengan psikiater untuk memeriksakan kembali kondisi kejiwaannya.
“Hans mengalami depresi berat.Tapi bisa disembuhkan. Yang dibutuhkannya adalah dukungan, kasih sayang, dan tunjukkanlah perhatian kepadanya. Dia perlu waktu untuk mengembalikan dirinya yang mungkin sedang hilang. Percayalah, Hans akan membaik nanti,” terang Dokter Helmut. Dokter spesialis masalah kejiwaan yang menangani Hans semenjak tragedi itu.
“Saya akan memberikan obat anti depresan lagi. Selain itu, Hans juga harus ada terapi wicara. Ingat! Kalian harus mengawasi setiap gerak-geriknya. Jika terlihat ada hal yang mencurigakan pada diri Hans, segera datangi. Di beberapa kasus masih terjadi orang yang depresi pelarian mereka akan menuju bunuh diri,” tambahnya.
Arthur dan Dietrich memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Mereka sangat menyayangi Hans dan Liona seperti halnya menyayangi anak mereka sendiri.
“Baik, Dokter. Kami akan berikan yang terbaik untuk Hans dan Liona. Terima kasih banyak atas penjelasannya. Kami mohon diri dulu,” kata Arthur.
“Silakan.” Dokter Helmut tersenyum.
***
Liona tengah berada dalam kamarnya ketika Hans masuk. Tatapan mata hazel kakaknya terlihat sendu. Dia menghampiri adiknya yang tengah membaca buku. Liona melihatnya dan menyuruhnya duduk.
“Duduklah, Kak.” Sambut Liona dengan lembut.
Hans memeluknya. Dia merasa ada kesedihan dalam hatinya.
“Liona ….” Suara Hans bergetar. Air matanya kembali mengalir. Kenangan memilukan itu masih diingatnya dengan jelas.
“Ada apa, Kak?” Liona melihat mata Hans berair. Dia sangat iba melihat kakaknya. “Sudahlah, Kak. Aku bisa mengerti perasaanmu.”
“Aku … aku egois, Liona. Aku egois …!” Hans kembali berteriak histeris. Liona memeluk kakaknya erat. Pada saat yang bersamaan, Dietrich datang. Dia melihat Liona tengah memeluk Hans. Arthur dan Müller pun datang. Mereka menenangkan Hans.
“Hans, kami semua menyayangimu. Kami selalu ada untukmu, Hans. Bangkitlah! Kau kuat, Hans! Kau luar biasa!”
Rupanya, sanjungan dari Arthur tidak berarti apa-apa bagi Hans. Dia merasa jengah. Tanpa berkata, Hans kembali ke kamarnya. Dibantingnya pintu kamar dengan keras hingga menimbulkan suara debum.
Mendengar itu, Arthur menyuruh putranya untuk mengawasi Hans.“Müller, awasi dia! Jangan sampai Hans berbuat kerusakan dan nekat!” perintah Arthur pada putranya, “Kondisi kejiwaannya belum stabil.”
“Baik, Ayah.” Müller segera melangkah menuju kamar Hans. Meski dia kecewa, pintunya dikunci dari luar. Dia tidak tahu, Hans sedang minum obat penenang dan menangis di dalam sana. Müller sebenarnya iba melihatnya. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sore itu, Ning mendatangi kediaman Liona selepas kerja. Dia membawakan makanan Indonesia yang disukai Liona, yaitu gado-gado.
“Apa kabarmu, Liona?” Gadis itu memeluk Liona dengan penuh kasih sayang. Seperti seorang kakak yang sangat merindukan adiknya yang telah lama tidak bertemu.
“Aku baik dan terus membaik, Ningrum,” jawabnya. Ning melihat rona muka Liona yang cantik masih tertutup kabut duka. Tetapi ketegaran gadis itu terlihat nyata.
Keduanya duduk di ruang keluarga. Arthur dan Dietrich menyambutnya dengan gembira.
“Kami senang kau datang, Ningrum. Liona memang sedang suntuk. Beberapa hari ini dia membantu kami bekerja,” ucap Arthur.
“Iya, Ningrum. Kami mulai menata kembali apa saja yang menjadi peninggalan saudara kami,” lanjut Dietrich, adik kandung Karl.
“Ningrum, aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” ucapnya lirih pada Ningrum.
“Ke mana, Liona?” Diraihnya tangan Liona. Lemah.
“Sekitar sini saja. Aku ingin mengajakmu melihat pemandangan gunung Taunus.”
“Baiklah. Tapi kau harus makan dulu.”
Liona mengangguk. Dia menuruti nasehat Ningrum. Setelah itu mereka melangkah keluar dan berjalan di sekitar area pertanian milik mendiang Karl. Di sana, ada jalan kecil menuju perbukitan hijau. Liona dan Kusuma menikmati sore mereka dengan mencari udara segar.
Senja menyapa. Liona dan Ning masuk ke dalam rumah lewat pintu samping melewati kamar Hans. Liona yang sudah lama tidak menengok kakaknya kini memberanikan diri untuk melihatnya.
“Kak Hans ….!” pekik Liona. Dia berlari melihat Hans yang terkulai dan jatuh di lantai kamar. Ningrum yang terkejut berlari mengikutinya dari belakang. Liona melihat beberapa butir obat penenang ditenggak Hans. Beberapa juga masih berada dalam genggamannya.
Liona menangis dan mencari Arthur serta Dietrich. Dia berteriak. “Paman …! Bibi …!” serunya dengan derai air mata.
Suami istri itu segera berlari ke arah Liona
“Ada apa, Liona?” tanya Arthur dengan cemas.
“Kak Hans ….” Liona tidak melanjutkan kata-katanya. Dia berlari menuju kamar Hans diikuti keduanya. Mereka terkejut melihat Hans terkapar di lantai.
“Dietrich. Kita harus membawanya ke rumah sakit segera! Panggilkan Müller, Liona!”
Liona berlari mencari Müller. Dibantu putranya, Arthur membawa tubuh Hans dan memasukkan ke dalam mobil. Dia segera melaju membawa Hans menuju rumah sakit. Hans segera mendapat perawatan intensif. Tidak henti-hentinya Liona menangis melihat kakaknya. Ningrum terus berusaha menghibur dan menenangkan gadis itu.
“Aku tidak mau kehilangan kakakku. Aku sangat menyayanginya. Bagaimanapun keadaannya saat ini. Hanya dia yang kumiliki sekarang, Ningrum.”
Ningrum ikut menitikkan air mata, merasakan kesedihan dari gadis malang itu. Dia merasakan bagaimana tidak memiliki orang tua. Seperti dirinya.
“Liona, aku akan selalu ada untukmu. Ich werde dich nicht verlassen, Schatze,”[1] ucap Ningrum penuh kasih sayang.
“Danke viele, meine schwester.”[2]
“Kita berdoa saja semoga Hans baik-baik saja.”
Liona mengangguk. Terasa nyaman dalam dekapan kasih sayang seorang Ningrum. Ningrum menyeka air matanya. Arthur dan Dietrich terharu dengan kebaikan dan kasih sayang gadis asal Indonesia itu. Mereka memang tidak memiliki pertalian darah, tetapi ikatan jiwa dan hati mereka sangat kuat.
Beberapa hari kemudian, Hans sudah diperbolehkan pulang. Atas ijin Arthur dan Dietrich, sementara waktu Ningrum tinggal bersama mereka. Semua itu atas permintaan Liona. Kedekatan Liona dengan Ningrum membuat mereka tak terpisahkan. Apalagi dengan keadaan seperti ini. Liona dan Hans butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Siang itu, Liona mendatangi Hans di kamarnya. Dia melihat kakaknya sudah sedikit berubah. Dia ingin berbicara dengannya, hanya empat mata. Mengembalikan kembali senyum dan keceriaan di wajah Hans. Tidak ingin kakaknya larut dengan kisah tragis yang sewaktu-waktu menghantui.
“Kak …,” sapanya lembut. Hans menoleh, dia tersenyum, melambaikan tangannya ke arah Liona.
“Kemarilah. Aku sudah lebih baik sekarang.” Liona ragu, masih agak takut mengingat kejadian tempo hari. Dia memantapkan hati mendekatkan dirinya pada Hans.
“Kemarilah! Mendekatlah!”
Liona kian mendekat ke arah Hans, berharap tidak akan terjadi hal buruk.
[1] “Aku takkan meninggalkanmu, Sayang.” (Bahasa. Jerman)
[2] “Terima kasih, saudariku.” ( Bahasa. Jerman)








