Hanya berjarak sekitar 6 km dari Candi Selogriya, terdapat sebuah candi yang berlokasi di Desa Ngabaran, Kecamatan Windusari, Letaknya berada di atas bukit. Aku melajukan mobil menuju Candi yang merupakan peninggalan umat Hindu tersebut. Hanya sekitar 18 menit ditempuh dengan kendaraan roda empat, hingga kamu sampai di candi yang hampir tak terjamah manusia.
Banyak yang belum tahu, bahwa Kecamatan Windusari memiliki candi lain selain Candi Selogriyo yang berada di ketinggian 876 mdpl. Diapit 3 Perbukitan Windusari, berada dipuncak bukit antara Bukit Giyanti, Bukit Kendeng, serta Bukit Malang. Mobil hanya bisa berhenti di area lapang yang disediakan.
Selanjutnya kami harus berjalan kaki menempuh perjalanan sejauh 700 m. Karena letaknya berada di puncak bukit, medannya lumayan sulit, jalan paving berlumut, tapi jangan ditanya sensasInya, rasa lelah seakan terbayar saat melihat keindahan alam sekitar yang indah, berada di tengah hutan yang jika memandang ke bawah, hamparan sawah terasering seperti tumpukan kue … unik sekaligus eksotik.
Candi Batur merupakan candi yang tidak lengkap dengan hanya menyisakan bagian batur atau pondasi saja. Pada sisi kiri dan sisi kanan Candi Batur terdapat anak tangga dengan bagian tepi bergambar makhluk mitologi yang disebut makara. Makara ini memiliki bentuk menyerupai buaya dengan sirip ikan dan belalai gajah. Itu sebabnya peninggalan umat hindu di Magelang ini kerap dikatakan sebagai Naga Air atau Makhluk Air sebagai kendaraan Dewa Baruna maupun Dewi Gangga.
Pada dinding candi terdapat Ornamen yang mengisahkan kehidupan di Gunung Mahameru dan segala macam tanaman yang tumbuh di dalamnya. Gambar makara juga ditemukan pada ornamen Candi Batur
Menurut penuturan masyarakat sekitar, sejarah Candi Batur bermula dari pembangunannya yang tidak kunjung usai. Hal tersebut diakibatkan masa pembangunan yang sudah memasuki waktu matahari terbit sehingga struktur bangunan candi tidak dapat rampung. Hingga kemudian dinamakan Candi Batur, yang diartikan “sisa candi” sebab saat ditemukan sudah dalam kondisi tidak utuh.
Namun, tidak ada catatan pasti, bisa juga didasari oleh faktor usia, atau bencana alam, sehingga mengakibatkan kerusakan sebagian besar struktur candi.
Setelah puas mengambil gambar dan mencatat hal-hal yang menarik menurut Zack, aku mengajak kedua bule beda usia itu turun.
“Capek juga ya naiknya, dan sekarang harus turun lagi. Tapi pemandangannya tadi luar biasa,” celoteh Ayesha
“Iya, absoluut geweldig. Tidak menyangka candi sekecil itu bisa punya aura sekuat itu. Tempatnya sepi, tapi justru terasa lebih hidup.” Zack menanggapi.
“Mee eens zijn, aku suka reliefnya … meskipun banyak yang aus, tetap kelihatan halus. Seperti menyimpan cerita yang belum terungkap.” Ayesha terlihat sangat antusias mengulas setiap bagian candi yang dipenuhi relief, menurutnya ini adalah pengalaman pertamanya.
“Aku suka tempatnya. Suasananya hening. Tapi malah bikin tenang,” lanjut Ayesha.
“Besok kita ke situs apa lagi? Kalau semua seunik ini, aku makin penasaran sama situs-situs kecil lain di Magelang,” tanya Zack
“Masih banyak situs dan candi di Magelang yang belum banyak dikunjungi orang. Bahkan lokasinya ada yang tidak ditemukan di peta google.”
“Serius?” Zack membelalak heran.
Aku mengangguk, “Bahkan literasi candi pun tidak ditemukan di google. Besok aku akan agendakan untuk mengeksplore lebih banyak lagi.”
“Sekarang kita mau kemana? Aku lapar.” Zack mengelus perutnya yang tampak seperti roti sobek
Aku melajukan kendaraan menuju sebuah tempat wisata unik yang berbau edukasi. Tempatnya tak jauh dari candi Batur, tapi aku yakin Ayesha yang masih berjiwa muda akan menyukainya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya kami tiba di Dusun Jurang, Kecamatan Bandongan. Wisata keluarga yang masih tergolong baru ini, sangat menarik karena menyajikan wisata keluarga berkuda, memanah dan pelatihan menunggang kuda.
Meski terbilang wisata baru, tapi wisata Mangkujo ini cukup ramai didatangi wisatawan lokal karena mempunyai daya tarik tersendiri dan merupakan satu-satunya Di Magelang
Aku mengajak Ayesha dan Zack turun. Mata Ayesha langsung membulat saat melihat lahan yang digunakan untuk putaran kuda seluas 50×25 meter di depannya.
“Bisakah menyewa kuda di sini?” tanyanya dengan pandangan takjub.
“Tentu saja bisa, di sini memang disediakan kuda besar dan kecil untuk disewa. Kamu bisa mengendalikan?” tanyaku.
Ayesha nyengir malu, “Belum bisa, sih. Tapi aku ingin mencoba, bisa?”
“Tidak masalah. Pengunjung yang belum bisa menaiki kuda akan dipandu 3 groomer yang sudah berpengalaman dalam hal mengendalikan kuda,” lanjutku.
Zack dan Ayesha berlari menuju Istal, istilah untuk kandang kuda, tempat kuda beristirahat, makan, dan tidur, dengan sekat-sekat pemisah. Dari jauh aku mengawasi, memastikan keduanya aman. Kuda-kuda yang ada di Mangkujo cukup terawat dan sudah terlatih untuk bisa ditunggangi, jadi aman. Kualitasnya juga bagus, bahkan menurut salah seorang pengelola yang kami temui, ada 1 dari 6 ekor kuda yang ada pernah ikut serta dalam kejuaraan Pekan Olahraga Nasional.
Sambil menunggu Zack dan Ayesha yang mencoba naik kuda, aku berjalan mengelilingi area school riding … pelatihan untuk menaiki kuda.
“Ini tarifnya berapa?” tanyaku pada seorang pelatih yang sedang memandikan kuda.
“Murah tarifnya, 1 paket 3 kali pertemuan bertarif 500 ribu untuk pelatihan dasar,” jawabnya ramah. Aku mengangguk, melanjutkan mengelilingi.
“Mau ikut pelatihan?” tanya pelatih itu lagi, aku tersenyum … menggeleng sungkan.
“Ada juga memanah, kalau mau sewa hanya 5 ribu tarifnya untuk 5 anak panah,” lanjut pelatih berbadan kekar itu.
“Barangkali untuk putranya, biasanya untuk memanah yang banyak berminat, kalangan anak-anak sekitar usia siswa SD dan SMP.”
Baru hendak menjawab, Ayesha muncul dengan wajah memerah, terlihat gembira dan puas. Napasnya sedikit terengah, tapi tidak mengurangi bahagia yang terpancar. Zack menyusul di belakang, lucu juga membayangkan pasangan beda umur ini, seperti pasangan ABG yang sedang bucin. Tapi bukankah cinta tak memandang usia? Atau usia hanya sekadar angka bagi yang sedang jatuh cinta? Entahlah …
“Wah, seru juga ternyata,” seru Zack
“Benar. Aku mau lagi,” timpal Ayesha.
“Kita makan dulu!” ajakku, berjalan mendahului menuju resto dengan konsep bangunan Joglo yang kerap disewa pengunjung untuk berbagai acara.
Restoran Mangkujo ini tidak terlalu besar, tapi memiliki ciri khas yang identik dengan nuansa tradisional. Aku memilih tempat lesehan, memesan menu bebakaran yang berisi nasi lengkap dengan ayam bakar, sambal, dan lalapannya. Minumnya es teh manis. Makanan yang kupesan cukup sederhana, tapi aku yakin kedua bule itu bisa menikmatinya.
Sambil menunggu makanan dihidangkan, Zack dan Ayesha mengobrol, saling bertukar info. Zack terlihat antusias menceritakan pengalamannya melakukan eksplorasi ke candi-candi yang lebih dulu di kunjunginya. Ayesha berkali-kali mengungkapkan kekesalannya karena baru bergabung hari ini dan tertinggal jauh. Lucunya dia menyalahkan Bhaskoro yang terlambat mengenalkan padaku. Padahal pertemuan itu terjadi tanpa sengaja, kan? Tanpa direncanakan, tanpa janji sebelumnya. Aku hanya menggelengkan kepala. Ada-ada saja gadis ini.











