Beranda / Genre / Romansa / 14. Pesta Yennaer

14. Pesta Yennaer

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
1
This entry is part 15 of 32 in the series Sebiru Langit Casablanca

Karima menjalani kehidupannya dengan penuh bahagia bersama ayah dan juga neneknya di Casablanca. Dia mengajar di salah satu sekolah dasar di kota indah itu. Karima sangat menyukai anak-anak. Bersama mereka dia merasakan adanya ikatan kuat tidak hanya sebagai guru dan murid, tetapi juga sebagai teman dan adik. Karima tidak segan-segan  menyempatkan waktunya untuk menemani mereka di tengah-tengah kesibukannya.

“Bu Guru, apakah minggu depan kita jadi pergi liburan?” salah seorang muridnya bertanya. Gadis kecil berambut panjang yang diikat  dengan pengikat rambut warna-warni itu sesekali menggoyangkan rambutnya.

“Iya,tentu saja. Kalian mau ke mana?”

“Ke tempat biasa,Bu Guru.”

Mata bulat Karima terbelalak. Dia penasaran mengapa murid-muridnya sangat suka ke tempat itu?

“Mengapa kalian ingin ke sana?”

“Di sana  kami bisa bermain salju. Bukankah Bu Guru sering ke Ifrane?”

“I-iiya, aku sering ke sana,”jawab Karima sembari tersenyum.

Ingatan Karima melayang pada kawan singkat masa kecilnya, Yazid, yang beberapa waktu lalu juga bersamanya, bahkan sempat melamarnya di hadapan orang tuanya. Tetapi, Karima belum bisa memberikan jawaban pasti atas semua itu.

Yazid dan Huwaida  telah pulang ke Malaga. Kini dia tengah sibuk melanjutkan tugas-tugasnya. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya pekerjaan pemuda itu. Yazid sudah melepaskan diri dari kerjasama dengan perusahaan Leon yang kini dialihfungsikan sebagai yayasan kemanusiaan di bawah pengawasan Youssef.

***

Pesta tahun baru Amazigh, atau Yennayer, atau pesta musim panen akan berlangsung lusa. Nouhaila kembali mengajak Karima ke rumah neneknya di desa. Di sana mereka akan merayakannya kembali seperti sebelumnya. Nouhaila berkata bahwa pesta Yennayer kali ini akan lebih meriah dengan kedatangan beberapa orang penting.

“Kata nenek dan juga anggota keluargaku lainnya di sini, ada seorang donatur yang sering menyumbang tanpa mau menyebutkan namanya. Orang itulah yang membantu meningkatkan taraf hidup warga di sini dengan membuka lembaga ketrampilan gratis.”

“Semoga Allah membalas kebaikannya dengan kebaikan pula.”

Nouhaila dan Karima ikut membantu mempersiapkan segala sesuatunya sebelum acara dimulai. Mulai dari mengolah makanan hingga membersihkan rumah. Yang jelas, mereka akan bergembira lagi.

“Kau akan terlihat sangat cantik dengan baju tradisional ini, Karima.” Nouhaila memakaikan Karima busana tradisional dan memakaikan juga pernak-perniknya. Gadis itu terlihat semakin cantik.

“Pasti akan banyak pemuda yang melirikmu nanti, Karima,” goda  Nouhaila. Membuat wajah Karima seketika memerah karena malu.

“Ah! Kau bisa saja!”

“Emm… bagaimana mana dengan teman priamu yang kau temui di Ifrane?”

“Siapa?”

“Teman masa kecilmu yang singkat. Lalu kalian bertemu kembali saat di Prancis.”

“Oh, Yazid? Dia sudah kembali ke Malaga. Entahlah, dia akan datang atau tidak. Aku tidak tahu.”

“Kau merindukannya?”

Karima merasa sedikit kesal dengan pertanyaan Nouhaila. “Huh! Nouhaila! Ayo kita segera bersiap!”

” Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”

“Adakah pertanyaan selain itu?”

“Aku hanya ingin tahu.”

Karima berjalan menuju tempat yang dulu pernah didatanginya bersama Nouhaila. Beberapa pasang mata memandang ke arahnya dengan kagum.

“Gadis itu cantik sekali,” bisik seorang wanita kepada teman di sampingnya.

Karima tidak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian di situ. Dia ikut membaur bersama orang-orang. Ikut menari dan bersenang-senang. Dari jarak beberapa meter, seseorang memperhatikan Karima dengan saksama hingga acara itu berakhir.

Tak sadar jika dirinya diperhatikan seseorang. Karima  terus saja bercengkrama dengan anak-anak lain.  Sementara sangat pengagum misterius masih saja memperhatikannya.

**

“Ayah, apakah ayah akan kabulkan jika aku meminta sesuatu?”

Hicham berpikir sejenak. “Tentu saja ayah akan kabulkan dan menurutimu.”

“Baiklah, Ayah.”

“Katakanlah, Nak. Demi kebahagiaanmu, apapun akan ayah perjuangkan.”

“Sungguh?”

“Iya, tentu saja. Katakanlah!”

“Aku ingin ke Ifrane lagi, mengingat masa kecilku saat ibu masih ada.”

“Baiklah. Dengan siapa kau ke sana?”

“Nouhaila dan beberapa teman.”

“Tentu saja boleh, Nak. Pergilah!”

“Terima kasih, Ayah.”

Sebiru Langit Casablanca

3. Kuingin Bersamamu 5. Salju di Ifran

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *